MYTH VS FACT

5 Salah Kaprah soal Konsumsi Vitamin

tim, CNN Indonesia | Minggu, 01/08/2021 19:30 WIB
Banyak orang yang masih salah kaprah terkait konsumsi vitamin. Berikut lima salah kaprah soal vitamin dan fakta sebenarnya. Banyak orang yang masih salah kaprah terkait konsumsi vitamin. Berikut lima salah kaprah soal vitamin dan fakta sebenarnya. (iStock/anilakkus)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di masa pandemi Covid-19 banyak orang yang berbondong-bondong mencari vitamin atau suplemen dengan maksud memperkuat daya tahan tubuh agar terhindar dari paparan Covid-19.

Tak ada yang salah dengan hal, toh mengonsumsi vitamin atau suplemen sesuai kebutuhan tak merugikan bagi tubuh anda selama tidak berlebihan.

Namun, tak sedikit orang yang salah kaprah dengan penggunaan vitamin atau suplemen. Banyak dari mereka yang sengaja mengonsumsi suplemen atau vitamin dengan maksud memenuhi kebutuhan gizi lantaran tak makan dengan seimbang.


Ditambah, banyak yang kadung percaya dengan berbagai mitos seputar vitamin yang dipercaya bisa menggantikan kebutuhan gizi dari makanan sehari-hari.

Sebagaimana dilansir Medical News Today, dalam sebuah Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional yang dilakukan pada 2011-2012, 52 persen orang dewasa di Amerika Serikat melaporkan telah menggunakan beberapa jenis suplemen. Hampir 1 dari 3 orang juga mengaku mengonsumsi multivitamin.

1. Label 'alami' belum tentu alami

Tak sedikit yang mempercayai bahwa label alami atau herbal sangat aman untuk dikonsumsi. Padahal istilah alami belum tentu membuat vitamin tersebut 100 persen aman dari zat kimia.

Namun kenyataannya, banyak dari produk dengan label alami justru mengandung bahan aktif yang dapat mengganggu obat lain. Oleh karena itu, suplemen dapat meningkatkan atau mengurangi efek obat-obatan farmasi.

Pakar nutrisi Tan Shot Yen bahkan menyebut kepercayaan terhadap produk vitamin dengan label herbal atau alami ini bisa berujung salah kaprah. Tan mengingatkan tak semua hal yang diberi label herbal sama sekali tak mengandung zat kimia.

"Istilah herbal kesannya "bukan bahan kimia" padahal senyawa metabolit sekundernya kan unsur kimia juga," kata Tan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (29/7).

Oleh karena itu, Tan mengingatkan jangan sampai terkungkung dengan berbagai mitos seputar vitamin. Memang bisa jadi mereka produk alami, tetapi tetap telah melalui proses secara kimia.

"Ketimbang beli suplemen 'herbal' kan mending makan bahan pangan benerannya. Ya alami sih bisa pasti, tapi kan terproses," kata dia.

2. Vitamin pengganti makan

Tan juga menyebut vitamin yang diperlukan tubuh sepenuhnya terdapat dalam makanan sehat yang dikonsumsi setiap hari. Jika seseorang makan dengan seimbang, maka tak perlu lagi mengonsumsi vitamin atau suplemen dalam bentuk tablet.

"Vitamin itu ada dalam makanan sehari-hari," kata Tan.

Tan memberi contoh misalnya ketika seseorang mengonsumsi buah mangga, ada berbagai jenis vitamin yang bisa diserap tubuh. Tak hanya vitamin C, tubuh juga bisa menyerap vitamin A, polifenol, hingga fruktosa yang memang terkandung dalam buah mangga.

Tan membantah mitos seputar vitamin yang bisa digunakan sebagai pengganti makanan. Sebab kata dia, di dunia kesehatan vitamin atau suplemen hanya digunakan sebagai adjuvan.

"Artinya hanya sebagai imbuhan untuk pemulihan. Itu pun jumlahnya disesuaikan kebutuhan masing-masing dan disesuaikan dengan kondisi orangnya," kata dia.

"Sangat salah jika vitamin dianggap pengganti pangan sesungguhnya," imbuh Tan.

Simak salah kaprah terkait vitamin lainnya di halaman berikut.

Vitamin C dapat mencegah flu

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK