Tewasnya Daeng Koro disebut pengamat terorisme Al Chaidar sebagai prestasi luar biasa bagi Polri. “Gunung Biru yang menjadi tempat persembunyian kelompok Santoso itu hutan yang luas. Mencari anggota kelompok itu di sana seperti mencari jarum di tumpukan jerami,” kata dia kepada CNN Indonesia, Senin (6/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu yang mesti diwaspadai Polri adalah serangan balasan. “Tapi kemungkinan serangan balasan itu tergantung kemampuan dan kesempatan kelompok itu,” kata dia.
Aksi balas dendam Daeng Koro saat itu menewaskan dua anggota Polres Poso. (Baca: Aksi Balas Dendam Daeng Koro ke Densus Tewaskan Dua Polisi)
Pasca tewasnya Daeng Koro, menurut Al Chaidar, bisa jadi kelompoknya yang berjumlah sekitar 60 orang menyusun rencana baru, termasuk aksi balasan. Inilah yang harus terus dipantau oleh Polri.
Baca sepak terjang kelompok teroris ini di FOKUS: Akhir Perlawanan Daeng Koro
Daeng Koro dan Santoso pada tahun 2013 disebut Ansyaad Mbai yang saat itu menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sebagai teroris berbahaya di Indonesia. Mereka bersama-sama melatih calon teroris di Poso, Sulawesi Tengah. (Baca Daeng dan Santoso: Duet Teroris Paling Berbahaya di RI) (agk)