Pria Inggris Ini Hobi Tamasya ke Wilayah Konflik

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Selasa, 19/01/2016 06:10 WIB
Pria Inggris Ini Hobi Tamasya ke Wilayah Konflik Ilustrasi (Reuters/Khalil Ashawi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di saat jutaan orang meninggalkan Suriah dan Irak akibat konflik berdarah, seorang bos perusahaan konstruksi asal Inggris, Andrew Drury, malah menyambanginya. Drury adalah satu dari sedikit orang yang hobi bertamasya ke wilayah konflik berbahaya.

Diberitakan CNN, pria 50 tahun ini telah bepergian ke beberapa negara yang tengah berkonflik, termasuk wilayah Kurdi di Irak, selemparan batu dari daerah kekuasaan ISIS di Mosul.

Menurut Drury, pertemuannya dengan masyarakat Yazidi di tempat itu sangat tidak bisa dilupakan. Masyarakat Yazidi di wilayah itu menurutnya sangat ramah.


"Pertanyaan yang sulit, seberapa besar risikonya? Kau bisa pergi dengan tentara Kurdi berperang di Mosul. Saya ingin bertemu dengan Yazidi lagi, untuk melihat apakah mereka masih hidup," kata Drury.

Selama 20 tahun terakhir, Drury adalah pemilik perusahaan konstruksi di Surrey, London, sekaligus penantang bahaya. Hasratnya adalah mengunjungi setiap tempat rawan di muka bumi.

Kegemarannya ini bermula saat dia tidak sengaja salah jalan masuk ke perbatasan Republik Demokratis Kongo dalam perjalanan safari di Uganda. Saat itu dia harus melintasi daerah perang, termasuk dikejak oleh para petani bersenjatakan parang.

Kengerian itu justru menjelma menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Drury. Sejak itu, dia mulai mengunjungi negara berbahaya, mulai dari Mogadishu di Somalia dan daerah pemberontakan di Afghanistan.

Dia mengaku pernah mengendap menghindari tentara Rusia di reruntuhan rumah di Chechnya, menyusup di antara militan Ku Klux Klan, bermain golf di Pyongyang, dan bermalam bersama suku pembunuh di Myanmar.

Awalnya dia selalu pergi berdua bersama sepupunya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dia selalu bepergian sendiri.

"Memang berisiko tapi sangat bernilai. Nilainya adalah kau melihat lebih banyak, belajar lebih banyak. Kau tidak dilahirkan untuk bekerja dari pukul sembilan hingga lima. Kau harus menjelajah dan mengerti dunia tempat kau tinggal," ujar Drury.

Perjalanannya ke berbagai tempat membuka mata dan hubungan dengan komunitas lokal. Bahkan saat ini dia merupakan sponsor dari tim basket di kota favoritnya, Mogadishu.

"Orang-orang di Inggris berpikir warga Somalia seluruhnya adalah anggota geng dan pengedar narkoba...tapi tidak orang yang saya kenal. Mereka adalah orang penyayang yang siap mengorbankan nyawa," lanjut drury.

Rencanakan perjalanan

Untuk setiap perjalanannya, Drury menyewa agen perjalanan yang andal. Untuk perjalanan ke Suriah, dia meriset setiap lokasi sebelum datang.

Salah satu agen perjalanan untuk wisata berbahaya adalah Untamed Borders yang melayani wisata ke negara-negara konflik. Persiapan ke daerah rawan membutuhkan persiapan berbulan-bulan, untuk mengantisipasi risiko sekecil apapun.

"Jika saya akan mengunjungi Kirkuk [Irak], saya mempelajari jalan yang akan saya ambil, desanya seperti apa, siapa yang mereka dukung. Jadi jika terjadi sesuatu pada saya, saya punya pengetahuan soal daerah tersebut," jelas Drury.

Untuk daerah yang sering terjadi penculikan terhadap warga Inggris, Drury punya tips. Dia mengatakan, jangan pernah mengatakan tujuanmu kepada siapa pun, termasuk orang-orang yang dipercaya.

"Jika seseorang ingin bertemu lagi denganmu, katakanlah, saya akan terbang besok," jelas Drury.

Pria Inggris ini juga kerap bertemu dengan intelijen Barat dalam kunjungannya, termasuk seorang "pekerja binatu" intel AS di Kurdistan. Beberapa rahasia juga diperolehnya, salah satunya adalah lantai rahasia di sebuah hotel di Pyongyang.

Kendati memasuki daerah berbahaya, masalah terbesarnya justru bukan ketakutan, tapi keadaan tanpa rasa takut.

"Sekarang saya takut untuk tidak merasa takut. Saya harus tetap takut untuk membuat tetap waspada," tegas dia.

Pariwisata negara konflik menjadi tren belakangan ini dengan jumlah peserta yang semakin banyak. Studi Organisasi Pariwisata Dunia PBB, UNWTO, mencatat wisata bernilai US$265 miliar per tahunnya. (den)