Vaksin AstraZeneca Cuma Ampuh 10 Persen Lawan Varian Afsel

CNN Indonesia | Selasa, 09/02/2021 13:28 WIB
Vaksin Astrazeneca hanya menawarkan sedikit perlindungan terhadap pasien Covid-19 hasil mutasi dengan infeksi ringan hingga sedang. Ilustrasi vaksin AstraZeneca respons mutasi corona Afrika Selatan. (AP/John Cairns)
Jakarta, CNN Indonesia --

Vaksin Covid-19 AstraZeneca dilaporkan hanya manjur atau efektif 10 persen terhadap varian virus corona Afrika Selatan. Uji coba skala kecil menunjukkan bahwa vaksin yang bekerjasama dengan Universitas Oxford itu menawarkan sedikit perlindungan terhadap pasien Covid-19 dengan infeksi ringan hingga sedang.

Hasil tersebut bertolak belakang dengan kemampuan vaksin Pfizer-BioNTech. Dalam penelitian laboratorium, vaksin Pfizer diklaim memberikan perlindungan substansial terhadap seseorang yang terinfeksi varian yang dikenal sebagai B .1.351.

Melansir The Guardian, ilmuwan Universitas Witwatersrand melakukan studi kecil pada 2.000 orang berusia 31, yang cenderung tidak sakit parah untuk mengetahui kemanjuran vaksin Oxford.


Peneliti Shabir Madhi mengatakan studi kecil itu dirancang untuk fokus dalam menentukan apakah vaksin tersebut memiliki setidaknya 60 persen kemanjuran terhadap Covid pada tingkat keparahan apa pun.

"Hasil yang kami gambarkan sekarang terhadap varian, perkiraan poinnya adalah 10 persen. Jelas, itu jauh dari angka 60 persen," ujar Madhi.

"Hasil studi ini memberi tahu kami adalah bahwa dalam demografi kelompok usia yang relatif muda, dengan prevalensi morbiditas yang sangat rendah seperti hipertensi dan diabetes dan lain-lain, vaksin tidak melindungi terhadap infeksi ringan hingga sedang," ujarnya.

Saat ini, para ilmuwan berharap vaksin Oxford memberi perlindungan bagi pasien yang terinfeksi varian Afsel dengan kondisi parah. Harapan itu muncul setelah vaksin Johnson & Johnson, yang menggunakan teknologi serupa dengan vaksin Oxford mampu memberi perlindungan hingga 60 persen.

"Masih ada beberapa harapan bahwa vaksin AstraZeneca dapat bekerja sebaik vaksin Johnson & Johnson dalam demografi usia berbeda yang memiliki risiko tertinggi penyakit parah," kata Madhi.

Melansir New York Times, peserta uji klinis yang dievaluasi relatif muda dan tidak mungkin menjadi sakit parah, sehingga tidak mungkin bagi para ilmuwan untuk menentukan apakah varian tersebut mengganggu kemampuan vaksin AstraZeneca-Oxford untuk melindungi terhadap Covid-19 yang parah, rawat inap atau kematian.

Namun, berdasarkan tanggapan kekebalan yang terdeteksi dalam sampel darah dari orang yang diberi vaksin, para ilmuwan mengatakan mereka yakin bahwa vaksin tersebut masih dapat melindungi dari kasus yang lebih parah.

Jika penelitian lebih lanjut menunjukkan hal itu, pejabat kesehatan Afrika Selatan mengatakan mereka akan mempertimbangkan untuk melanjutkan penggunaan vaksin Oxford.

Seperti Oxford, Moderna juga mengatakan bahwa studi laboratorium awal menunjukkan bahwa vaksin mereka, meski masih bersifat protektif, kurang efektif terhadap B.1.351.

Melansir Reuters, pemerintah Afsel menghentikan sementara uji vaksin corona buatan AstraZeneca karena dinilai tidak mempan terhadap virus jenis mutasi. Hasil uji klinis menemukan bahwa vaksin itu tidak mempan untuk pasien infeksi varian Covid-19 501Y.V2 yang mengalami gejala ringan hingga sedang.

Jenis virus corona yang bermutasi itu diketahui menyebabkan lonjakan kasus infeksi dan gelombang kedua wabah di Afsel.

Di sisi lain, pemerintah Inggris menyatakan varian virus corona Covid-19 di Inggris kembali bermutasi. Menurut yang dinamakan E484K sama dengan yang ditemukan pada varian SARS-CoV-2 di Brasil dan Afsel.

Mutasi E484K disebut dapat mengurangi kemampuan antibodi tertentu dalam menonaktifkan virus sebelum dapat menginfeksi sel. Namun, masih ada kemungkinan mutasi E484K dalam varian Inggris tidak membuat virus menjadi lebih menular dan resisten terhadap vaksin.

(jps/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK