“Sejak tahun 1971 waktu saya masih menjadi lawyer di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) yang didirikan Bang Buyung, hingga kemudian berpisah, sampai sekarang, kami masih berkomunikasi baik,” kata Assegaf kepada CNN Indonesia.
Assegaf mengatakan, dia adalah orang yang pertama kali khatam dari LBH Jakarta. Lembaga itu berdiri pada 1970 dan Buyung menjadi ketua pertamanya. Pendirian LBH Jakarta tak mulus, dan baru terbuka jalan saat Buyung mendekati tangan kanan Soeharto, Ali Moertopo.
Lihat juga:Ternyata 'Buyung' Bukan Nama Aslimu |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artidjo ialah hakim agung yang belakangan banyak disorot atas keputusan-keputusannya dalam kasus besar. Ia misalnya memperberat vonis politikus Demokrat Angelina Sondakh dari 4 tahun menjadi 12 tahun penjara.
Selain tokoh-tokoh itu, ujar Assegaf, “Ada juga lawyer top seperti Todung Mulya Lubis, diplomat Nazaruddin Nasution. Banyak juga anak buah Bang Buyung di Komnas HAM.”
“Di semua institusi, pada ada jejak Bang Buyung Nasution,” kata pemilik Mohamad Assegaf Law Firm itu.
Di mata Assegaf, Buyung ialah orang yang ringan hati membantu sesama. “Ketika lagi susah, saya selalu dibantu beliau. Pengalaman-pengalaman Bang Buyung sebagai lawyer menyerap betul pada saya,” kata dia.
Di RS, Buyung dipasangi alat bantu pernapasan atau ventilator, dan satu alat lain. Namun satu alat semalam dilepas dari tubuhnya.
Sebelum tenar sebagai pengacara, Buyung mengawali kariernya dengan menjadi Kepala Humas Kejaksaan Agung tahun 1957-1968. Dia juga pernah menjadi anggota DPRS/MPRS periode 1966-1968 dan Ketua Dewan Pengurus Lembaga Bantuan Hukum tahun 1970-1986.
Buyung juga pernah menjadi Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia periode 1981-1983. Konsultan Hukum Adnan Buyung & Associates yang dia dirikan sejak 1969 sampai saat ini masih terus menangani sejumlah kasus hukum. (agk)