Budi Sujatmiko
Dosen muda di Fakultas Kedokteran Unpad. Fokus pada bidang ilmu Epidemiologi dan Biostatistika. Aktif pada penelitian mengenai Tuberculosis di Kota Bandung

KOLOM

Mencari Cakupan Ideal Vaksinasi RI

Budi Sujatmiko, CNN Indonesia | Selasa, 09/02/2021 14:29 WIB
Jika memperhitungkan efikasi vaksin Sinovac, maka target vaksinasi 70-80 persen total penduduk Indonesia dirasa kurang untuk membentuk kekebalan kelompok. Ilustrasi vaksin sinovac yang akan digunakan di Indonesia. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Januari lalu BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat Emergency Use Authorization (EUA) vaksin Sinovac dari China. Izin ini didasari data uji klinis sementara yang dilakukan oleh Unpad dan Biofarma.

Berdasarkan penelitian tersebut, vaksin Sinovac terbukti efektif, aman dan berkhasiat, dengan efektifitas senilai 65 persen, imunogenitas sebesar 99,74 % dan tidak ada efek samping yang berarti selama uji klinis berlangsung.

Secara medis, efikasi vaksin diartikan sebagai persentase pengurangan resiko terjangkit suatu penyakit pada populasi yang divaksin, dibandingkan dengan yang tidak.


Efektifitas dihitung dengan cara mengurangi resiko terkena penyakit pada populasi tanpa vaksin dengan resiko terjangkit penyakit pada populasi tervaksin, kemudian dibagi dengan resiko terkena penyakit pada populasi tanpa vaksin.

Semakin besar persentase pengurangan resiko penyakit pada grup yang divaksin, semakin besar efektivitas yang didapatkan.

Misalnya saja seperti ini. Dari 1.600 relawan, terdapat 18 orang yang positif Covid-19 dari kelompok yang tidak divaksin, lalu ada 7 relawan yang positif Covid-19 dari kelompok divaksin. Maka efikasinya akan didapatkan 65 persen. Ini merupakan proporsi pengurangan penyakit pada grup tervaksinasi.

Angka ini juga bisa diartikan risiko terjangkit Covid-19 berkurang 65 persen pada populasi yang divaksin. Hasil ini cukup baik dan telah memenuhi ambang batas efikasi vaksin dari WHO senilai 50 persen.

Dari segi imunigenitas, vaksin juga memiliki hasil sangat baik, yaitu 99,74 persen. Artinya, hampir seluruh relawan yang mengikuti uji klinis memiliki antibodi Covid-19. Temuan ini sangat penting karena antibodi adalah unsur utama dalam sistem kekebalan tubuh yang berperan melawan virus Covid-19 yang masuk ke tubuh.

Perlu diingat pula, dalam beberapa kasus infeksi covid-19, ada pasien yang tidak dapat membentuk antibodi, atau levelnya tidak mencukupi untuk melawan virus covid-19 di kemudian hari.

Pakar vaksin dari UNPAD, Prof Cissy Kartasasmita,dr.,Sp.A(K), MSc., PhD mengatakan bahwa: "Jika vaksin A memiliki efikasi 70% dan vaksin B memiliki efikasi 90%, bukan berarti vaksin B lebih baik dari vaksin A."

"Dengan efikasi yang tinggi, maka cakupan rasio vaksinasi bisa dilakukan tidak terlalu tinggi. Tapi kalau efikasinya tidak terlalu tinggi, maka cakupan vaksinasinya harus lebih besar."

"Tapi bukan berarti satu lebih baik dari yang lain. Selama efikasi di atas 50 % sesuai rekomendasi WHO, dan badan POM sudah mengeluarkan izin penggunaan, maka saya tegaskan vaksin tersebut aman untuk digunakan."

Dalam konsep kekebalan komunitas atau herd immunity, penyebaran atau transmisi penyakit sendiri dapat dihentikan jika mayoritas populasi telah kebal terhadap suatu penyakit.

Program vaksinasi saat ini dimaksudkan untuk membuat sebagian besar masyarakat kebal terhadap virus Covid-19. Namun, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan berkaitan dengan konsep ini.

Angka reproduksi atau kemampuan penyakit untuk menular pada orang lain dan efikasi vaksin adalah dua hal penting yang perlu diperhatikan. Dua hal ini sangat penting dalam menentukan proporsi dan jumlah penduduk yang harus divaksinasi.

Berdasarkan referensi, rumus yang digunakan untuk menghitung proporsi populasi untuk mendapatkan kekebalan komunitas adalah "[1 - 1/Ro]/ɛ".

"Ro" merujuk pada angka reproduksi penyakit dan "ɛ" adalah efikasi dari suatu penyakit.

Dari teori tersebut, terlihat bahwa efikasi vaksin berbanding terbalik dengan cakupan vaksinasi dan dipengaruhi pula oleh angka reproduksi. Semakin besar efikasi vaksin, maka semakin sedikit target cakupan vaksinasi.

Dengan asumsi bahwa angka reproduksi Covid-19 sebesar 2,5 sampai 3,5 dan jika efikasi vaksin sebesar 100%, maka total populasi yang harus divaksinasi adalah 60-72%.

Namun, jika kita asumsikan bahwa angka reproduksi sebesar 2,5 sampai 3,5 dan efikasi vaksin sebesar 80% maka target populasi yang harus dicapai sebesar 75-90%.

Berkaitan dengan hal ini, jika pemerintah hanya akan menggunakan vaksin Sinovac sebagai vaksin utama dalam memerangi wabah Covid-19 dengan efikasi sebesar 65%, maka perlu evaluasi target atau cakupan vaksinasi yang sangat mendasar.

Target vaksinasi 70-80% total penduduk Indonesia dirasa masih kurang untuk membentuk kekebalan komunitas. Target ini masih dapat berubah terutama jika vaksin tidak dapat memberikan kekebalan yang permanen.

Oleh sebab itu, pemerintah harus bekerja keras dan melibatkan seluruh stakeholder untuk meningkatkan cakupan vaksinasi lebih dari target saat ini.

Hal lain yang penting untuk diingat adalah masih ada kemungkinan orang yang mendapat vaksin dapat terinfeksi Covid-19. Hal ini terjadi karena beberapa hal seperti: terinfeksi saat proses kekebalan belum sepenuhnya terjadi, ataupun memang sudah terinfeksi sebelum proses vaksinasi terjadi.

Oleh karena itu , penting untuk tetap menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin seperti selalu mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan memakai masker. Sehingga resiko infeksi dan penularan wabah ini dapat diminimalkan.

(vws)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK