Pedih Mata Desi, Lala dan 'Pelita' Semangat Terangi Papua

Agus Triyono, CNN Indonesia | Minggu, 07/02/2021 08:04 WIB
Rasio elektrifikasi di Papua meningkat tajam pada periode 2014-2020. Kegembiraan masyarakat Papua menjadi dorongan bagi PLN melistriki Papua. Rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat meningkat pesat pada 2014-2020. Kegembiraan masyarakat Papua dialiri listrik menjadi pelita penyemangat bagi PLN untuk menerangi Papua. Ilustrasi. (Ilustrasi. Dok. Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia --

"Dengan pelita, kami belajar mata pedih, sakit, kena asap merah," begitulah keluh Desi dan Lala, pelajar asal Desa Ampas, Papua seperti dikutip dari video yang diunggah dalam akun youtube Presiden Jokowi pada 2017 lalu.

Pelita memang menjadi satu-satunya sumber penerangan di rumah dan juga kampungnya.

Warga Desa Ampas Paulus Yafok dalam video sama mengatakan pelita memang membuat semua aktivitas masyarakat termasuk pelajar di kampungnya tidak bisa dilakukan dengan nyaman dan serba terbatas.


Praktis, karena kondisi itu, semua kegiatan di kampungnya hanya hanya bisa dilakukan secara leluasa pada siang hari.

"Jam 5 dan 6 kami sudah tidur semua. Karena kalau kami mau jalan, gelap semua," katanya.

Kepala Desa Ampas, Papua Yohanis Yafok yang tak ingin kegelapan terus menyelimuti desanya mencari cara dan informasi supaya desanya bisa segera dialiri listrik.
Dari usaha itu, harapan muncul.

"Akhirnya ada yang bilang, kabupaten itu ada kantornya. Saya tanya ke sana, "Bisa desa kami dapat listrik". Mereka jawab, ajukan aja. Akhirnya kami menyurat," katanya.

Gayung bersambut. Tak lama setelah bersurat, petugas yang ia sebut dari 'pusat' datang membangun jaringan listrik di kampungnya.

Dalam waktu 1 tahun, pembangunan baru bisa diselesaikan.

"Setelah itu baru diuji coba. Ada 84 kepala keluarga, semua dipasang meteran listrik. kemudian dinyalakan, luar biasa," katanya dengan mata berbinar.

[Gambas:Video CNN]

Dengan listrik, kehidupan masyarakat di desanya berubah drastis. Anak-anak yang dulu hanya bisa belajar dari jam 5-6 petang, setelah listrik masuk, mereka bisa membaca buku dan belajar sampai pukul 9 malam.

Warga yang biasa hidup gelap, setelah lampu masuk, sekarang juga lebih produktif.

"Kami dapat lampu senang, karena menyangkut kita bekerja. Sebagai petani, sekarang kita pulang dari lahan, segala macam ada, mau mandi terang," katanya.

Dari bumi Papua wilayah lain kegembiraan sama juga diungkapkan Abraham Monim, warga Distrik Ebungfau, Sentani.

Dengan susah payah, wilayahnya yang selama ini gelap gulita tanpa listrik, akhirnya bisa ikut terang benderang seperti wilayah Indonesia lainnya.

"Sekarang kami sudah menikmati terang. Kami boleh beraktivitas di malam hari. Anak-anak kami bisa belajar," katanya dalam sebuah potongan video yang didapat CNNIndonesia.com dari PLN Wilayah Papua dan Papua Barat beberapa waktu lalu.

General Manajer PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat Abdul Farid mengatakan kegembiraan masyarakat Papua itu telah menjadi 'pelita' penyemangat dan penguat bagi jajarannya dalam melistriki wilayah paling timur Indonesia itu.

Padahal, untuk melaksanakan tugas tersebut, tantangannya cukup luar biasa.

Salah satunya, dari medan dan kondisi geografis Papua dan Papua Barat. Perlu dicatat, Papua merupakan provinsi yang memiliki luas 316.553,07 kilometer persegi.

Sementara itu Papua Barat memiliki luas 102.955,15 kilometer persegi. Meski luas, infrastruktur di daerah tersebut masih belum memadai.

Karena kondisi itu lah, Farid mengatakan pembangunan infrastruktur kelistrikan di Papua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk survei saja, timnya harus naik turun gunung, membelah lembah.

Hal serupa juga terjadi saat mengangkut material.

