CATATAN PERJALANAN

Tujuh Hari Menelusuri Sungai Guadiana dengan Bersepeda

Anisa Subekti, CNN Indonesia | Sabtu, 03/07/2021 12:00 WIB
Bersepeda di tepi Sungai Guadiana berarti sekaligus bisa menjelajahi kota serta desa yang bersejarah dan mempesona. Pantai hijau di Vila Real de Santo Antonio. (Arsip Anisa Subekti)
Vila Real de Santo Antonio, CNN Indonesia --

Kalau dengar kata Portugal, apa yang terbesit pertama kali di pikiran? Christian Ronaldo pasti... Lisabon mungkin? Atau Porto?

Sebenarnya, banyak sekali tempat yang indah di sini. Hanya saja kalah saing dengan negara-negara eropa lain yang lebih wow.

Saat ini saya bersama dengan Luís, pasangan saya, berpetualang dengan bersepeda di Portugal. Dengan adanya pandemi yang sampai saat ini belum stabil, kami hati-hati betul memilih jalur yang akan kami lalui sebelum kami memulai perjalanan ini.


Selain itu, kami juga memperhitungkan cuaca dan musim turis yang biasanya meningkat di musim panas untuk menghindari kerumunan.

Oleh karena alasan itu semua, kami memutuskan untuk memulai petualangan kami di Vila Real de Santo Antonio, di sudut tenggara di negara yang hanya sebesar Pulau Jawa ini.

Berfokus pada Sungai Guadiana, kami bersepeda selama tujuh hari melewati kota dan desa bersejarah yang mempesona.

Hari ke-1, Vila Real de Santo Antonio

Kota Vila Real de Santo Antonio terletak di ujung paling timur Algarve, di mana Sungai Guadiana bertemu dengan Samudra Atlantik.

Kami memutuskan untuk memulai petualangan kami di sini karena masih terbilang tenang, tidak seperti di kota-kota pesisir Algarve lainnya yang mulai dari akhir Mei sudah banyak turis yang datang.

Kota ini juga unik karena tata kotanya lebih menyerupai Lisbon dengan alun-alun yang lapang berdekorasi ala Pombal.

Alasan lain kami suka di sini tidak lain karena letaknya diapit dua taman nasional: Cagar Alam Rawa Castro Marim dan Vila Real de Santo António dan hutan nasional bukit pasir pantai Vila Real de Santo Antonio, yang membuat kota ini strategis untuk menjadi base camp bagi para pecinta alam.

Anehnya, selama saya mencari tahu tentang Vila Real de Santo Antonio, tidak ada yang menyebutkan tentang pantai hijau yang terletak di ujung paling selatan kota ini.

Mungkin karena warna hijau ini berasal dari rumput laut, jadi menurut orang lokal biasa saja. Tetapi menurut saya justru mempesona. Saya sangat merekomendasikan untuk berkunjung ke pantai hijau ini.

Tempat paling keren untuk bermalam di sini adalah di Grand House Algarve (sebelumnya Hotel Guadiana).

Selain berada di Avenida da República (jalan utama), hotel ini menghadap ke Sungai Guadiana yang indah dengan pemandangan kota Ayamonte di seberang sungai.

Dirancang oleh arsitek Ernesto Korrodi, seorang Swiss yang dinaturalisasi, dengan karya besar di Leiria.

Anisa SubektiRute Guadiana dari Vila Real ke Alcoutim. (Arsip Anisa Subekti)

Hari ke-2, Alcoutim

Dari Vila Real de Santo Antonio, kami bersepeda menuju Alcoutim melewati jalan-jalan kecil khusus trekking untuk menghindari jalanan utama yang biasa dilewati mobil.

Tidak disangka, jalanan yang kami pilih ternyata lebih berat daripada yang kami bayangkan.

Meskipun kami sudah pernah bersepeda di Amerika Selatan dan Afrika selama hampir tiga tahun, otot-otot yang dikarantina setahun ini harus dilatih lagi. Setelah beberapa kilometer, tepatnya 54 km, akhirnya kami tiba di Alcoutim.

Desa Alcoutim ini berukuran lumayan kecil, berkeliling dengan berjalan kaki pun asyik, saking kecilnya.

Karena lokasi dan karakteristik geografisnya, Alcoutim dapat dikunjungi sepanjang tahun. Selama musim semi dan musim gugur suhu udara sangat nyaman untuk menikmati semua potensi tujuan wisata alam di sekitar.

Sedangkan di musim panas, suhu udaranya panas dan kering, tetapi Sungai Guadiana senantiasa mendinginkan badan.

Dan bahkan di musim dingin, kota mungil ini mempunyai suhu yang segar untuk memanfaatkan pengalaman autentik yang ditawarkan oleh daerah sekitar.

Satu hal lagi yang menarik di Alcoutim adalah pemandangan di sisi lain Sungai Guadiana, Desa Sanlúcar, Spanyol. Kalau mau, bisa menyeberang ke sana, berkeliling di desa yang tidak kalah indahnya, lalu kembali lagi ke Portugal.

Waktu kami datang, kami sudah sangat lelah. Pikiran kami hanya ingin mandi, makan, lalu tidur karena esok paginya, kami harus bersepeda lagi menuju ke Mértola.

Anisa SubektiMertola, Portugal. (Arsip Anisa Subekti)

Hari ke-3, Mértola

Perjalanan ke Mértola jalurnya lebih pendek (31 km) daripada sehari sebelumnya. Kali ini kami melalui jalur utama di beberapa bagian karena memang tidak ada jalan tikus.

Hari itu kami meninggalkan wilayah Algarve dan memasuki wilayah Alentejo. Pemandangan di sekitar perlahan berganti kuning kecoklatan. Garis horizon semakin menjauh dan meluas penuh dengan padang gandum.

Mértola terletak di bagian tenggara wilayah Alentejo di Portugal. Saya tidak pernah mendengar tentang kota ini sampai saya merencanakan perjalanan ini - Bike & Sketch Portugal Tour - dan menjadi salah satu tempat tujuan utama saya.

Kesan pertama saat kami melihat desa Mértola dari jauh sangat menakjubkan.

Kastelnya tepat berada di atas tebing dan rumah-rumah penduduknya berdinding putih keemasan, menyerap cahaya matahari yang mulai terbenam. Rumah-rumah tersebut dibangun menyesuaikan lereng tebing yang menurun sampai bibir sungai Guadiana.

Perlahan kami menuruni bukit dengan sepeda menikmati apa yang tampak di depan kami sambil merasakan angin menyegarkan badan yang berkeringat.

Selain menawan, Mértola juga mempunyai banyak sejarah. Karena lokasinya tepat di sebelah sungai Guadania, desa ini dulunya merupakan titik perdagangan yang sangat penting.

Hal ini pula yang membuat tempat ini menawarkan perpaduan budaya Kristen Romawi dan Islam Mediterania yang membuatnya semakin mempesona.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Tujuh Hari Menelusuri Sungai Guadiana dengan Bersepeda

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK