Kata Psikolog Soal Kompromi Punya Anak dalam Pernikahan

tim, CNN Indonesia | Selasa, 27/07/2021 21:20 WIB
Punya anak adalah keputusan bersama antara suami-istri. Kembali lagi pada tujuan perkawinan, apa yang dicari dari pasangan, semua perlu direfleksikan kembali. Punya anak adalah keputusan bersama antara suami-istri. Kembali lagi pada tujuan perkawinan, apa yang dicari dari pasangan, semua perlu direfleksikan kembali.: Istockphoto/Geber86
Jakarta, CNN Indonesia --

Selama ini perempuan, pernikahan, dan punya anak dianggap satu paket. Lihat saja, beberapa waktu setelah menikah pertanyaan yang kerap muncul adalah 'Sudah isi belum?' atau 'Kapan menyusul punya anak?'.

Memiliki anak lantas seakan jadi sesuatu yang mampu membuat perempuan utuh dan sempurna. Padahal, memiliki anak atau tidak seharusnya menjadi keputusan bersama pasangan dalam perkawinan.

"Ada satu riset oleh Profesor Leslie Ashburn-Nardo, profesor psikologi di Indiana University dan Purdue University Indianapolis. Respons partisipan merasa kalau suatu pasangan memutuskan untuk tidak punya anak, ini jadi sesuatu yang
dipertanyakan, jadi morally outrage," kata Kantiana Taslim, psikolog klinis di Ohana Space pada CNNIndonesia.com, Senin (26/7).


Kemudian riset ini juga menemukan partisipan mempertanyakan apakah kehidupan keluarga tanpa kehadiran anak akan lengkap atau penuh (fulfilling) atau tidak. Sementara di masyarakat, jika dilihat dari norma sendiri anak adalah berkah dari Tuhan.

Kantiana menduga secara tidak langsung orang menjadikan ini sebagai 'fulfillment' (pemenuhan) kehidupan perkawinan. Ada tuntutan tak tertulis yang berlaku di masyarakat bahwa kehadiran anak jadi syarat untuk mewujudkan keluarga yang utuh.

Padahal, menurutnya ini kembali lagi pada tujuan perkawinan, apa yang dicari dari pasangan, semua ini perlu direfleksikan kembali.

"Apa yang dituju dari punya anak? Apa memang sepakat punya anak? Apa sudah siap secara mental, psikologis, finansial? Punya anak tidak serta merta karena tuntutan juga. Kasihan anaknya. Anak dikasih ke kita untuk kita besarkan dengan tanggung jawab, bukan nantinya akan dilihat sebagai beban," jelasnya.

Kantiana melihat tidak masalah jika ada opini berbeda termasuk yang baru-baru ini diungkapkan seorang figur publik soal menyerahkan keputusan punya anak pada istrinya kelak.

Dia menilai bahwa sosok figur publik tersebut menunjukkan dirinya terlibat dalam hubungan yang dijalani dan mampu menghargai opini pasangan.

"Dia menghargai opini pasangan sehingga keputusan dalam rumah tangga tidak serta merta dari satu pihak," imbuhnya.

Catatan redaksi: Terdapat perubahan kutipan pada paragraf ketiga atas permintaan narasumber.

Mengajarkan nilai kesetaraan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK