Review Serial: Bridgerton

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Jumat, 08/01/2021 19:20 WIB
Jalan cerita menghibur, chemistry para pemain, serta soundtrack yang mendukung membuat penonton bisa terlarut dalam Bridgerton dan menyelesaikannya satu malam. Jalan cerita menghibur, chemistry para pemain, serta soundtrack yang mendukung membuat penonton bisa terlarut dalam Bridgerton dan menyelesaikannya satu malam. (Dok. Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Artikel ini mengandung beberan.

Sangat mudah untuk bisa menikmati serial Bridgerton. Jalan cerita menghibur, chemistry para pemain, serta soundtrack yang mendukung membuat penonton bisa terlarut dalam Bridgerton dan menyelesaikannya dalam satu malam.

Bridgerton merupakan serial hasil adaptasi novel The Duke and I karya Julia Quinn yang terbit pada 2000. Serial ini mengisahkan kehidupan para aristokrat Regency London saat musim perjodohan tiba.


Musim pertama serial Bridgerton fokus pada kehidupan dua keluarga, yakni Bridgerton dan Featherington, serta kehadiran Duke of Hastings.

Sinopsis Bridgerton dapat dibaca di sini. Sementara itu, panduan pemeran dan karakter Bridgerton bisa dibaca di sini.

Bridgerton sejatinya seperti perpaduan Pride and Prejudice dan Gossip Girl. Permasalahan seputar pernikahan di keluarga Inggris seperti dalam Pride and Prejudice ditampilkan dengan narasi Lady Whistledown (Julie Andrews), layaknya format serial Gossip Girl.

Sebagai orang yang belum membaca novel The Duke and I, saya amat menikmati serial yang dibuat Chris Van Dusen bersama Shondaland ini walau memiliki jalan cerita yang cenderung bisa ditebak, terutama di antara kedua pemeran utama, Daphne Bridgerton dan Duke of Hastings.

Kisah cinta Daphne Bridgerton dan Duke of Hastings secara garis besar tak jauh berbeda dari yang sudah ditampilkan serial-serial lainnya, diawali pertemuan tidak sengaja dan kesalahpahaman, berlanjut membuat 'kontrak', hingga akhir yang mungkin sudah bisa ditebak banyak orang.

Namun, sejatinya Bridgerton tak hanya menyajikan kisah cinta serta chemistry yang baik antara Phoebe Dynevor dan Rege-Jean Page selaku pemeran utama.

Serial tersebut berisikan banyak pesan yang dikemas secara baik, mulai dari permasalahan rasial, keluarga, kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, edukasi seks bagi anak, dan masih banyak lagi, tergantung sudut pandang penonton.

Walau berlatar belakang kehidupan aristokrat Inggris pada 1813, serial ini benar-benar masih bisa terhubung dengan masyarakat Indonesia saat ini.

Serial Bridgertondok. NetflixBridgerton lebih dari sekadar Daphne Bridgerton dan Duke of Hastings. (Netflix)

Minim Edukasi Seks

Salah satu situasi paling mirip dengan Indonesia yang menarik perhatian adalah edukasi seks minim kepada anak di sepanjang serial Bridgerton. Selain minim, orang tua dalam serial tersebut bahkan memberikan informasi keliru seputar seks.

Sebut saja ketika Lady Featherington mengatakan kehamilan bisa menular yang membuat anak-anaknya takut berada sekitar Marina Thompson. Ditambah dengan kebingungan Penelope, Eloise, serta Daphne bahwa perempuan bisa hamil sebelum menikah.

Kondisi tersebut sejatinya juga terjadi di Indonesia; edukasi seks yang masih dianggap tabu. Tak sedikit juga orang tua yang malah 'menakut-nakuti' anak perempuannya, seperti berpegangan tangan atau berciuman bisa hamil.

Di sisi lain, edukasi seks sedini mungkin akan jauh lebih baik, bahkan berguna bagi anak hingga dewasa dan berkeluarga. Dampak edukasi seks minim terlihat jelas dari kebingungan dan kekecewaan Daphne jelang akhir episode.

