Menanti Streaming Lokal jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

CNN Indonesia | Minggu, 22/11/2020 15:40 WIB
Dibutuhkan banyak siasat bagi para pelaku layanan streaming lokal untuk bertahan dan berharap bisa jadi tuan rumah di negerinya sendiri. Ilustrasi streaming. Dibutuhkan banyak siasat bagi para pelaku layanan streaming lokal untuk bertahan dan berharap bisa jadi tuan rumah di negerinya sendiri. (Dok. Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seiring dengan semakin bertumbuh layanan streaming lokal di tengah musim pertumbuhan streaming di Indonesia, dibutuhkan banyak siasat bagi para pelakunya untuk bertahan dan berharap bisa jadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Layanan streaming lokal diketahui mulai muncul dalam tiga tahun terakhir, terutama setelah sejumlah raksasa streaming dunia hadir di Indonesia pada 2016 lalu seperti Netflix dan Amazon Prime Videos.

MAXstream menjadi salah satu layanan streaming lokal yang muncul lebih dulu. Layanan streaming yang merupakan bagian dari Telkomsel ini diluncurkan bersamaan dengan Piala Dunia 2018 dengan menayangkan pertandingan sepak bola.


GM Digital Experience Strategy Telkomsel Luthfi C. Wibisono menilai kemunculan MAXstream dengan jeda waktu dua tahun dari layanan streaming asing tidak telat. Apalagi bisnis video over the top (OTT) sudah berlangsung lama meski baru ramai lima tahun belakangan.

"YouTube mungkin yang paling pertama dari tahun 2005. Tetapi beda segmen dan karakter [dari layanan streaming yang menyajikan konten video]," kata Luthfi dalam wawancara virtual dengan CNNIdonesia.com beberapa waktu lalu.

Group CEO Visinema, Angga Dwimas Sasongko, yang membesut layanan streaming Bioskop Online memiliki pandangan serupa dengan Luthfi. Bersama timnya, ia baru merilis Bioskop Online pada Juli lalu.

Penggunaan Netflix di IndonesiaLayanan streaming lokal diketahui mulai muncul dalam tiga tahun terakhir, terutama setelah sejumlah raksasa streaming dunia hadir di Indonesia pada 2016 lalu seperti Netflix. (CNN Indonesia/Daniela)

Ia mengingat bersama timnya memutuskan membuat Bioskop Online secara mendadak pada Februari. Padahal, pada Januari Visinema baru menggelar rapat tahunan dengan pembahasan agenda satu tahun ke depan.

"Kalau terjadi lockdown, untuk bisa agile [gesit] adalah dengan punya teknologi. Maka kami shift hampir semua sumber finansial kami untuk teknologi capacity. Muncul lah ide bikin Bioskop Online, selain itu ada rencana dua platform edutainment lain," kata Angga.

Salah satu yang membuat Angga yakin dengan Bioskop Online adalah potensi pasar yang bisa dilihat dalam laporan Google, Temasek, dan Brain & Co mengenai ekonomi berbasis internet. Laporan itu dihimpun dalam lima tahun dan dirilis beberapa waktu lalu.

Laporan itu menunjukkan bahwa nilai ekonomi berbasis internet atau Gross Merchandise Value (GMV) di Asia Tenggara sampai akhir tahun ini mencapai US$105 miliar. GMV diprediksi naik sekitar tiga kali lipat mencapai US$300 miliar pada tahun 2025.

GMV tersebut didapat dari transaksi pada e-commerce, perjalanan daring, media daring dan pemesanan makanan. Layanan streaming yang menyajikan konten video masuk dalam kategori media daring, bersama dengan musik streaming dan gim.

Media daring berada di peringkat kedua setelah e-commerce dengan raihan US$17 miliar GMV dari total US$105 miliar. Kemudian pada tahun 2025 media daring diprediksi meningkat kali lipat menjadi US$35 miliar GMV dari US$300 miliar.

Aktivitas pelayanan di Galeri Smartfren,  Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (11/3). Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat pengguna internet di Indonesia meningkat dari 74 orang tahun 2013 menjadi 111 juta orang tahun 2014, yang didorong oleh masyarakat yang aktif mengakses jaringan media sosial untuk bersosialisasi, berdagang atau berekspresi menggunakan telepon pintar. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Rei/ama/15.Pada 2025 nilai ekonomi berbasis internet di Indonesia diprediksi mencapai US$124 miliar, jauh meninggalkan negara Asia Tenggara lain dengan kisaran US$22-53 miliar. (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Rei/ama/15.)

Bila dilihat dari segi negara, Indonesia menjadi negara penyumbang GMV tertinggi dengan US$44 miliar sampai akhir 2020. Kemudian pada 2025 nilai ekonomi berbasis internet di Indonesia diprediksi mencapai US$124 miliar, jauh meninggalkan negara Asia Tenggara lain dengan kisaran US$22-53 miliar.

"Bayangkan, kalau konten setidaknya punya satu persen dari US$124 miliar, berarti US$1,24 miliar atau sekitar Rp17 triliun. Buat saya ruang untuk tumbuh masih sangat besar, hari ini industri bisnis konten masih early stage growth [pertumbuhan tahap awal]. Kalau mau investasi, sekarang," kata Angga.

Pengamat film Hikmat Darmawan juga menilai bahwa industri streaming Indonesia akan berkembang. Kalau tidak demikian, tidak mungkin layanan streaming asing masuk ke Indonesia, pun begitu dengan kelahiran layanan streaming lokal.

"Tetapi, apakah [layanan streaming lokal] bisa berkompetisi dengan perusahaan multinasional? Kalau dari segi modal sulit untuk berkompetisi. Saya rasa akhirnya kompetisi ada pada nilai tambah, agar pelanggan merasa mendapatkan yang mereka inginkan," kata Hikmat.

Penilaian Hikmat nyatanya dilakukan oleh layanan streaming lokal saat ini. Lewat konten yang berbeda dari para raksasa streaming, layanan streaming lokal coba menarik dan menjaga pelanggan.

Misalnya Bioskop Online, layanan streaming ini banyak menayangkan film-film festival dan film sidestream yang jarang tayang di layanan streaming lainnya. Beberapa di antaranya adalah Istirahatlah Kata-Kata, Nay, Turah, dan Ziarah.

Pengunjung menunggu waktu pemutaran film saat nonton bersama film Bioskop Online banyak menayangkan film-film festival dan film sidestream yang jarang tayang di layanan streaming lainnya, seperti Istirahatlah Kata-Kata. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/pd/17)

Memang pasar dari film-film tersebut tersegmentasi atau biasa disebut niche market. Tetapi Angga sudah membuktikan strategi itu berhasil pada film-film yang digarap rumah produksi Visinema.

"Kami percaya market itu ada. Tetapi sekarang kami bisa enggak membuat pasarnya? Bisa. Bukan masuk ke dalam ceruk pasar yang udah orang lain bikin dan rebutan di sana," kata Angga.

Sementara itu, MAXstream justru berlawanan dengan Bioskop Online dengan mengincar pasar mainstream. Mereka bekerja sama dengan artis yang sudah memiliki massa di YouTube dan televisi, seperti Raffi Ahmad dan Keluarga Halilintar.

GM Digital Content Creation Telkomsel Aris Sudewo sendiri mengakui bahwa bekerja sama dengan selebritas yang sudah terkenal memang strategi untuk mendatangkan banyak penonton. Ia menganalogikan konten tersebut seperti camilan yang cepat dimakan.

Di sisi lain, GoPlay memiliki strategi sendiri dengan menggarap konten adaptasi Korea Selatan dan bekerja sama dengan raksasa hiburan Korea CN ENM untuk mendapatkan lisensi konten-konten tvN sejak Oktober kemarin.

"Film dan serial Indonesia tetap menjadi konten dengan performa terbaik di GoPlay, tetapi kami melihat di antara konten-konten Asia di GoPlay, konten Korea memiliki performa yang baik, dengan basis penggemar yang cukup spesifik," kata Edy.

Serial Tunnel (dok. GoPlay Indonesia)GoPlay memiliki strategi sendiri dengan menggarap konten adaptasi Korea Selatan. (dok. GoPlay Indonesia)

Bila diperhatikan, penjelasan dari tiga layanan streaming lokal di atas menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki sasaran pasar masing-masing untuk digarap. Mereka bertiga juga mengatakan sudah memiliki persiapan dari segi konten dan finansial.

Setidaknya, kata Angga, butuh waktu lima sampai 10 tahun agar industri streaming di Indonesia bisa ajek. Angka itu ia dapat dari perjalanan Netflix yang meluncurkan layanan streaming sejak 2007 kemudian saat ini menjadi top of mind.

"Mudah-mudahan kita bisa belajar dari Netflix dan memotong waktu 10 tahun untuk menumbuhkan industri streaming. Hal yang diperlukan agar industri settle adalah jaringan internet, terjangkau, dan strategi konten," kata Angga.

Dalam kesempatan terpisah, pernyataan Angga disetujui Hikmat. "Kalau melihat laju pasar sekarang, pengusaha dan kreator berharap sangat banyak bila infrastruktur digital mampu mengakomodasi permintaan pasar yang jelas."

(adp/end)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK