Demonstrasi yang dimotori lembaga advokasi buruh Migrant Care itu dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Selain berorasi, pengunjuk rasa melemparkan telur busuk di depan gedung Kedutaan Saudi. Telur busuk itu disimbolkan sebagai sikap busuk Saudi yang mengeksekusi mati WNI tanpa memberi notifikasi ke pemerintah RI maupun pihak keluarga. (Baca Kemlu: TKI Karni Juga Dipancung Saudi Tanpa Beri Tahu RI)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Anis, ada 279 TKI lain yang saat ini terancam eksekusi mati. Pemerintah Indonesia pun diminta melindungi para TKI itu dari hukuman mati sekalipun mereka didakwa dalam kasus kejahatan pembunuhan.
"Mereka sehari kerja 18 jam, tidak ada libur, tidak ada istirahat, hak-haknya tidak terpenuhi. Kami minta Presiden Jokowi tidak tinggal diam. Kami minta ada perbaikan tata kelola perlindungan buruh, termasuk TKI," kata Anis.
Sampai aksi berakhir siang ini, pihak Kedutaan Besar Arab Saudi tidak menemui para demonstran. Adapun aksi solidaritas TKI ini akan dilanjutkan di depan Istana Negara sore ini.
Simak selengkapnya FOKUS: Nasib Siti Dipancung di Saudi
Selasa (14/4), Siti Zaenab dieksekusi mati karena menusuk perut majikannya ketika dia djambak, dipukuli, dan dicekik oleh sang majikan. (Baca: Kronologi Siti Zaenab hingga Dihukum Mati di Saudi)
Kamis kemarin (16/4), giliran Karni dipancung akibat membunuh anak majikannya yang berusia empat tahun dengan cara disembelih saat tidur. (Baca Kemlu: TKI Karni Sembelih Anak Majikan, Disorot Luas di Saudi)
Untuk diketahui, di bawah hukum Saudi pembunuh bisa terlepas dari hukuman mati hanya jika mendapat pengampunan dari keluarga korban. Pada kasus Siti Zaenab dan Karni, keduanya tak memperoleh maaf dari keluarga korban.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Christiawan Nasir mengatakan pemerintah Arab Saudi sudah melakukan eksekusi mati tanpa notifikasi kepada 61 terpidana sejak awal 2015. Dari 61 terpidana mati tersebut, sebanyak 25 orang merupakan warga negara asing dan 36 lainnya warga lokal. (agk)