Salah satu anggota kelompok Santoso yang ditangkap Densus pada September 2012 itu ialah Badri. Ia ditangkap subuh ketika berjalan di dekat rumahnya. Di rumah Badri, polisi menemukan 11 detonator, pipa yang digunakan sebagai casing bom, bahan-bahan kimia seperti urea, belerang, dan campuran lainnya, dokumen-dokumen, serta buku-buku jihad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seknarionya, kelompok Daeng Koro akan menyerang polisi agar polisi mengejar mereka ke Gunung Biru, Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, yang menjadi basis Mujahidin Indonesia Timur. Di Gunung Biru itu, ranjau telah disiapkan untuk para polisi.
Polri bersama TNI langsung turun ke Tamanjeka untuk melakukan pengejaran. Hasilnya menyedihkan. Dua polisi yang diculik ditemukan tewas mengenaskan. Mereka dikubur dalam satu lubang. Sementara senjata kedua polisi itu hilang dirampas. (Baca juga: Diduga Tewas, Daeng Koro Sedikitnya Terlibat 9 Aksi Terorisme).
Daeng Koro tewas pekan lalu dalam baku tembak antara Densus 88 dengan kelompoknya di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. (Baca juga: Keluarga Yakin yang Tewas Daeng Koro)
Sebelumnya, Densus terlibat kontak senjata sekitar satu jam dengan 12 orang tak dikenal di Pegunungan Sakina Jaya. Ledakan bom mewarnai tembak-menembak itu. Dari baku tembak itu, Densus menyita barang bukti berupa dua pucuk senjata laras panjang jenis M-16, satu pucuk senjata rakitan, satu bom lontong, ratusan amunisi, dua ponsel, dan GPS.
Simak selengkapnya di FOKUS: Akhir Perlawanan Daeng Koro. (hel/agk)