"Cukup menantang. Karena tantangan alam, ada yang harus beberapa kali ganti moda transportasi. Saya waktu ikut kawal program ekspedisi Papua terang, survei 700 desa. Ada dibagi naik pesawat baru kapal, perahu, habis itu jalan kaki ke pedalaman. Itu baru surveinya belum nanti membangunnya," katanya kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Perencana PLN Wilayah Papua dan Papua Barat Andika mengatakan selain itu petugas PLN di Papua juga dihadapkan pada masalah keamanan. Karena kendala-kendala itulah, pembangunan infrastruktur kelistrikan di Papua dan Papua Barat tidak bisa dilakukan dengan cepat.

Paling tidak butuh waktu tiga sampai empat bulan untuk membangun infrastruktur kelistrikan di wilayah tersebut.

"Selisih kecepatan pembangunannya bisa dua sampai tiga kali lipat dibandingkan daerah lain," katanya.

Tantangan yang disampaikan Farid dan Andika itu pun diakui Presiden Jokowi pada saat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Nabire dan Papua pada Desember 2017 lalu. Presiden menyatakan tantangan itu membuat pembangunan jaringan listrik di Papua cukup menguras tenaga.

"Memang tidak mudah mengerjakan listrik di Papua. Medannya berat sekali (karena) bergunung. Mau bangun, tiang listrik, truknya harus nyebur ke sungai. Setelah nyebur, dibawa ke atas bukit dengan digotong oleh orang karena gak mungkin bawa peralatan," katanya.

Tak hanya itu, tantangan juga berdampak pada biaya pembangunan infrastruktur kelistrikan di Papua yang lebih mahal dibanding daerah lain.

Data yang ia terima dari Kementerian ESDM, untuk membangun jaringan listrik di satu desa di Papua, anggaran yang dibutuhkan Rp2 miliar.

Itu mencapai dua kali lipat dibandingkan desa di daerah lain yang hanya Rp1 miliar. Namun, apapun tantangan itu, ia menyatakan pemerintah akan berupaya mengatasinya.

Pasalnya berdasarkan data yang dimilikinya sampai akhir tahun 2017 lalu, masih ada 2.000-3.000 desa di Papua yang belum terjamah aliran listrik.

Terobosan

Namun, di tengah tantangan yang besar tersebut, PLN bersama dengan pemerintah berhasil menggenjot pembangunan infrastruktur kelistrikan di Papua. Kesuksesan salah satunya bisa dilihat dari peningkatan rasio elektrifikasi.

Data yang dimiliki oleh PLN Wilayah Papua dan Papua Barat yang dipaparkan oleh Ahmad Farid menunjukkan sampai dengan saat ini rasio elektrifikasi di Papua secara total sudah mencapai 95,62 persen.

Rinciannya, rasio elektrifikasi Papua sudah 94,47 persen. Sementara itu untuk Papua Barat rasio elektrifikasi sudah mencapai 99,99 persen.

Itu meningkat tajam jika dibandingkan 2014 lalu. Saat itu rasio elektrifikasi di Papua baru mencapai 43 persen dan Papua Barat baru mencapai 77 persen.

Sementara itu dari sisi desa, jumlah desa yang belum disetrum di Papua dan Papua Barat sampai dengan 2019 tinggal 325 dan 102.

Jumlah itu berkurang 105 menjadi tinggal 322 desa pada 2020 kemarin. Farid menambahkan dari 322 desa yang belum mendapatkan listrik, 305 di antaranya akan menjadi fokus pada 2021. Itu karena infrastruktur dan kondisi geografisnya yang cukup berat.

Ia menambahkan, pembangunan  jaringan listrik di daerah itu tidak mungkin dipaksakan untuk dilakukan secara konvensional. Pasalnya, selain berat, ongkos yang dikeluarkan pun akan mahal.

"Biaya mahal pembangunan berat, perawatan setelah operasi berat, maka terobosan perlu dilakukan," katanya.

Untuk menyiasati tantangan itu, pihaknya melakukan inovasi dengan menerapkan Alat Penyimpan Daya Listrik (APDAL). Itu semacam power bank atau aki penyimpan energi

"Jadi seperti baterai besar, dengan itu masyarakat bisa pakai listrik tiga sampai empat hari setelah habis mereka mengambil ke tempat pengisian, tukar dengan yang penuh, begitu. Jadi ini diharapkan bisa mem-bypass cara konvensional," katanya.

Farid berharap kerja keras yang dilakukan jajarannya tersebut pada tahun ini bisa berbuah manis. Ia berharap seluruh desa di Papua bisa terang dan anak sekolah di daerah tersebut tak mengalami masalah sebagaimana pernah dialami Desi dan Lala. 

(asa)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK