Daftar Lagu-lagu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Pengobar Semangat
CNN Indonesia
Rabu, 17 Agu 2022 07:20 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Sejumlah lagu yang dibuat seniman pada masa lalu menggambarkan perjuangan dan semangat membela juga mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. (ANTARA FOTO/MOCH ASIM)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah lagu yang dibuat seniman pada masa lalu menggambarkan perjuangan dan semangat membela juga mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Ketika memperjuangkan kemerdekaan dari tangan penjajah, para seniman dan penggubah lagu tanah air mempergunakan intuisi, keresahan, rasa sedih, hingga semangat yang membara melalui nada.
Tidak jarang, wujud sebuah musikalitas dapat mengubah wacana menjadi makna. Hal yang sama terjadi ketika lagu-lagu perjuangan dimainkan.
Wacana kemerdekaan yang dicanangkan oleh para pejuang, dapat bergulir menjadi kenyataan yang dinikmati saat ini oleh seluruh rakyat Indonesia.
Berikut tujuh lagu perjuangan yang berperan penting dalam proses kemerdekaan bangsa Indonesia.
1. Indonesia Pusaka
Indonesia Pusaka adalah hasil karya komponis legendaris Ismail Marzuki. Berkat lirik dan musikalitasnya yang sarat kemewahan, Indonesia Pusaka kerap kali menggugah para pendengarnya saat pertama kali diputar di perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam liriknya, Ismail Marzuki menggambarkan sebuah refleksi tentang kecintaan terhadap keindahan tanah air Indonesia.
Syukur merupakan lagu yang diciptakan oleh Husein Mutahar. Dengan nada dan aransemen yang serba melankolis, lagu ini mengajak para
Lagu ini mengisahkan tentang rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia yang telah berhasil direnggut dari para penjajah.
Tak hanya itu, lagu ini juga menjadi rasa bakti atas rasa Ketuhanan yang turut hadir dalam momen perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan Indonesia.
Satu lagi buah karya melankolis dari Ismail Marzuki yang justru menggugah semangat para pejuang. Meski banyak menggambarkan suasana alam Indonesia, Rayuan Pulau Kelapa berhasil merekam keresahan Ismail Marzuki.
Keresahan Ismail Marzuki itu dihantarkan menjadi sebuah karya pengobar semangat dengan cara yang lirih dan mendayu-dayu.
Tak hanya itu, mengutip Teguh Esha melalui buku Ismail Marzuki: Musik, Tanah Air, dan Cinta (2005), Edelleit dan Hendra menulis bahwa lagu Rayuan Pulau Kelapa diciptakan Ismail Marzuki pada 1944 sebagai "penghormatan bagi para pejuang Indonesia".
Dilansir melalui keterangan resmi Lembaga Ketahanan Nasional RI, lagu ciptaan Kusbini pada 1942 ini terinspirasi dari momen Sumpah Pemuda yang terjadi pada 1928.
Makna pada lagu ini mengajak para pemuda untuk memaknai rasa bakti pada negara; untuk mencintai negeri dengan sepenuh hati tanpa pamrih.
Lagu Bagimu Negeri tercipta pada tahun 1942 saat Kusbini bertemu dengan Bung Karno (Ir. Soekarno) yang menanyakan ide untuk menciptakan sebuah lagu yang dapat membangkitkan semangat juang.
Pada masa itu pula, Kusbini bekerja sama dengan beberapa komponis lainnya seperti Ismail Marzuki, Cornel Simanjuntak, Sanusi Pane, dan seniman lainnya untuk menciptakan lagu Bagimu Negeri.
Lagu pembangkit semangat ini masih sering mengundang perdebatan atas pencipta orisinalnya.
Menurut katalog lagu yang dilampirkan Ninok Leksono dalam bukunya Seabad Ismail Marzuki Senandung Melintas Zaman (2014), Halo-Halo Bandung masuk dalam kategori lagu ciptaan Ismail Marzuki dan dibuat pada 1945.
Namun Ninok memberikan catatan pada lagu tersebut lantaran masih menimbulkan perdebatan akan keaslian karya Ismail Marzuki.
Dikisahkan Ninok, lagu Halo-Halo Bandung disebut akademisi Remy Silado dalam seminar sehari 'Para Tokoh Sejarah Betawi Abad XIX-XX' pada 2013 merupakan karangan Lumban Tobing.
Lumban merupakan prajurit Siliwangi yang pergi ke Yogyakarta bersama peletonnya dan menyanyikan lagu ini.
Lumban sendiri disebut menggunakan ketenaran lagu Hallo Bandoeng karangan Willy Derby yang telah terkenal sebelumnya pada 1923.
Namun terlepas dari segala kontroversi yang meliputi lagu ini, Halo-Halo Bandung jelas merupakan lagu yang akan mengingatkan kita akan kebesaran hati para pejuang di Bandung kala membakar habis wilayah Bandung selatan dalam peristiwa Bandung Lautan Api.
Tanpa pemuda, kemerdekaan Indonesia tak akan ada dalam genggaman. Semangat inilah yang kemudian dimaknai dan ditekankan oleh Alfred Simanjuntak pada 1943.
Ketika itu, Alfred yang masih berusia 23 tahun adalah seorang guru yang mengajar di Sekolah Rakyat Sempurna di Semarang.
Dalam sebuah wawancara dengan Tempo pada 2012, Alfred mengakui bahwa lagu ini sempat membuatnya masuk dalam buruan nomor satu Jepang.
Dengan lirik yang mengobarkan semangat serta ketukan menghentak, lagu ini adalah daftar putar wajib di setiap perayaan Hari Kemerdekaan dan Sumpah Pemuda.