Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin, Imam Haryono mengatakan kendati dilaksanakan secara cepat, pembangunan Kuala Tanjung tak bisa dilakukan dalam jangka lima tahun. Pasalnya, pembangunan infrastruktur dasar di kawasan industri di pantai barat Sumatera itu terbilang masih belum lengkap, sehingga kemungkinan pembangunan akan memakan waktu lebih dari tujuh tahun.
"Kita sempat ditertawakan oleh forum internasional karena keinginan kita membangun Kuala Tanjung dalam jangka waktu 5 hingga 7 tahun mendatang. Keinginan untuk mempercepat pasti ada, tapi kan ada tahapannya, terlebih infrastruktur dasar di sana belum sempurna," ujar Imam di kantornya, Rabu (22/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kami harapkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di Kuala Tanjung bisa rampung pada akhir tahun ini. Bahkan kami harapkan Detail Engineering Design (DED) juga bisa rampung pada tahun ini, sehingga nantinya tahun depan kita bisa fokus lakukan hal lainnya,"
"Kuala Tanjung kan KPI, sehingga kita harus tahu rencana detil peruntukkannya seperti apa. Bahkan nantinya kita juga akan buat Standar Operasional Prosedur (SOP) belanja modal di kawasan itu. Kami harap pengelolaannya nanti bisa sesuai dengan tata aturan tersebut," tambahnya.
Lebih lanjut, Imam sendiri belum tahu apakah pengelolaan Kuala Tanjung akan dikelola oleh Pemerintah Pusat atau Daerah mengingat kawasan industri ini direncanakan sebagai kawasan yang dikelola oleh pemerintah. Kendati demikian, tak menutup kemungkinan juga industri utama (anchor industry) di Kuala Tanjung bisa ikut mengelola kawasan tersebut.
"Untuk masalah pengelolaannya, kita kini sedang mengkaji berbagai kemungkinannya dibantu oleh Institute For Development of Economics and Finance (Indef). Tak menutup kemungkinan juga PT Inalum bisa ikut membantu pengelolanya, sama seperti PT Unilever Oleochemical Indonesia yang mengelola Sei Mangkei atau Jiangsu yang mengelola Konawe," terangnya.
Sebelumnya, PT Unilever Oleochemical Indonesia menyatakan dalam waktu dekat akan mengurus rencana investasi tersebut sehingga bisa langsung di realisasikan setelah kawasan industri Tanjung Kuala-Sei Mangkei selesai dalam waktu empat tahun ke depan.
“Investasi kami di Sei Mangkei akan menambah total investasi yang telah ditanamkan Unilever di Indonesia. Dalam lima tahun terakhir kami telah berinvestasi sebesar Rp 8,5 triliun untuk mengembangkan pabrik disini,” kata Chief Executive Officer (CEO) Unilever Paul Polman awal tahun ini.
Sebagai informasi, Kawasan Industri Kuala Tanjung adalah kawasan industri yang dikhususkan untuk pengembangan industri aluminium dengan luas lahan 1.000 hektare. Nilai investasi kawasan ini diperkirakan sebesar Rp 4,5 triliun dan diharapkan bisa menarik 113,2 ribu tenaga kerja.
Pada perencanaannya, Kuala Tanjung adalah salah satu dari tiga kawasan industri yang dikelola langsung oleh pemerintah selain Palu dan Bitung. Sedangkan 11 kawasan industri lainnya akan dikelola oleh swasta. (gir/gir)