Jalur Hallyu Masuk Korut, dari Kim Jong-il hingga Selundupan

CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 13:40 WIB
Budaya pop Korea Selatan alias Hallyu ternyata tak hanya merambah negara-negara terbuka dunia, tapi juga kawasan terisolasi seperti Korea Utara. Ilustrasi. (iStockphoto/narvikk)
Jakarta, CNN Indonesia --

Budaya pop Korea Selatan alias Hallyu ternyata tak hanya merambah negara-negara terbuka dunia, tapi juga kawasan terisolasi seperti Korea Utara.

Seorang pembelot asal Korea Utara, Kang Mi-jin, mengatakan bahwa berbagai produk Hallyu sudah mulai masuk ke negara paling terisolasi itu sejak awal 2000-an.

Hallyu mulai masuk Korut setelah Presiden Korea Selatan, Kim Dae-jung, untuk pertama kalinya berkunjung ke Pyongyang untuk pertemuan puncak kedua negara.


Ia datang membawa sejumlah film dan drama sebagai hadiah untuk pimpinan Korea Utara saat itu, Kim Jong-il. Film itu kemudian mulai menyebar ke banyak kawasan hingga pusat industri, Kaesong, dan Ibu Kota Pyongyang.

"Acara televisi dan film Korea Selatan begitu populer pada 2000-an. Orang-orang yang tak menonton itu seperti tak nyambung dalam pembicaraan. Banyak warga Korea Utara rela bayar lebih untuk bisa melihat film atau mendengar lagu Korea Selatan," kata Kang Mi-jin.

Mendapatkan akses ke film dan drama Korea Selatan bukan perkara mudah. Pemerintah Korea Utara melarang tergas warganya melihat, apalagi menikmati budaya pop Korsel, yang dianggap menggaungkan kapitalisme dan tak pantas.

Di masa lalu, warga Korut yang ketahuan melihat bahkan menikmati musik, film, dan drama Korsel bisa dihukum penjara seumur hidup hingga hukuman mati.

Pada awal 2000-an, masyarakat Korea Utara pun hanya bisa mengakses film dan drama Korsel lewat CD dan DVD yang diselundupkan dari China ke Korea Utara.

"Tapi mulai 2010-an, orang-orang menggunakan USB karena lebih kecil dan mudah disembunyikan. CD tak bisa dikeluarkan dari pemutar ketika listrik dipadamkan sehingga itu bisa menjadi barang bukti," ucap Kang Mi-jin.

Drama dan film Korsel bak jendela untuk melihat dunia luar bagi masyarakat Korea Utara karena menawarkan hal-hal baru selain yang ditekankan pemerintah setempat selama ini.

"Film dan drama Korea Utara kebanyakan tentang pendidikan ideologis dan kampanye propaganda. Kami lelah karena terpapar itu semua selama ini. Namun, kami akhirnya terpesona dengan hiburan Korea Selatan," tuturnya seperti dilansir KBS.  

Ukuran Kemampuan Ekonomi

Seiring perkembangan zaman, warga Korut semakin mudah mendapatkan film dan drama Korsel. Produk kecantikan hingga peralatan sehari-hari buatan Korsel juga masuk sebagai barang selundupan dan diperdagangkan di pasar yang dikenal sebagai jangmadang.

Pemerintah Korea Utara lantas mengontrol ketat perbatasan dengan China dan semua media yang diduga mengandung konten hallyu. Namun, larangan itu tak mengurangi minat warga Korut terhadap produk-produk Korsel.

Barang-barang Korea Selatan ini bahkan mulai menjadi tolok ukur kemampuan ekonomi warga di Korea Utara.

"Saat ini, kekuatan ekonomi warga Korea Utara seakan dinilai berdasarkan seberapa banyak barang asal Korea Selatan yang mereka miliki. Banyak orang tua juga yang memberikan barang-barang asal Korsel sebagai hadiah pernikahan anak mereka, tak peduli seberapa mahal barang itu," cerita Kang Mi-jin.

"Jika satu keluarga tak memiliki produk asal Korea Selatan, mereka akan dilihat seperti rumah tangga yang kurang mampu."

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, gambaran kehidupan Korea Selatan dalam drama juga memengaruhi keseharian di Korea Utara, seperti menggunakan penanak nasi hingga minum kopi instan.

Cerita tersebut tergambarkan lewat kehidupan ibu-ibu Korea Utara dalam drama Crash Landing On You. Dalam drama tersebut, mereka diam-diam menyelundupkan barang asal Korea Selatan, seperti produk kecantikan hingga pemasak nasi.

Hallyu juga perlahan mengubah tata bahasa Korea Utara. Tak seperti warga Korsel, masyarakat Korea Utara jarang menggunakan bentuk rasa hormat, termasuk kepada manula. Tata bahasa hormat biasanya hanya digunakan bagi pemimpin.

Sementara itu, warga Korea Selatan dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian digambarkan di drama, selalu menggunakan tata bahasa khusus untuk orang yang lebih tua daripada mereka.  

"Budaya dan produk Korea Selatan membuat warga Korea Utara mengalami yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya," kata Kang Mi-jin.

"Dalam bahasa Korea Selatan, mereka menghormati, fleksibel. Kehormatan dan cara bicara yang sopan dalam film dan drama Korea Selatan memengaruhi cara orang Korea Utara berbicara dan berpikir." 

(chri/has)