Review Film: Layla Majnun

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 12/02/2021 19:11 WIB
Review Film Layla Majnun menilai film yang dibintangi Acha Septriasa dan Reza Rahadian itu memuat kisah cinta klasik Timur Tengah dengan napas Indonesia. Review Film Layla Majnun menilai film yang dibintangi Acha Septriasa dan Reza Rahadian itu memuat kisah cinta klasik Timur Tengah dengan nafas Indonesia. (dok. Starvision/Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saya tidak menduga bila Layla Majnun akan lebih terasa lokal dibandingkan yang saya kira sebelumnya, akibat judul yang menggunakan nama kisah legendaris abad ke-12 karya Nizami Ganjavi tersebut.

Semula, saya membayangkan film yang dibintangi Acha Septriasa dan Reza Rahadian itu akan seutuhnya berisi kisah asli Layla Majnun, cerita cinta tragis nan puitis soal Layla dan Qays dari Azerbaijan.

Ternyata Monty Tiwa selaku sutradara dan penulis memilih menarik esensi legenda itu dan kemudian menggambarkannya dalam latar yang lebih Indonesia, namun dilengkapi dengan suasana Azerbaijan sebagai lokasi awal cerita itu berasal.


Tak ada yang salah dengan keputusan Monty tersebut. Justru saya menganggapnya sebagai kejutan, dalam arti positif. Film ini seperti pelepas dahaga kisah cinta klasik dalam perfilman Indonesia karena dieksekusi dengan cermat.

Saya sebenarnya cenderung skeptis ketika menonton film drama percintaan Indonesia. Selain ceritanya klise, eksekusinya juga biasanya tak membuat saya terkesan. Apalagi, kebanyakan film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tampak lebih piawai menghasilkan film horor dan thriller, dibanding genre lainnya.

Tapi Layla Majnun berhasil memikat saya walau tak membuat hanyut dalam emosi. Setidaknya, saya tidak cemberut, bahkan merasa amat gemas untuk bertemu dengan sineas juga pemainnya dan membahas belasan pertanyaan saya soal film ini.

Layla Majnun sebenarnya masih mengisahkan kisah cinta klise khas masyarakat Indonesia, yang sekaligus membuat saya geregetan. Cinta yang seolah amat rumit bagi perempuan Asia termasuk Indonesia, sulit merdeka dalam mencinta, dan kerap berada dalam tekanan juga tuntutan lingkungan.

Rasa terkejut saya sebenarnya sudah datang sejak babak awal film ini. Awalnya, saya terkesan dengan semangat feminisme dari karakter Layla yang dibawakan oleh Acha dan sempat membuat saya berekspektasi jauh.

Film Layla MajnunReview Film Layla Majnun menilai film yang dibintangi Acha Septriasa dan Reza Rahadian itu memuat kisah cinta klasik Timur Tengah dengan nafas Indonesia. (dok. Starvision/Netflix)

Monty dan penulis Alim Sudio agaknya tak ingin membuat kesenangan saya bertahan lama. Lambat laun, kisah klise yang biasa saya jumpa, baik dalam film juga realita, muncul. Pada akhirnya, Layla versi Acha tetaplah seorang perempuan Indonesia.

Akan tetapi, ekspektasi saya yang sempat turun itu terobati lewat sejumlah formula yang patut dipuji.

Formula itu adalah keputusan mempertahankan kepuitisan legenda Layla Majnun dalam cerita yang juga diterapkan dalam sinematografi, pesona Azerbaijan bukan hanya dari lanskap melainkan juga bahasa dan budaya, dan kepiawaian akting dari Reza-Acha-Baim Wong.

Dengan formula itu, film ini menawarkan lebih dari sekadar cerita cinta klise dalam film drama pada umumnya.

Seberapa sering melihat film cinta klasik yang puitis --bukan sekadar menyelipkan puisi-- ada di film Indonesia? Film jenis ini agaknya muncul hanya beberapa tahun sekali sejak era Ada Apa dengan Cinta? pada awal milenium. Situasi itu yang membuat Layla Majnun seolah memberikan angin segar, apalagi di tengah situasi pandemi yang suram.

Kepuitisan itu juga bukan hanya datang dari dialog, tetapi hingga soal pencahayaan, teknik kamera, sampai pengadeganan yang diatur sedemikian rupa oleh Monty Tiwa. Penonton seolah-olah masuk dalam imaji tanpa terasa ganjil juga norak. Monty memberikannya dengan takaran yang pas.

Film Layla MajnunReview Film Layla Majnun menilai soal kemampuan Reza Rahadian dan Acha Septriasa dalam membawakan karakter dalam film ini sudah tak perlu diragukan. (dok. Starvision Plus/Netflix)

Hanya saja, Monty dan Alim tampak enggan bermain lebih jauh dengan dramatisasi cerita. Pada sebagian adegan, emosi cerita masih terasa tanggung dan menyisakan ruang eksplorasi yang sebenarnya lebih luas juga dalam.

Sementara itu, keputusan mempertahankan bahasa juga budaya asli Azerbaijan turut menjadi salah satu hal yang saya salut dari film ini.

Biasanya yang sudah-sudah, film Indonesia yang syuting di luar negeri hanya meminjam latar tempat dan pemandangan. Banyak rumah produksi menggelontorkan biaya produksi yang mahal hanya untuk mendapatkan "prestise" syuting di luar negeri tanpa memikirkan dengan masak soal kualitas cerita yang disajikan kepada penonton.

Tapi Layla Majnun bukan hanya menjual lanskap indah Azerbaijan, walaupun sebagian besar berlokasi di Baku. Film ini juga mengenalkan penonton soal bahasa, masyarakat, dan budaya dari Negeri Api itu. Hal itu yang membuat film ini terasa makin kaya.

Soal kemampuan Reza Rahadian dan Acha Septriasa dalam membawakan karakter dalam film ini rasanya sudah tak perlu diragukan.

Saya tidak terkejut ketika melihat Reza seolah menjadi pribadi yang lain dalam setiap filmnya, atau Acha yang tetap bisa membawa penonton betah menyaksikan hingga akhir. Namun saya harus akui, saya tak terlalu ikut terbawa emosi dalam sejumlah adegan mereka yang mestinya bisa menguras emosi penonton.

Saya justru terkesan dengan aksi Baim Wong. Baim dengan cakap membawa karakter yang semula menarik simpati kemudian malah mengundang emosi seiring cerita berjalan. Perubahan karakter itu mampu ia bawa dengan mulus dan anehnya bisa dimaklumi, walau tetap membuat sebal.

Di luar dari hal-hal tersebut, Layla Majnun juga memiliki banyak sisipan-sisipan kecil yang terasa terhubung dengan keseharian masyarakat Indonesia. Kadang sisipan itu, baik berupa dialog hingga minuman, membuat saya tertawa kecil.

Pada akhirnya, film Layla Majnun sejatinya memang sebuah film cinta klasik dengan cerita yang lumrah dan akrab bagi banyak orang. Namun pada saat yang bersamaan, film ini terasa angin segar bagi penonton terutama bagi mereka yang ingin merehatkan diri dari kepenatan pandemi.

Film untuk 13+ ini sudah tayang di Netflix per 11 Februari 2021.

[Gambas:Youtube]



(end)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK