Ahli Temukan Bakteri Bantu Hewan Kembali ke Tempat Kelahiran

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 11:45 WIB
Bakteri magnetotaktik yang bisa membuat beberapa hewan memiliki 'indra keenam' untuk kembali ke tempat mereka dilahirkan. Buruk jalak Bali. (Foto: istock/mchake)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti dari Universitas Florida Tengah mengungkap misteri bakteri magnetotaktik yang bisa membuat beberapa hewan memiliki 'indra keenam'. Indra keenam ini digunakan hewan-hewan untuk kembali ke tempat mereka dilahirkan.

Bakteri magnetotaktik adalah jenis bakteri yang pergerakannya dipengaruhi oleh medan magnet, termasuk bumi. Hewan yang 'dibantu' bakteri untuk memiliki kemampuan tersebut adalah penyu, burung, ikan, dan lobster.

Melansir New Atlas, Selasa (22/9) peneliti Universitas Florida Robert Fitak mengatakan bakteri magnetotaktik menyelaraskan dengan medan magnet menggunakan organel intraseluler khusus yang disebut magnetosom.


Dalam artikel yang baru diterbitkan dalam jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B, Fitak dan rekannya mempresentasikan bukti terbaru untuk mendukung hipotesis bahwa bakteri penginderaan magnet ini berperan dalam bagaimana hewan merasakan medan geomagnetik di sekitarnya.

Kritik paling umum terhadap hipotesis bakteri penginderaan magnetik adalah kurangnya bukti yang menunjukkan adanya bakteri magnetotaktik dalam sampel jaringan hewan.

Mengatasi kritik ini, artikel baru menggali basis data metagenomik besar untuk menunjukkan bahwa jejak genetik bakteri magnetotaktik dapat dideteksi pada banyak spesies hewan.

Fitak mengemukakan sejumlah jenis bakteri magnetotactic dapat dideteksi pada spesies hewan yang diduga memiliki kemampuan magnetoreceptive. Paus sikat Atlantik, penyu tempayan, dan kelelawar coklat semuanya ditemukan memiliki jenis bakteri penginderaan medan magnet.

Artikel baru tersebut juga mengutip dua studi terbaru yang melaporkan bukti empiris pertama yang menunjukkan bakteri secara langsung mempengaruhi indra magnetis suatu organisme.

Studi pertama telah diterbitkan di jurnal Nature Microbiology menemukan jenis mikro-organisme tertentu yang dikenal sebagai protista laut, secara simbiosis memperoleh indra magnetiknya langsung dari bakteri magnetotaktik.

Studi kedua yang dikutip dalam artikel tersebut menjelaskan eksperimen pemberian antibiotik kepada burung buluh, seekor burung yang diduga mengandalkan indra geomagnetik untuk memandunya dalam migrasi tahunan yang panjang.

Tidak diketahui secara pasti bagaimana bakteri magnetotaktik dapat berkomunikasi dengan organisme inangnya. Bahkan tidak diketahui di mana pada hewan bakteri tinggal untuk memberi efek penginderaan medan magnetnya.

Melansir laman resmi, Max Planck Institute magnetotactic menggunakan miniatur kompas seluler yang terbuat dari rantai magnet nano tunggal, yang disebut magnetosom. Seluruh bakteri diorientasikan seperti jarum kompas di dalam medan magnet.

Sampai saat ini, tidak jelas bagaimana sel mengatur magnetosom menjadi rantai yang stabil, melawan kecenderungan fisiknya mengikuti tarikan magnet. Tetapi dengan menggunakan proses genetika molekuler dan pencitraan, para peneliti dari Max Planck Institute telah mengidentifikasi protein yang bertanggung jawab untuk membuat rantai magnetosom.

Para ilmuwan menunjukkan bahwa protein ini menyelaraskan magnetosom di sepanjang struktur sitoskeletal yang sebelumnya tidak diketahui. Ini menunjukkan bukti bahwa genetika mengatur rantai magnetosom dengan tepat.

Bakteri magnetotaktik tersebar luas di lumpur lingkungan laut. Di bagian dalam selnya, mereka membentuk magnetosom yang disejajarkan menjadi rantai. Bakteri menggunakannya untuk membedakan "naik" dari "bawah" di medan magnet bumi,dan menavigasi diri mereka sendiri untuk menemukan kondisi pertumbuhan yang optimal secara efisien.

Magnetosom terbuat dari kristal kecil magnetit mineral besi magnet dan hanya berukuran sekitar 50 nanometer.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]