"Ini karena ada oknum-oknum lapas yang terbina oleh Saudara FB (Freddy Budiman). Artinya ada suatu harapan yang didapat sipir tersebut," kata Anjan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dugaan tersebut, penyidik Polri telah memeriksa dua sipir di Nusakambangan dan seorang sipir di Cipinang.
"Kalau nanti merembet ke mana," kata Anjan sambil menunjuk ke atas, "Kami akan teruskan."
Freddy Budiman sebelumnya dijemput tim Direktorat Narkotik Mabes Polri dari Nusakambangan. Penjemputan ini dilakukan dalam rangka pengembangan kasus peredaran narkotik di Jakarta Barat.
Tak lama setelah Freddy diboyong Jakarta, Bareskrim melalukan penggeledahan di Lapas Cipinang dan Salemba. Dalam penggeledahan ditemukan narkotik jenis baru bermama CC4.
Kekuatan CC4 disebut 10 kali lebih kuat dibandingkan pil ekstasi. Bentuk narkotik jenis baru ini seperti perangko dan disebut juga ekstasi kertas. (Baca juga Kabareskrim: Efek CC4 Bisa Buat Pemakainya Bunuh Diri)
Simak selengkapnya kisah raja narkoba itu di FOKUS: Narkotik Anyar dari Balik Jeruji
Freddy diketahui menjadi otak pengiriman narkotik pada 2012 silam. Dia dicokok setelah anak buahnya tertangkap Badan Narkotika Nasional ketika hendak menyelundupkan 1,4 juta pil ekstasi dari Tiongkok.
Dari penangkapan itu terungkap penyelundupan tersebut dilakukan atas perintah Freddy. Padahal kala itu ia telah mendekam di balik penjara Cipinang.
Berselang satu tahun, Freddy akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat atas dakwaan menjadi otak penyelundupan. Dia sempat mengajukan peninjauan kembali atau grasi, namun tak berhasil mendapatkannya. (agk)