Laba Bank Danamon Tertekan Demi Perbaiki Kualitas Kredit

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 21/04/2018 17:52 WIB
Laba Bank Danamon Tertekan Demi Perbaiki Kualitas Kredit Laba Bank Danamon tergerus satu persen karena upaya perusahaan memperbaiki kualitas kreditnya. Rasio kredit bermasalah pun turun jadi 3,1 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Laba kuartal I 2018 PT Bank Danamon Indonesia Tbk tergerus sekitar satu persen dari Rp1,05 triliun pada kuartal I 2017 menjadi Rp1,04 triliun. Hal itu terjadi karena perusahaan harus memperbaiki kualitas kreditnya.

Terbukti, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perusahaan melandai. Yakni, dari 3,2 persen pada kuartal I 2017 menjadi 3,1 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Keuangan Bank Danamon Satinder Ahluwalia mengatakan NPL tersebut banyak disumbang oleh segmen kredit mikro bank yang dikenal dengan Danamon Simpan Pinjam (DSP), di mana NPL khusus segmen kredit ini masih berada di angka enam persen pada kuartal I.


"Tapi kalau dilihat secara bulanan, (kredit bermasalah DSP) sebenarnya sudah turun sekitar 40 persen dari tahun kemarin," ujarnya di Menara Bank Danamon, Jumat (20/4).


Lebih lanjut ia menjelaskan, upaya perbaikan NPL DSP dilakukan dengan menggenjot penagihan pembayaran cicilan kredit (collection) kepada debitur sejak setahun terakhir. Bersamaan dengan itu, perusahaan turut menutup sekitar 100 dari 700 outlet DSP pada tahun lalu.

Meski begitu, menurutnya, bank tetap menyalurkan kredit baru untuk segmen DSP. Hanya saja, pemberian kredit dilakukan dengan lebih selektif. "Cabang masih bisa jual DSP, tapi fokus kami untuk DSP dari tahun kemarin memang untuk memulihkan collection dahulu," imbuh dia.

Faktor lain yang menggerus laba perusahaan, yaitu pertumbuhan kredit yang minim. Kredit perusahaan tercatat tumbuh cuma tiga persen dari Rp126,83 triliun menjadi Rp130,18 triliun. Walhasil, pendapatan bunga dari kredit hanya tumbuh sekitar satu persen dari Rp3,55 triliun menjadi Rp3,59 triliun.

Sumbangan penyaluran kredit lebih banyak diberikan oleh segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang tumbuh 12 persen menjadi Rp29,3 triliun dan segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang tumbuh 40 persen menjadi Rp6,6 triliun.


Lalu, ada pula sumbangan dari pembiayaan kendaraan bermotor yang diberikan perusahaan melalui anak usahanya, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance. Tercatat, pembiayaan kendaraan bermotor tumbuh lima persen menjadi Rp46 triliun pada kuartal I 2018.

"Pembiayaan baru dari Adira Finance tumbuh 17 persen untuk kendaraan roda dua dan tumbuh 30 persen untuk kendaraan roda empat. Hal ini didorong oleh industri otomotif yang sudah mulai pulih," jelasnya.

Sejalan dengan aliran kredit yang tidak deras itu, biaya kredit dapat ditekan sekitar empat persen dari Rp831 miliar menjadi Rp798 miliar. Meski, secara keseluruhan beban operasional bank justru meningkat sekitar satu persen dari Rp2,09 triliun menjadi Rp2,11 triliun.

Sementara, pendapatan non bunga (fee based income) menurun sekitar tujuh persen dari Rp851 miliar menjadi Rp795 miliar pada kuartal I 2018. Sedangkan pendapatan operasional turun tipis 0,15 persen dari Rp4,4 triliun menjadi Rp4,39 triliun.


Perusahaan juga mencatatkan penurunan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) dari 21,8 persen pada kuartal I 2017 menjadi 21,6 persen pada kuartal I 2018. Namun, jumlah aset berhasil dikerek sekitar lima persen dari Rp171,14 triliun menjadi Rp179,55 triliun.

Target Kredit Tak Tercapai

Kendati berhasil membukukan pertumbuhan kredit hingga tiga persen pada kuartal I 2018, namun Bank Danamon rupanya masih pesimis dengan target pencapaian kredit secara keseluruhan hingga akhir tahun.

Ahluwalia menyebut bank hanya memproyeksikan pertumbuhan kredit di kisaran 1-2 persen sepanjang tahun ini. Hal ini lantaran portofolio kredit DSP akan sangat terbatas pada tahun ini.


Meski begitu, ia bilang di luar sumbangan kredit ke DSP, Bank Danamon sebenarnya bisa menggenjot pertumbuhan kredit UKM, KPR, dan pembiayaan kendaraan bermotor.

"Kalau di luar pertumbuhan kredit mikro (DSP) mungkin bisa 8-10 persen. Tapi kalau dengan DSP mungkin hanya 1-2 persen," pungkasnya. (bir)