Rupiah Loyo, Rating Perusahaan Pembiayaan Masih Aman

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 17/03/2015 13:30 WIB
Pefindo menilai, perusahaan-perusahaan pembiayaan kendaraan sudah melakukan antisipasi terhadap kecukupan modal akibat melemahnya permintaan. Pekerja mengecek mobil-mobil yang akan diekspor ke berbagai negara di Tanjung Priok Car Terminal, Jakarta Utara, Rabu, 16 Desember 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengatakan bahwa kinerja perusahaan pembiayaan kendaraan yang lesu akibat pelemahan rupiah tidak mempengaruhi peringkat perusahaan tersebut, baik dari segi rating perusahaan maupun peringkat obligasi.

Pefindo menilai, perusahaan-perusahaan pembiayaan kendaraan sudah melakukan antisipasi terhadap kecukupan modal akibat melemahnya permintaan.

"Jelas sekali pelemahan rupiah akan berdampak pada konsumen, namun selama sumber pendanaan baik, hal tersebut tidak akan memengaruhi peringkat perusahaannya," ujar Senior Vice President Financial Division Pefindo, Hendro Utomo di Bursa Efek Indonesia, Selasa (17/3).


Ia juga menambahkan bahwa depresiasi rupiah tidak begitu berdampak buruk bagi perusahaan mengingat beberapa perusahaan sudah melakukan langkah antisipasi.

"Upaya-upaya yang mereka lakukan antara lain adalah melakukan hedging dan juga cross currency swap. Selain itu, pendanaan mereka kan kebanyakan pakai rupiah, jadi meskipun harga kendaraan mengikuti nilai tukar, tapi kan pendanaan mereka tidak terpengaruh dolar AS," ujarnya.

Hendro mengatakan bahwa pelemahan rupiah justru akan lebih berdampak pada permintaan kendaraan, yang bisa mengakibatkan pelemahan pertumbuhan pembiayaan. "Kalau rupiah terus melemah, maka ya kemungkinan permintaan pembiayaan bagi kendaraan juga ikut turun," tambahnya.

Pefindo sendiri telah menetapkan peringkat idAA bagi PT Mandiri Tunas Finance untuk periode Maret 2015 hingga Maret 2016 atas faktor fleksibilitas keuangan yang kuat. Sementara itu, Pefindo juga telah memberikan peringkat idAAA bagi PT Adira Dinamika Multi Finance karena berhasil membayar jatuh tempo obligasi yang bertenggat Oktober 2014 pada Januari yang lalu.

Seperti yang telah diketahui, beberapa perusahaan pembiayaan mengalami kelesuan pada tahun lalu, yang dipicu oleh penurunan permintaan kendaraan dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Pertumbuhan laba MTF, misalnya, melambat menjadi sebesar 33 persen pada tahun 2014, atau lebih kecil dari pertumbuhan laba di tahun 2013 yang mencapai 50,43 persen. (gir/gir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK