Cerita Maldives Sebelum Jadi Surga Liburan 'Kaum Sultan'

CNN Indonesia | Minggu, 20/06/2021 11:50 WIB
Dulu turis harus menceburkan diri saat turun kapal untuk sampai dermaga di Maldives (Maladewa). Kini, di sana bahkan ada restoran bawah laut. Raa atol, salah satu kepulauan di Maldives (Maladewa) yang hanya bisa dijangkau oleh pesawat amfibi. (iStock/Jag_cz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Maldives (Maladewa): perairan biru kehijauan, pasir putih bersih, matahari terbenam, langit jingga dan, tentu saja, kemewahan. Tapi percaya atau tidak ada saat ketika Maladewa bukanlah salah satu destinasi wisata paling glamor di dunia.

Ketika Mohamed Umar "MU" Maniku dan tiga temannya membuka Kurumba, resor wisata pertama di negara itu, pada tahun 1972, bahkan tidak ada dermaga di sana. Pengunjung harus mengarungi air setinggi pinggang untuk turun dari perahu menuju pantai.

Pengunjung pertama kebanyakan adalah jurnalis dan fotografer dari Italia.
Meskipun belum ada vila dan pesawat amfibi berlantai kaca di atas air, jelas bahwa Maladewa telah memancarkan keajaibannya. Saat ini, ada lebih dari 100 resor yang tersebar di lebih dari 1.200 pulau.


Kurumba, yang berarti "kelapa" dalam bahasa Dhihevi lokal Maladewa, pada awalnya adalah perkebunan kelapa yang tidak berpenghuni. Sekarang kawasan itu memiliki semua fasilitas dan layanan ala resor yang mewah.

Beberapa orang menyebut MU "pria yang membangun surga", dan itu adalah julukan yang pantas dia dapatkan.

Akomodasi pertama terbuat dari karang dan batu kapur. Apa pun yang tidak tumbuh secara lokal harus dibawa dengan kapal dan bisa memakan waktu hingga tiga bulan untuk tiba.

Surat kabar datang terlambat berbulan-bulan dan layanan telepon tidak konsisten. Lupa mengemas pasta gigi berarti Anda tidak bisa gosok gigi, karena tidak ada toko di pulau itu.

Sebelum gerbang pariwisata dilintasi turis mancanegara, hanya ada sekitar dua penduduk di pulau tempat Kurumba dibangun. Belum ada layanan spa, yoga, snorkeling, atau restoran bawah laut di sana.

Tidak banyak yang bisa dilakukan wisatawan selain memancing dan berjemur.

"Meski demikian mereka sangat senang," kenang MU kepada CNN Travel.

"Beberapa dari mereka, Anda tahu, berjemur terlalu lama hingga seperti lobster."

view of the ocean and the house on waterPemandangan vila atas air di Maldives. (iStock/Konstik)

Maladewa hari ini

Meskipun Kurumba hari ini menjadi vila kelas atas dan restoran mewah, deskripsi MU tentang hari-hari awal Maladewa membuat pulau ini lebih seperti pulau hippie.

"Dulu kami mengadakan barbekyu di tempat terbuka ini. Dan selalu ada seseorang yang bertugas memainkan gitar."

Di kamar tamu, keran mengalirkan air payau. Toilet saat itu mungkin digambarkan "aneh."

Tak ada yang menyangka sebelumnya kalau pulau terpencil di tengah Samudera Hindia ini akhirnya menjadi destinasi wisata "kaum sultan".

"Sejak awal saya tidak pernah meragukannya," katanya.

Untungnya, beberapa hal tidak berubah. Mereka masih memanen kelapa dengan cara kuno: memanjat pohon.

Pulau yang dihuni Kurumba bagai rumah kedua untuk MU.

"Jika saya tidak bisa datang ke sini (setiap) hari dan kemudian berjalan-jalan di sini... rasanya ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya," katanya.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Cerita Maldives Sebelum Jadi Surga Liburan 'Kaum Sultan'

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK