Tidak hanya minyak, badan usaha milik negara di bidang minyak dan gas bumi (migas) tersebut juga meningkatkan target produksi gas menjadi 1.667,59 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau naik 7 persen ketimbang tahun lalu di kisaran 1.554,25 MMSCFD.
“Harga minyak dunia memang trennya sedang turun. Namun kami memiliki misi mengamankan cadangan minyak dalam rangka ketahanan energi,” ujar Dwi Soetjipto di Jakarta, Selasa (20/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Efisiensi ini mulai dari memperpendek rantai bisnis, sentralisasi procurement hingga penurunan losses," ujar Dwi.
Pertamina juga berencana membangun sejumlah infrastruktur untuk menampung lebih banyak lagi Liquified Natural Gas (LNG), serta meningkatkan kapasitas produksi lima kilang pengolahan minyak yang dioperasikannya.
"Sementara untuk strategi kelima, Kami juga akan menyelamatkan cash flow perseroan dengan mengoptimalkan cash management," tutur Dwi.
Laba Terpangkas 50 Persen
Sebelumnya Arief Budiman, Direktur Keuangan Pertamina menyebut penurunan harga minyak dunia yang terjadi saat ini sebagai krisis.
“Penurunan harga minyak mentah itu luar biasa. Pada kuartal III 2014 lalu harganya masih di US$ 100 per barel, sekarang sekitar US$ 51 per barel. Maksudnya dari sisi potensi profit, penurunan ini bisa 40 persen sampai 50 persen,” ujar Arief, dikutip dari situs resmi Pertamina.
Arief menyebut, satu-satunya yang diuntungkan dari penurunan harga minyak mentah dunia adalah masyarakat yang notabene pembeli dari produk bahan bakar minyak (BBM) di sektor hilir. Semakin dalam penurunan harga minyak, maka harga jual BBM jenis premium, solar, pertamax, dan BBM non-subsidi lainnya bisa semakin murah harganya.
“Bagi masyarakat umum atau konsumen tentunya hal ini bagus karena harga BBM jadinya bisa turun dan inflasi pun semestinya turun. Namun buat energy company seperti Pertamina walaupun kita lebih besar di hilir, tetap saja profit itu datang dari sektor hulu,” kata Arief.
Untuk menjaga tingkat profitabilitas tersebut, Arief mengatakan Pertamina mau tidak mau harus mengelola seluruh biaya-biaya operasional dan investasi dengan lebih ketat. Mantan bos PT McKinsey Indonesia tersebut meminta investasi apapun yang dikeluarkan perseroan harus membuahkan hasil.
“Kalau harga dan keuntungan lagi naik, kita lebih loose-lah. Tetapi sekarang kita harus me-review lagi proses-proses bisnis, melakukan pengendalian keuangan dan investasi, mulai dari yang besar sampai yang kecil-kecil. Jadi kalau nanti perusahaan lebih ketat dalam pengendalian biaya, bukannya berarti kita mau asal ketat. Tetapi memang tuntutan bahkan kewajiban agar perusahaan tetap sehat,” tegasnya. (gen)