LIPUTAN KHUSUS
Soeharto Sampai Mati Tak Mau Bertemu Habibie
Rosmiyati Dewi Kandi | CNN Indonesia
Kamis, 21 Mei 2015 16:44 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie tiba di kediaman Presiden Soeharto jam 8 malam tanggal 20 Mei 1998. Di beranda rumah Jalan Cendana Nomor 8, Habibie menitipkan pesan kepada ajudan Soeharto, Komisaris Besar Sutanto untuk meminta waktu bertemu.
Tak butuh waktu lama bagi Sutanto yang menjabat Kapolri periode 8 Juli 2005-30 September 2008 untuk mengantarkan jawaban Soeharto atas permintaan bertemu Habibie. "Pesan Pak Harto ke Pak Habibie, enggak mau ketemu, besok saja di Istana. Itu saja," kata pengawal pribadi Soeharto, Letnan Kolonel (Purnawirawan) TNI I Gusti Nyoman Suweden saat berbincang dengan CNN Indonesia di ruang kerjanya hari ini, Kamis (21/5).
Mendengar jawaban itu, Habibie meninggalkan Cendana. Membawa kembali surat penolakan menjadi menteri Kabinet Reformasi yang ditandatangani 14 menteri dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Harmoko. Sementara di Cendana 8 yang disulap menjadi kantor, Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursjid dan Yusril Ihza Mahendra tengah berkutat dengan kata, paragraf, dan kalimat untuk menyusun pidato pengunduran diri sang presiden esok pagi, 21 Mei 1998.
Dalam percakapan satu dua kalimat antara Soeharto dan Suweden, presiden kedua Republik Indonesia itu mengatakan, "Biar sampai mati tidak mau ketemu." Ucapan itu terlontar begitu saja saat ada pembicaraan mengenai Habibie. Suweden yang cukup mengenal karakter Soeharto yang irit bicara bergeming, hanya menyimak dan merasai kekecewaan sang presiden kepada Habibie. (Baca juga: Terbang dari Jerman untuk Menemui Soeharto, Habibie Ditolak)
Menurut Suweden, seperti yang kerap dituturkan Soeharto kepada dirinya, Habibie bagi Sang Jenderal Besar itu sudah seperti anak sendiri. Tapi karena lebih banyak diam, Soeharto tak banyak mengemukakan perasaan tentang situasi genting yang membuat dia memutuskan berhenti dari jabatan presiden dan mendiamkan banyak orang terdekatnya.
Suweden yang telah menjadi pengawal pribadi Soeharto sejak tahun 1986 hingga bosnya wafat tahun 2008 itu menggambarkan bosnya sebagai orang yang bijak dan tak meledak-ledak. Dia lebih banyak diam dan menyimpan sendiri semua persoalan yang terjadi. "Kalau sudah terlalu mengganjal baru ngomong. Itu pun cuma satu atau dua kalimat," tutur Suweden mengenang.
Tak butuh waktu lama bagi Sutanto yang menjabat Kapolri periode 8 Juli 2005-30 September 2008 untuk mengantarkan jawaban Soeharto atas permintaan bertemu Habibie. "Pesan Pak Harto ke Pak Habibie, enggak mau ketemu, besok saja di Istana. Itu saja," kata pengawal pribadi Soeharto, Letnan Kolonel (Purnawirawan) TNI I Gusti Nyoman Suweden saat berbincang dengan CNN Indonesia di ruang kerjanya hari ini, Kamis (21/5).
Mendengar jawaban itu, Habibie meninggalkan Cendana. Membawa kembali surat penolakan menjadi menteri Kabinet Reformasi yang ditandatangani 14 menteri dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Harmoko. Sementara di Cendana 8 yang disulap menjadi kantor, Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursjid dan Yusril Ihza Mahendra tengah berkutat dengan kata, paragraf, dan kalimat untuk menyusun pidato pengunduran diri sang presiden esok pagi, 21 Mei 1998.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Suweden, seperti yang kerap dituturkan Soeharto kepada dirinya, Habibie bagi Sang Jenderal Besar itu sudah seperti anak sendiri. Tapi karena lebih banyak diam, Soeharto tak banyak mengemukakan perasaan tentang situasi genting yang membuat dia memutuskan berhenti dari jabatan presiden dan mendiamkan banyak orang terdekatnya.
Suweden yang telah menjadi pengawal pribadi Soeharto sejak tahun 1986 hingga bosnya wafat tahun 2008 itu menggambarkan bosnya sebagai orang yang bijak dan tak meledak-ledak. Dia lebih banyak diam dan menyimpan sendiri semua persoalan yang terjadi. "Kalau sudah terlalu mengganjal baru ngomong. Itu pun cuma satu atau dua kalimat," tutur Suweden mengenang.
Soeharto Ubah Naskah Pengunduran Diri
BACA HALAMAN BERIKUTNYA