Ahok Sebut Tragedi Mei Mencoreng Muka Indonesia

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2015 12:04 WIB
Apalagi sebut Ahok tragedi itu terjadi di Indonesia yang beradab, negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melayani pertanyaan wartawan di Balai Kota, Jakarta, Senin, 17 November 2014.(CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memandang Tragedi Mei 1998 sebagai salah satu momen yang memalukan dalam sejarah Indonesia sampai saat ini.

Menurut Ahok—sapaan Basuki—hilang dan meninggalnya beberapa aktivis serta warga Indonesia 17 tahun lalu sangat mencoreng muka Indonesia di mata Internasional. Oleh karena itu, ia berharap agar kejadian serupa tidak lagi terulang di masa yang akan datang.

" Bagi saya, itu (Tragedi Mei 1998) adalah sebuah kejadian yang sangat mencoreng muka bangsa dan negara," ujar Ahok di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (13/5).


Ahok juga mengatakan bahwa pendirian Prasasti Mei '98 di TPU Pondok Ranggon, yang diresmikan pada hari ini, bertujuan untuk membuat masyarakat Indonesia tidak mudah melupakan kejadian berdarah 17 tahun silam.

Mantan Bupati Belitung Timur itu berharap, pendirian Prasasti Mei '98 mampu mencegah terulangnya kerusuhan dan pembunuhan terhadap aktivis di Indonesia kedepannya. (Baca juga: Ahok Minta Jokowi Tuntaskan Penegakan Hukum Tragedi Mei 98)

"Kita ingin dengan ada monumen tersebut agar peristiwa Mei '98 tidak terulang lagi. Apalagi di negara beradab ini, negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, itu sama sekali hal yang memalukan," kata Ahok.

Berdasarkan laporan "Sujud di Hadapan Korban Tragedi Jakarta Mei 1998" yang dikeluarkan oleh Tim Relawan untuk Kemanusiaan, setidaknya ada 1.217 jiwa yang meninggal, 91 orang luka, serta 31 orang hilang akibat Tragedi Mei yang terjadi pada 13 hingga 15 Mei 1998. (Baca juga: Ibu Korban Tragedi Mei '98: Memori Kerusuhan Tak Juga Hilang)

Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Mariana Amiruddin menyatakan korban pemerkosaan saat Tragedi Mei 1998 masih memilih bungkam hingga kini. Mereka mengalami trauma luar biasa yang membuat mereka enggan bercerita kepada orang lain.(Baca juga: 17 Tahun Berjuang, Saudara Wiji Thukul Tak Pernah Lelah)

Dijelaskan Mariana, selain karena kasus pemerkosaan itu sendiri, para korban juga merasa tertekan karena tidak ada orang lain yang mempercayai kejadian tersebut. Apalagi, negara juga belum mengakui kejadian pemerkosaan dalam Tragedi Mei 1998 hingga kini. (Baca juga: JK: Pemerintah Sudah Upaya Maksimal usut Tragedi Mei 98).

BACA FOKUS: Menanti Sikap Jokowi soal Mei 98

(hel)