ANALISIS

Susah Gapai Mimpi Jokowi Ekonomi Tumbuh 7 Persen Kuartal II

CNN Indonesia | Kamis, 06/05/2021 07:00 WIB
Ekonom menilai target Presiden Joko Widodo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen pada kuartal II akan terganjal daya beli masyarakat yang belum pulih. Ekonom menilai target Presiden Joko Widodo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen pada kuartal II akan terganjal daya beli masyarakat yang belum pulih. (Lukas - Biro Pers).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) 'bermimpi' ekonomi Indonesia tumbuh 7 persen pada kuartal II 2021. Pembayaran tunjangan hari raya (THR) untuk PNS dan karyawan swasta diyakini bisa mendorong konsumsi masyarakat dan mendongkrak ekonomi domestik.

Namun, impian itu masih bertolak belakang dengan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 yang masih terjebak resesi. Tercatat, laju ekonomi Indonesia masih minus 0,74 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Bahkan, konsumsi rumah tangga turun 2,23 persen pada kuartal I 2021. Hal ini karena hampir seluruh komponen konsumsi tercatat negatif.


Makanan dan minuman selain restoran minus 2,31 persen, pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan minus 2,71 persen, transportasi dan komunikasi minus 4,24 persen, serta restoran dan hotel minus 4,16 persen.

Selain itu, konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) minus 4,53 persen dan investasi minus 0,23 persen. Sementara, konsumsi pemerintah tumbuh positif 2,96 persen, ekspor tumbuh 6,74 persen, dan impor tumbuh 5,27 persen.

Dari sisi lapangan usaha, 11 dari 17 sektor utama terkontraksi. Transportasi dan pergudangan menjadi sektor paling parah karena minus hingga 13,12 persen.

Lalu, akomodasi dan makan minum minus 7,26 persen, jasa perusahaan minus 6,1 persen, jasa lainnya minus 5,15 persen, jasa keuangan minus 2,99 persen, administrasi pemerintahan minus 2,94 persen, pertambangan minus 2,02 persen, jasa pendidikan minus 1,61 persen, industri minus 1,38 persen, perdagangan minus 1,23 persen, dan konstruksi minus 0,79 persen.

Enam sektor yang tercatat positif, antara lain infokom yang tumbuh 8,72 persen, pengadaan air tumbuh 5,49 persen, jasa kesehatan tumbuh 3,64 persen, pertanian tumbuh 2,95 persen, pengadaan listrik dan gas tumbuh 1,68 persen, serta real estate tumbuh 0,94 persen.

Dengan kondisi perekonomian yang seperti ini pada kuartal I 2021, apakah impian Jokowi bisa menjadi nyata?

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan ekonomi sebenarnya punya modal untuk tumbuh positif pada kuartal II 2021. Hal ini bisa dihitung secara teknis berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK).

Tauhid menjelaskan PDB ADHK kuartal I 2021 sudah lebih tinggi dari posisi PDB ADHK kuartal II 2020. Tercatat, PDB ADHK kuartal II 2020 sebesar Rp2.589 triliun, sedangkan PDB ADHK kuartal I 2021 sebesar Rp2.683,1 triliun.

"Kalau dibandingkan antara kuartal II 2020 dengan kuartal I 2021 itu 3,6 persen. Jadi ekonomi punya modal 3,6 persen, itu logikanya seperti itu," ucap Tauhid kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/5).

Dengan modal 3,6 persen, maka masih harus ada dorongan 3,4 persen lagi agar ekonomi Indonesia bisa tembus 7 persen sesuai dengan mimpi Jokowi pada kuartal II 2021 nanti. Namun, dorongan tersebut masih sulit dilakukan.

PDB ADHK kuartal II 2021 harus naik signifikan dari posisi kuartal I 2021. Namun, situasi ini akan bergantung dengan dinamika kasus covid-19.

Menurut Tauhid Perkembangan penularan covid-19 akan memengaruhi pola masyarakat dalam berbelanja. Semakin turun jumlah penularannya, maka masyarakat khususnya kelas menengah atas tak ragu lagi untuk membelanjakan uangnya.

"Seberapa jauh untuk mendorong pertumbuhan ini? Ini tergantung perkembangan covid-19, tapi apakah sampai 7 persen. Saya tidak yakin begitu ya," ujar Tauhid.

Yang jadi masalah, sambung Tauhid, rata-rata kenaikan PDB ADHK per kuartal hanya 2 persen. Sementara, kalau dilihat secara fundamental, daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.

[Gambas:Video CNN]



HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK