ANALISIS
Aksi Mahasiswa, Ketukan Jari di Medsos Berujung Jadi Aksi
Eka Santhika | CNN Indonesia
Jumat, 27 Sep 2019 16:44 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi mahasiswa punya peran sentral untuk menyuarakan penolakan atas sejumlah RUU yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Pada peristiwa awal pekan ini, mereka berhasil menggulung gelombang gerakan di media sosial untuk menyulut kesadaran masyarakat, hingga aksi turun ke jalan untuk mengganyang perhatian pemerintah.
"Tren percakapan di semua kanal, awalnya landai. Selama ini memang publik belum paham bahaya RUU KUHP. Namun, sejak 19 September situasi berubah. Naik pesat. Didorong oleh gerakan #MahasiswaBergerak," jelas Ismail Fahmi pengamat media sosial di Drone Emprit dalam cuitannya akhir pekan lalu, seperti dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Rabu (25/9).
Tagar #MahasiswaBergerak menurut Ismail membantu memviralkan isu RKUHP yang sebelumnya tersebar dalam berbagai tagar. Platform media sosial yang dijadikan ujung tombak bergulirnya isu ini adalah Twitter dan disusul dengan media online.
Dari grafik tampak pergerakan meningkatnya cuitan mengenai isu RKUHP dekat beririsan dengan meningkatnya tagar #MahasiswaBergerak.
"Dari perbandingan tren tagar #MahasiswaBergerak dengan RUU KUHP, terlihat jelas bahwa tanpa adanya gerakan mahasiswa, RUU KUHP akan tetap landai dan tak terdengar oleh publik," lanjutnya.
Isu RKUHP terangkat oleh mahasiswa lantaran ada lonjakan isu RKUHP setelah tagar Mahasiswa Bergerak muncul. Terkereknya pembicaraan RKUHP menurutnya lantaran #MahasiswaBergerak ikut menyuarakan soal RKUHP.
Tagar Mahasiswa Bergerak sendiri mencapai puncak pada Sabtu (20/9) dengan 223 ribu mention. Lantas muncul tagar #GejayanMemanggil. Menurut Ismail, kedua tagar ini memiliki hubungan. Namun, dari segi volume, tagar #GejayanMemanggil sebenarnya jauh lebih kecil dari Mahasiswa Bergerak.
[Gambas:Twitter]
Ketika dihubungi terpisah, peneliti Drone Emprit Hari Ambari menyebut gema #GejayanMemanggil dan #MahasiswaBergerak berasal dari dua kelompok berbeda. Sebab, dari hasil analisis Drone Emprit, dua tagar ini digaungkan oleh cluster berbeda.
"(Terlihat dari) cluster yang terbentuknya, kalau sangat rapat berarti orangnya itu-itu saja," jelas Hari lewat sambungan telepon, Kamis (27/9).
Sementara pada gambar cluster Drone Emprit tampak dua kelompok itu terpisah. Hal ini ditandai dengan cluster yang membicarakan #GejayanBergerak pada titik-titik berwarna oranye. Mereka terpisah dari pembawa isu #MahasiswaBergerak yang ditandai dengan titik biru. Ramainya dua tagar ini lantas mengundang banyak aksi mahasiswa yang memprotes RKUHP dan sejumlah perundangan lainnya.
Media Sosial untuk Gerakan Massa
Melihat fenomena ini, tak dapat dipungkiri peran media sosial dalam mengangkat isu tertentu, mobilisasi, hingga membuat perubahan sosial. Mengutip jurnal Mengukur Gerakan Sosial Lewat Media Sosial, Carney N. menyebut media sosial bisa membantu pembentukan diskusi pada isu politik tertentu.
Hari menyebut media sosial memang kerap digunakan untuk memobilisasi massa. Terdapat dua aksi yang bermula dari media sosial yang cukup menonjol. Pertama aksi mahasiswa kemarin dan aksi 212 pada akhir tahun lalu. Ketika ditanyakan, Hari menyebut ada sedikit perbedaan pola di media sosial antara kedua aksi ini.
(Bersambung ke halaman berikutnya, Beda aksi 212 dan aksi mahasiswa di media sosial)
[Gambas:Video CNN]
"Tren percakapan di semua kanal, awalnya landai. Selama ini memang publik belum paham bahaya RUU KUHP. Namun, sejak 19 September situasi berubah. Naik pesat. Didorong oleh gerakan #MahasiswaBergerak," jelas Ismail Fahmi pengamat media sosial di Drone Emprit dalam cuitannya akhir pekan lalu, seperti dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Rabu (25/9).
Tagar #MahasiswaBergerak menurut Ismail membantu memviralkan isu RKUHP yang sebelumnya tersebar dalam berbagai tagar. Platform media sosial yang dijadikan ujung tombak bergulirnya isu ini adalah Twitter dan disusul dengan media online.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tren tagar #MahasiswaBergerak periode 13-20 September 2019 (Screenshot via situs Drone Emprit) |
"Dari perbandingan tren tagar #MahasiswaBergerak dengan RUU KUHP, terlihat jelas bahwa tanpa adanya gerakan mahasiswa, RUU KUHP akan tetap landai dan tak terdengar oleh publik," lanjutnya.
Tagar Mahasiswa Bergerak sendiri mencapai puncak pada Sabtu (20/9) dengan 223 ribu mention. Lantas muncul tagar #GejayanMemanggil. Menurut Ismail, kedua tagar ini memiliki hubungan. Namun, dari segi volume, tagar #GejayanMemanggil sebenarnya jauh lebih kecil dari Mahasiswa Bergerak.
[Gambas:Twitter]
Ketika dihubungi terpisah, peneliti Drone Emprit Hari Ambari menyebut gema #GejayanMemanggil dan #MahasiswaBergerak berasal dari dua kelompok berbeda. Sebab, dari hasil analisis Drone Emprit, dua tagar ini digaungkan oleh cluster berbeda.
"(Terlihat dari) cluster yang terbentuknya, kalau sangat rapat berarti orangnya itu-itu saja," jelas Hari lewat sambungan telepon, Kamis (27/9).
Sementara pada gambar cluster Drone Emprit tampak dua kelompok itu terpisah. Hal ini ditandai dengan cluster yang membicarakan #GejayanBergerak pada titik-titik berwarna oranye. Mereka terpisah dari pembawa isu #MahasiswaBergerak yang ditandai dengan titik biru. Ramainya dua tagar ini lantas mengundang banyak aksi mahasiswa yang memprotes RKUHP dan sejumlah perundangan lainnya.
Pada gambar, cluster berwarna oranye adalah pendukung tagar #GejayanMemanggil, sementara cluster berwarna biru adalah pendukung #MahasiswaBergerak (screenshot via Drone Emprit) |
Media Sosial untuk Gerakan Massa
Melihat fenomena ini, tak dapat dipungkiri peran media sosial dalam mengangkat isu tertentu, mobilisasi, hingga membuat perubahan sosial. Mengutip jurnal Mengukur Gerakan Sosial Lewat Media Sosial, Carney N. menyebut media sosial bisa membantu pembentukan diskusi pada isu politik tertentu.
Hari menyebut media sosial memang kerap digunakan untuk memobilisasi massa. Terdapat dua aksi yang bermula dari media sosial yang cukup menonjol. Pertama aksi mahasiswa kemarin dan aksi 212 pada akhir tahun lalu. Ketika ditanyakan, Hari menyebut ada sedikit perbedaan pola di media sosial antara kedua aksi ini.
(Bersambung ke halaman berikutnya, Beda aksi 212 dan aksi mahasiswa di media sosial)
[Gambas:Video CNN]
Dari Ketukan Jari, Jadi Letupan Aksi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Tren tagar #MahasiswaBergerak periode 13-20 September 2019 (Screenshot via situs Drone Emprit)
Pada gambar, cluster berwarna oranye adalah pendukung tagar #GejayanMemanggil, sementara cluster berwarna biru adalah pendukung #MahasiswaBergerak (screenshot via Drone Emprit)
Aksi para mahasiswa di media sosial berujung menjadi aksi demonstrasi turun ke jalan yang didukung oleh massa yang besar (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)