"Penangkapan ini membuktikan Papua masih belum dilihat dalam situasi setara, non diskriminasi dan dianggap sebagai subyek hukum yang punya hak sama seperti Warga Negara Indonesia (WNI)," kata Koordinator KontraS Haris Azhar melalui pernyataan yang diterima CNN Indonesia, Rabu (2/12).
"Publik harus tahu saat ini pemerintah Indonesia melalui Kantor Staf Kepresidenan tengah gencar merancang kampanye untuk memunculkan berita baik seputar Papua sebelum Jokowi berkunjung ke Papua pada 10 Desember nanti," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, pembebasan tahanan politik Filep Karma juga dinilai sebagai bagian dari politik pencitraan tersebut.
Selain menangkap ratusan mahasiswa Papua yang berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Haris mengatakan polisi juga melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap sejumlah jurnalis asing yang sedang meliput.
Mereka adalah Step Vaessen (Al-Jazeera), Chris B (Bloomberg), Archicco Guiliano (ABC Australia) dan wartawan BBC.
"Mereka dipaksa menghapus video dan foto aksi pembubaran paksa. Pemukulan menggunakan rotan juga diarahkan kepada jurnalis asing yang meliput aksi," kata Haris.
Sebelumnya, ratusan mahasiswa asal Papua dikumpulkan di Polda Metro Jaya pasca unjuk rasa berujung rusuh di Bundaran Hotel Indonesia, Selasa (1/12).
Pantauan CNN Indonesia, para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasisa Papua (AMP) ini dikumpulkan di Lapangan Sabhara.
Mereka yang sudah didata diminta masuk ke Gedung Sabhara. Jumlah yang sudah didata ada 135 orang. Sementara ratusan lainnya masih di luar gedung.
Sebagian dari mereka terlihat mengenakan atribut AMP. Ada pula yang mengenakan pakaian adat Papua.
(utd)