Rentan Jadi Kurir Narkotik, Perempuan Diimbau Tak Pacari WNA

Resty Armenia, CNN Indonesia | Jumat, 26/06/2015 13:03 WIB
Kepala Badan Narkotika Nasional Anang Iskandar mengimbau perempuan berhati-hati saat menjalin komunikasi dengan warga negara asing. BNN menggagalkan jaringan sindikat narkotika yang melibatkan satu WNI dan tiga WNA Hongkong dengan barang bukti sabu 49.351 gram pada Jumat 13 Maret 2015, diduga kuat sabu dalam jumlah besar ini dipasok melalui jalur laut. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Anang Iskandar mengingatkan agar para perempuan Indonesia tidak sembarangan berkomunikasi dengan warga negara asing. Pasalnya, selama ini banyak perempuan warga negara Indonesia (WNI) dijadikan kurir narkoba sampai harus dipenjara negara lain.

"Banyak WNI khususnya wanita yang saat ini menghuni lapas negara lain. Itu semua karena narkoba," kata Anang di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (26/6).

Oleh sebab itu, Anang merasa perlu diberikannya pemahanan dan informasi pada perempuan agar mereka tidak mudah terjerat peredaran narkoba. Selain itu, para perempuan juga dianjurkan untuk tidak sembarangan melakukan kontak dengan orang asing. (Baca juga: Kepala BNN: Pengguna Narkotik Sama Seperti Orang Sakit Gula)


"Jangan sembarangan berkomunikasi dengan orang asing, apalagi dipacari. Apalagi yang pacari itu sindikat narkotik," katanya.

Biasanya, pengedar narkotik itu menggunakan modus dengan menjalin hubungan asmara dengan perempuan Indonesia. Para perempuan ini lalu diberi hadiah tiket pesawat, diberi uang, dan beberapa iming-iming lain.

"Mereka mudah sekali tergiur, tidak tahu di belakangnya itu ada modus untuk dijadikan kurir narkoba," kata Anang.

Salah satu WNI yang menjadi kurir narkoba adalah Wanipah. Ia adalah TKI yang menunggu hukuman mati di China. Ketua Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) Imam Ghozali mengungkapkan, Wanipah ditangkap kepolisian China pada 2011. Saat itu, dalam kopernya kedapatan heroin seberat 1 kilogram. (Baca juga: Wanipah Batal Dihukum Mati, Orang Tua Minta Diantar ke China)

Wanipah kemudian divonis hukuman mati. Imam menjelaskan, Wanipah mengaku seseorang berkewarganegaraan China menitipkan barang kepadanya. Orang tersebut hanya mengatakan bahwa barang itu nanti akan ada yang mengambil ketika turun di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta. "Barang yang dititipkan itu ternyata heroin. Wanipah tidak tahu menahu. Dia hanya dititipi barang oleh seseorang berwarga negera China," kata Imam.

Namun, kepolisian China tidak memercayai keterangan Wanipah. Kepolisian China mendakwa Wanipah adalah bagian dari sindikat narkotik internasional. China kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada Wanipah pada 2012. Vonis itu kemudian mendapatkan penundaan pelaksanaannya selama dua tahun.

Imam menuturkan, berdasarkan cerita orang tuanya, Nasriah, Wanipah hanyalah lulusan sekolah dasar (SD). Sebelum dia ke China, pada 2007 Wanipah pergi menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Singapura. Hampir tiga tahun kemudian dia kembali ke Indonesia.

Imam yakin, dengan latar belakang pendidikan yang rendah dan keinginan yang kuat untuk menghidup keluarga, Wanipah bukanlah bagian dari jaringan narkotik internasional. Wanipah hanyalah korban. "Wanipah ini korban. Kasusnya serupa dengan Mary Jane, terpidana mati asal Filipina," ujar Iman. (sur/sur)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK