Daeng Koro, si Kopral Dua Asal Bantul yang Bikin Geger

Helmi Firdaus, CNN Indonesia | Senin, 06/04/2015 08:32 WIB
Daeng Koro, si Kopral Dua Asal Bantul yang Bikin Geger Personel Inafis memeriksa tempat kejadian perkara tewasnya Daeng Koro di pegunungan Desa Sakina Jaya Kecamatan Parigi Utara, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4). (Antara/Zainuddin MN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Daeng Koro alias Sabar Subagyo termasuk salah satu teroris yang paling dicari Kepolisian selama ini. Dia tewas dalam penggerebekan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Jumat (3/4), di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Daeng Koro adalah lelaki kelahiran Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. "Dia lahir 15 Januari 1963," kata Kepala Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen Wuryanto kepada CNN Indonesia, Minggu malam (5/4).

Daeng Koro alias Sabar memiliki tiga anak setelah menikah, dua anak laki-laki dan satu perempuan. Anak dan istri Daeng Koro, menurut Wakapolri Komjen Badrodin Haiti, telah dibawa ke Mapolda Sulawesi Tengah untuk melakukan identifikasi fisik sekaligus pengambilan sampel DNA guna dicocokkan dengan jenazah teroris yang diyakini sebagai Daeng Koro. (Baca juga: Keluarga Yakin yang Tewas Daeng Koro).


Daeng Koro tahun 1982 bergabung dengan Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus). Namun saat mengikuti tes komando, dia tidak lulus. Dia hanya ditempatkan di bagian pelayanan. Salah satu yang mencolok dari Daeng Koro ketika itu ialah kemampuannya bermain voli. (Baca: Daeng Koro, Pecatan Kopassus yang Hanya Bisa Main Voli).

Dia lalu pada 1985 dipindahkan ke Brigade Infanteri 3 Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat --sebelumnya bernama Grup 3 Kopasandha-- di Maros, Sulawesi Selatan. Di tempat ini Daeng Koro terus bermain voli sebelum akhirnya dipecat pada 1992 karena ketahuan berselingkuh dengan istri orang pada 1988. (Baca: Daeng Koro Dipecat karena Selingkuhi Istri Orang).

Secara kemiliteran, Daeng Koro, bukan orang dengan kemampuan dan karier militer yang bagus. Pangkat terakhir yang dia sandang adalah balok satu di lengan alias Kopral Dua (Kopda). "Saat dipecat, pangkat terakhirnya ya Kopda, sebelum akhirnya gabung kelompok teroris Santoso," kata Wuryanto. (Baca juga: Bergabungnya Daeng Koro dengan Kelompok Santoso)

Daeng Koro tewas dalam baku tembak antara Densus 88 dengan kelompoknya di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4). Kejadian bermula dari laporan warga yang melihat enam orang tak dikenal di sekitar kediaman mereka selepas salat Jumat. Warga kemudian melaporkan hal itu ke Mapolres Parimo.

Tim Densus 88 Antiteror lalu melakukan penyisiran dan melihat sekitar 12 orang tak dikenal. Saat itu tembakan peringatan dilepas, dan kelompok Daeng Koro membalas dengan rentetan tembakan. (Baca juga: Baku Tembak Densus dan Jaringan Santoso Disertai Ledakan Bom)

Dari baku tembak tersebut, Densus menyita barang bukti dua pucuk senjata laras panjang jenis M-16 dan satu pucuk senjata rakitan, satu bom lontong, ratusan amunisi, dua ponsel, dan GPS.   
         
Baca selengkapnya kisang sang teroris di FOKUS: Akhir Perlawanan Daeng Koro.



(agk)