LMAN Sumbang Penerimaan Negara Rp249 Miliar di 2017

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 27/12/2017 19:50 WIB
LMAN mematok kontribusinya terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak di 2017 sebesar Rp65 miliar. Namun, realisasinya malah melesat Rp249,9 miliar. LMAN mematok kontribusinya terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak di 2017 sebesar Rp65 miliar. Namun, realisasinya malah melesat Rp249,9 miliar. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Keuangan melalui Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) mengklaim telah menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebanyak Rp249,9 miliar. Angka ini jauh dari target LMAN yang dipatok sebesar Rp65 miliar.

Direktur LMAN Rahayu Puspasari mengatakan, penerimaan ini didapatkan dari aset-aset yang dikelola oleh instansinya. Adapun, sumbangan PNBP terbesar diperoleh dari aset kilang gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) Bontang yang disewakan kepada PT Badak NGL dengan angka Rp180,06 miliar.

Selain kilang LNG di Bontang, sumbangan terbesar berikutnya datang dari kilang LNG Arun dengan besaran Rp56,96 miliar. Sementara itu, aset Hak Tanggungan Bank Indonesia (HTBI) berupa properti menyumbang Rp12,88 miliar.


“Di sini tugas LMAN adalah mengelola aset-aset negara yang mangkrak dan di sini kami bisa melihat ada potensi aset mangkrak ke penerimaan negara,” jelas Rahayu, Rabu (27/12).

Dari seluruh aset kelolaan LMAN, ia menaruh perhatian pada aset berupa properti. Menurut catatannya, imbal hasil aset properti sebesar Rp12 miliar di tahun pertama diperoleh dari membayar aset sebesar Rp26 miliar.

Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan LMAN untuk mengelola aset properti bisa impas dalam waktu dua tahun saja.

Menurut Rahayu, moncernya imbal hasil aset properti yang dikelola LMAN disebabkan karena tambahan investasi yang dikeluarkan LMAN untuk mendapatkan nilai tambah.

Sebagai contoh, LMAN pernah mendapatkan aset properti berupa ruko dengan kondisi nyaris ambruk senilai Rp26,7 miliar, namun bangunan itu dipugar dan menghasilkan capital gain sebesar Rp201 miliar.

“Di sini, memang kami membantu agar aset yang kami kelola bisa lebih optimal, sehingga menjadi alternatif lain bagi sumber penerimaan negara,” ungkapnya.

Makanya, tak heran jika sumbangan PNBP dari aset properti dipatok sebesar Rp53,07 miliar sepanjang kuartal I 2018 atau melejit 312,03 persen dari realisasi sepanjang 2017.

Meski angkanya cukup agresif, namun Rahayu yakin target tersebut bisa tercapai. Sebab, LMAN masih akan menambah kelolaan aset properti di tahun depan.

Ia mencontohkan, LMAN kini sedang memugar kembali sebuah bangunan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, untuk dijadikan pusat bisnis oleh salah satu lembaga pemerintah.

Kemudian, LMAN juga dijadwalkan mengelola Gedung AA Maramis di kompleks Kementerian Keuangan yang merupakan gedung warisan (heritage) kolonial terluas di Asia Tenggara.

“Selain dari properti, kami juga mengharapkan peningkatan PNBP dari kilang LNG Arun dan Bontang di kuartal I 2018 dengan nilai masing-masing Rp91,2 miliar dan Rp92 miliar,” terang dia.

Di dalam APBNP 2017, penerimaan negara ditargetkan bisa mencapai Rp1.736,06 triliun yang diharapkan bisa mendanai belanja negara sebesar Rp2.133 triliun.

Adapun, penerimaan dari PNBP diharapkan bisa berkontribusi sebesar Rp260,2 triliun terhadap target penerimaan tersebut. (bir)