Saatnya Perbankan Belajar dari Insiden Satelit Telkom
Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, setiap bulannya perusahaan menanggung biasa sewa satelit sebesar Rp2 juta per lokasi.
Saat ini, BCA mengoperasikan 17.210 unit ATM yang tersebar di 11.530 lokasi. Artinya, perusahaan harus merogoh kocek sekitar Rp23 miliar per bulan atau Rp276 miliar per tahun untuk biaya sewa koneksi satelit.
Saat terjadi gangguan Telkom-1, sebanyak 5.700 unit ATM perusahaan tidak bisa beroperasi. Demi menjaga kualitas pelayanan, perusahaan rela menanggung biaya tarik tunai nasabah yang dilakukan di mesin ATM bank lain yang rata-rata sebesar Rp7.500 per transaksi. Kebijakan ini berlaku mulai 26 Agustus hingga 8 September 2017.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya kebijakan ini, Jahja memperkirakan total biaya transaksi yang ditanggung perusahaan mencapai Rp50 miliar hingga Rp70 miliar.
Berbeda dengan BCA yang lebih memilih untuk menyewa satelit, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) memilih untuk memiliki satelit sendiri, BRIsat. Demi satelit ini, perseroan harus merogoh kocek sekitar US$250 juta.
Direktur Operasional BRI Indra Utoyo mengungkapkan dengan memiliki satelit sendiri, perusahaan bisa lebih leluasa menjangkau lebih dari 20 ribu unit ATM dan kantor cabang di seluruh Indonesia, bahkan ke daerah terpencil. Kapasitas transmisi data juga lebih besar dibandingkan yang ditawarkan oleh penyedia VSAT, yaitu mencapai 2 megabyte.
"Dengan adanya BRIsat, kami jadi mempunyai kepastian untuk menjangkau jaringan hingga 15 tahun ke depan," ujar Indra.
Sayangnya, belum seluruh jaringan ATM perseroan dialihkan ke jaringan koneksi BRIsat. Imbasnya, sebanyak 321 unit ATM perseroan yang masih menumpang pada Telkom-1 sempat mengalami putus koneksi.
Untuk memulihkan koneksi itu, perusahaan segera mempercepat proses peralihan koneksi ke BRIsat sebagai jaringan utama dan jaringan cadangan (back-up).