Cincin Saturnus Dulu Tak Ada dan Bakal Hilang di Masa Depan

CNN Indonesia | Senin, 21/01/2019 07:37 WIB
Cincin Saturnus Dulu Tak Ada dan Bakal Hilang di Masa Depan Planet Saturnus dan cincinnya (REUTERS/NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saturnus diperkirakan dahulu tidak bercincin. Cincin yang sekarang melingkari planet itu diprediksi baru terbentuk di kemudian hari setelah planet itu ada. Para peneliti memperkirakan umur cincin ini tak lebih dari 100 juta tahun dan mungkin usianya berkisar 10 juta tahun. Sementara umur Saturnus sendiri adalah 4,5 miliar tahun.

Cincin Saturnus juga diperkirakan nantinya bakal menghilang. Sebab, dari hasil perhitungan data yang diberikan pesawat antariksa Cassini, serpihan es yang mengelilingi planet itu sedikit demi sedikit tertarik jatuh ke permukaan Saturnus. Sehingga, kemungkinan 100 juta tahun kemudian cincin ini tak lagi ada.

Dengan mengamati kekuatan gravitasi yang menjaga cincin tetap mengorbit, para peneliti bisa memperkirakan massa cincin itu. Massanya diperkirakan 40 persen dari bulan Saturnus, Mimas. Mimas sendiri sangat kecil, 2000 kali lebih kecil dari Bulan. Sehingga peneliti menduga cincin Saturnus terdiri dari material yang relatif kecil, seperti dikutip dari situs NASA.


Terungkapnya massa Saturnus membuat peneliti bisa memperkirakan umur cincin itu. Sebelumnya, para peneliti berdebat apakah cincin Saturnus terbuat dari debu es dan terbentuk ketika planet itu ada sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Pendapat lain menyebut kalau umur cincin itu lebih muda dan terbentuk ketika gravitasi Saturnus menangkap komet atau objek Sabut Kuiper dan menghancurkannya sehingga menjadi serpihan yang mengitari planet.

"Tidak ada material berukuran masif yang tersembunyi di cincin (Saturnus)," jelas Philip Nicholson, ilmuwan planet dari Cornell University dan salah satu penulis studi itu. "Cincin saturnus hampir semuanya murni dari es," jelasnya lagi seperti dikutip NPR

Perkiraan ini didapat dari hasil observasi terakhir yang dilakukan misi luar angkasa Cassini. Pesawat luar angkasa itu telah 13 tahun mengitari Saturnus sebelum akhirnya menyelesaikan misi dan menjatuhkan diri di permukaan planet itu. Namun, sebelum terjun bebas, Cassini melakukan putaran satu kali diantara Saturnus dan cincinnya.

Ilmuwan juga menggunakan data Cassini untuk memahami pemukaan dan komposisi planet Saturnus. Mereka menemukan adanya angin yang bertiup kencang di atmosfer Saturnus. Angin ini sulit diamati dari luar angkasa. Fenomena ini juga yang menjelaskan fluktuasi gravitasi antara planet itu dengna cincinnya.

Awan di sekitar khatulistiwa Saturnus berputar empat persen lebih cepat dari awan yang berada di lapisan di kedalaman sekitar 9.600 kilometer. Peneliti menyebut hal ini bisa menjelaskan lebih jauh tentang interior Saturnus.

"Lapisan dalam yang berputar ini adalah temuan yang mengejutkan dan membuka soal struktur dalam planet," jelas Linda Spilker, ilmuwan proyek Cassini, di Laboratorium Propulsion NASA, seperti dikutip Digital Trend. (eks/eks)


BACA JUGA