Direktur Cyrus Network Hasan Nisbi berpendapat pria yang sukses membangun karier sebagai arsitek tersebut sengaja menjadikan KAA sebagai panggung politik. Menurut pendapatnya, Ridwan memanfaatkan ajang internasional itu untuk menaikkan tingkat popularitasnya di mata publik. (Baca Juga: Ridwan Kamil Bacakan Dasasila Bandung dalam Bahasa Inggris)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasan berkata, jenjang karier Ridwan selanjutnya di kancah perpolitikan tentu saja bukanlah pemilihan presiden. Karena wilayah yang dia pimpin saat ini merupakan kota, maka level berikutnya bagi Ridwan adalah bertarung di pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017 mendatang.
Membandingkan Ridwan dengan Ahok, peneliti Center for Strategic and International Studies Philips Vermonte mengatakan, keduanya sama-sama memilki kelebihan dan kekurangan.
Sebagai arsitek, Ridwan unggul dalam program tata kota. Masifnya pembangunan taman dan ruang terbuka hijau di Kota Kembang tidak dapat disamai Ahok di ibukota.
"Aspek tata kota Ahok terbengkalai karena dia fokus menangani urusan politik birokratis yang menurutnya merupakan akar permasalahan Jakarta. Ini berbeda dengan Ridwan yang berlatarbelakang arsitek," kata Philips.
Meski demikian Philips menuturkan Ridwan tidak begitu lihai dalam urusan perpolitikan dan birokrasi. "Dia menyerahkan urusan politik pada wakilnya," ucap Philips.
Memimpin Kota Bandung merupakan pengalaman pertama Ridwan dalam kancah perpolitikan. Sebelumnya, ia banyak bergiat di bidang arsitektur. Saat terpilih pada tahun 2013, Ridwan berpasangan dengan Oded Muhamad Danial. Saat itu keduanya diusung Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra.
Hasil perhitungan suara yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Kota Bandung, Ridwan dan Oded memperoleh 45,24 persen suara. Mereka unggul jauh atas pasangan-pasangan lain. Lawan terberat mereka adalah Edi Siswandi dan Erwan Setiawan. Calon yang diusung Partai Demokrat, Partai Hanura, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Bulan Bintang ini meraup hanya 17,67 persen suara. (utd)