Daphne mencari tahu mengenai kehidupan seksual yang sesungguhnya dari orang lain, bahkan dari asisten rumah tangga, bukan dari keluarganya.

Bridgerton. Dok. NetflixBridgerton. (Dok. Netflix)

Patriarki dan Pilihan Perempuan

Film ini juga menunjukkan masih banyak orang menilai perempuan tak perlu berpendidikan tinggi karena akan berujung menikah dan menjadi ibu rumah tangga.

Hal itu terlihat jelas dari perlakuan Lady Featherington dan Lady Bridgerton yang melarang Penelope serta Eloise membaca buku. Buku dinilai dapat mengacak-acak, bahkan membuat anak mereka bingung.

Sejatinya, menjadi ibu rumah tangga atau perempuan karier adalah pilihan pribadi masing-masing perempuan. Tak ada yang salah mengenai hal tersebut. Daphne dan Eloise lahir dari ibu dan bertumbuh dalam keluarga yang sama, tapi memiliki pilihan berbeda.

"Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan, seperti apa rasanya saat seluruh hidupmu hanya dinilai dari satu momen. Aku dibesarkan untuk ini. Inilah diriku. Aku tidak punya nilai lain. Jika tidak bisa menemukan suami, aku tak berguna," kata Daphne.

"Daphne jatuh cinta. Apa baginya itu sebuah capaian? Berwajah elok dan berambut bagus bukan capaian. Kamu tahu apa itu capaian? Menuntut ilmu di universitas," tutur Eloise.

Tak ada yang salah dari memilih menikah muda atau tidak menjadikan menikah dalam prioritas hidup, apalagi banyak hal yang benar-benar harus dipersiapkan untuk pernikahan.

Permasalahan muncul ketika pilihan hidup seseorang dipaksakan kepada orang lain.

Bridgerton. Kredit: Dok. Netflix.Bridgerton. (Netflix)

Pelecehan Seksual

Kondisi korban pelecehan seksual dalam Bridgerton benar-benar merepresentasikan kondisi di Indonesia dan banyak negara lain.

Korban pelecehan tak berani bersuara karena tidak ada jaminan kepercayaan, keamanan, bahkan keselamatan dari keluarganya sendiri.

Korban cenderung memilih tutup mulut karena keluarga yang seharusnya menjadi pelindung utama malah tidak percaya dengan banyak alasan, salah satunya adalah minim bukti hingga dianggap sebagai aib.

Jamie Beamish berhasil menghidupkan karakter Nigel Berbrooke. Karakternya mampu membuat saya sebagai penonton merasakan ketakutan seperti yang dirasakan Daphne Bridgerton.

Nigel Berbrooke sekilas terlihat seperti laki-laki normal, tidak bermasalah, tidak terlihat di bar atau tempat-tempat prostitusi. Anthony pun setuju memberikan Daphne untuk dipinang Nigel.

Namun, ia tak menyadari bahwa Nigel Berbrooke melihat perempuan hanya sebagai objek, bahkan binatang dan tak memedulikan persetujuan (consent) perempuan untuk berhubungan lebih jauh.

"Saat membeli kuda, saya tidak bernegosiasi dengan kuda," ucap Nigel Berbrooke saat hendak meminang Daphne Bridgerton.

Oleh sebab itu, Bridgerton sejatinya serial yang bisa dengan mudah terhubung dengan penonton di Indonesia meski berlatar belakang di Inggris pada 1813.

[Gambas:Youtube]

Poin plus lainnya dari serial ini adalah soundtrack yang begitu menawan. Latar belakang tempat dan waktu membuat Bridgerton diramaikan dengan banyak pesta dansa, acara minum teh, atau piknik di taman.

Alih-alih menggunakan instrumental lagu klasik, kreator menggunakan lagu-lagu Top 40, seperti Thank U, Next, Wildest Dream, Bad Guy, dan masih banyak lagi.

Tayang pada 25 Desember, Bridgerton menjadi serial yang mewarnai libur Natal dan Tahun Baru dengan amat baik. Serial khusus DEWASA ini bisa disaksikan di Netflix.

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK