Sri Mulyani Akui Kenaikan Suku Bunga BI Bikin Ekonomi Landai

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 31/05/2018 19:19 WIB
Sri Mulyani Akui Kenaikan Suku Bunga BI Bikin Ekonomi Landai Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia selama dua kali dalam sebulan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.

Bahkan, kebijakan ini bisa membuat pertumbuhan ekonomi tahun ini tak mencapai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yakni 5,4 persen. Hanya saja, ia tak menyebut angka estimasi pertumbuhan ekonomi yang paling optimal.

"Dengan respons kenaikan suku bunga acuan BI, memang konsekuensinya pertumbuhan ekonomi 2018 akan lebih rendah dibanding asumsi APBN," jelas Sri Mulyani di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (31/5).
Namun menurutnya, saat ini menjaga stabilitas ekonomi dipandang lebih penting ketimbang mengejar pertumbuhan ekonomi semata. Tentu salah satu stabilitas yang dikejar pemerintah adalah nilai tukar rupiah yang sejak awal tahun ini terjungkal.


Data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) menunjukkan rupiah melemah 3,02 persen sejak awal tahun ini.

"Disadari bahwa pilihan kebijakan ini membawa risiko pada pencapaian sasaran pertumbuhan jangka pendek, namun langkah ini akan memperkuat pondasi ekonomi guna menjamin keberlangsungan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi beberapa tahun ke depan dalam jangka menengah," ujar dia.

Sebelumnya, pemerintah juga memperkirakan realisasi kurs rupiah terhadap dolar dan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tidak sesuai dengan asumsi awal.
Data Kementerian Keuangan per April 2018 menunjukkan kurs mencapai Rp13.631 per dolar AS, meski asumsinya tercatat Rp13.400. Sementara realisasi ICP tercatat US$64,1 per barel di periode yang sama meski asumsi awalnya US$48 per barel.

Meski demikian, Sri Mulyani tak mau gegabah mengajukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP).

"Nanti kami akan laporkan di laporan semester I. Tentu nanti kami akan laporkan bagaimana realisasi pasal-pasal yang ada di dalam APBN," ujar dia.

Kemarin, BI mengumumkan kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin, sehingga BI 7DRRR tercatat 4,75 persen. Ini merupakan kenaikan suku bunga kedua dalam satu bulan terakhir.
Selain itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) di bawah pimpinan Perry Warjiyo juga menaikkan suku bunga deposit facility rate sebesar 25 basis poin jadi 4 persen dan suku bunga lending facility rate sebesar 25 basis poin sebesar 5,5 persen.

Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya bertengger di angka 5,2 persen saja. Ini lantaran kinerja ekspor-impor yang tak membaik.

Data Badan Pusat Statistik mencatat, impor mencapai US$16,09 miliar sampai April 2018. Padahal, kinerja ekspor hanya US$14,47 miliar pada periode yang sama.

"Faktor yang menurunkan adalah kenaikan impor yang lebih tinggi, sehingga permintaan eksternal bersih (net external demand), khususnya konsumsi itu 4,9 persen. Ini membuat pertumbuhan ekonomi tidak bisa 5,3 persen," ujar Perry, Jumat pekan lalu. (lav/lav)