"Hari ini rencananya saudara DI (Denny Indrayana) kembali diperiksa Bareskrim," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Agus Rianto melalui pesan singkatnya, Selasa (26/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi menyebut Denny sebagai penggagas sekaligus penanggungjawab dalam implementasi sistem yang kini menjeratnya. Sebelum kembali memeriksa Denny, penyidik Bareskrim telah memeriksa memeriksa Direktur Utama Bank Central Asia Jahja Setiatmadja sebagai saksi dalam kasus ini.
Penampungan tersebut melanggar hukum karena seharusnya dana langsung disetorkan ke kas negara setelah diterima dari pemohon. Hal tersebut diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). (Baca juga: Tiga Kasus Korupsi Membayangi Denny)
Sebelum Denny mencetuskan proyek Payment Gateway, Kementerian Keuangan sudah mempunyai sistem penerimaan negara bukan pajak yang disebut Simponi. Sistem tersebut, merujuk pada laman Kemenkeu.go.id, menyediakan layanan bagi wajib bayar untuk menyetor melalui berbagai layanan pembayaran seperti teller, anjungan tunai mandiri (ATM), Electronic Data Capture (EDC) maupun internet banking.
Layanan tersebut kurang lebih serupa dengan yang ditawarkan dalam program Payment Gateway. Hanya saja, dalam sistem tersebut aliran dana langsung disetorkan ke kas negara dan pemohon paspor tidak dipungut biaya tambahan. (sur)