Cerita Tentang Melki, Gajah Paling Usil nan Lincah di Ragunan

Yulia Adiningsih, CNN Indonesia | Minggu, 09/05/2021 08:11 WIB
Disemprot air sampai ditendang gajah sudah jadi makanan sehari-hari para perawat hewan di Taman Margasatwa Ragunan. Foto sebelum pandemi. Kerumunan pengunjung melihat gajah di Taman Margasatwa Ragunan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada lebih dari 2.000 hewan di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Mirip manusia, setiap fauna tentu saja punya kebiasaan yang berbeda-beda.

Ada hewan yang penurut, ada juga yang sulit diatur. Ada hewan jinak, ada juga yang buas. Untuk itu, dibutuhkan orang-orang yang bisa merawat dan menghadapi mereka dengan baik.

Salah satu perawat hewan di Taman Margasatwa Ragunan, Sudiharyoto menyebut hewan yang paling usil dan sulit untuk dihadapi adalah seekor gajah bernama Melki.


Melki terkenal aktif, sering menyemburkan air minumnya atau bahkan liurnya sendiri. Tak jarang juga ia melempar benda-benda yang ada di sekitarnya, salah satunya batu.

"Itu gajah satu si Melki galak banget. Enggak ada yang bisa handle. Dia nyerang kita, siapa pun," ucap Sudi yang sudah 20 tahun menjadi perawat gajah di Taman Margasatwa Ragunan, Selasa (4/5).

Ada banyak cerita yang berkesan selama dia bekerja menghadapi gajah-gajah, tidak hanya Melki. Ia bercerita, dirinya pernah ditendang ketika memandikan seekor gajah.

Selain itu, disembur air oleh gajah sampai baju basah semua sudah menjadi cerita kesehariannya.

"Tiap hari main air," ucapnya.

Gajah ternyata suka berlari

Diseruduk gajah juga bukan hal baru bagi Sudi. Dengan badan yang besar, gajah nyatanya sering berlarian, terutama gajah jantan.

Namun ketika gajah hendak berlari, sering kali tidak ada aba-aba. Jadi ketika ia sedang berada di dalam kandang dan kebetulan gajah sedang ingin berlari, sudah dipastikan badannya terpental.

"Ditendang aja kita langsung jatuh apalagi ditabrak. Ngejengkang," curhatnya.

Sudi mulai bekerja sebagai perawat hewan di Taman Margasatwa Ragunan sejak 1990. Selama bekerja di kebun binatang ini, ia lebih banyak berkutat dengan gajah. Tak heran jika dirinya dan gajah sudah merasa menyatu.

Rutinitasnya setiap hari adalah berangkat dari rumah di Tanjung Priok pukul 05.30 WIB dan sampai di Taman Margasatwa Ragunan pada 06.30 WIB.

Sesampainya di sana, Sudi langsung membersihkan kotoran gajah. Lalu, memandikannya. Setelah itu, ia harus memberikan makanan secara berkala.

Ia menyebut gajah adalah hewan yang gampang lapar. Aktivitas utamanya adalah makan. Sehingga satu gajah bisa menghabiskan 200 kilogram rerumputan dalam sehari.

Sudi mengaku tak pernah bosan menghadapi gajah dan menikmati rutinitasnya. Baginya, merawat gajah penuh tantangan, badannya besar dan harus bersentuhan. Berbeda dengan merawat harimau yang bisa dilakukan dari kejauhan.

Sudi bercerita, tahun 1993 ia pernah dipindah tugas merawat harimau. Ketika ditugaskan, ia tak bersentuhan langsung dengan hewan buas itu.

"Ada sekatnya, jadi kita kasih makan enggak langsung," ucap dia.

Untungnya, kata dia, pihak Taman Margasatwa Ragunan hanya menugaskan dia satu setengah tahun saja untuk merawat harimau. Sebab ia sudah kadung suka dan ingin kembali merawat gajah.

Di Taman Margasatwa Ragunan, ada 13 gajah dibagi menjadi tiga kandang. Setiap kandang dipegang oleh perawat yang berbeda. Satu kandang, biasanya dipegang oleh tiga orang.

Sudi dan kedua temannya setiap hari harus merawat delapan gajah. Jumlah tersebut, kata Sudi, lebih banyak dibandingkan di Taman Nasional Way Kambas di Lampung. Ia menyebut, di sana satu gajah dipegang oleh satu perawat.

Ia mengaku sedikit kewalahan. Apalagi harus merawat Melki yang lincah. Meski begitu, Sudi mengaku dirinya sudah terbiasa dan menikmati pekerjaannya sekarang.

"Harus enjoy dengan pekerjaan," kata dia.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Cerita Tentang Melki, Gajah Usil nan Lincah di Ragunan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK