Jusuf Kalla: Komunisme Paham Gagal, Tak Bakal Tumbuh

Aulia Bintang Pratama, Alfani Roosy Andinni, CNN Indonesia | Jumat, 13/05/2016 16:11 WIB
Jusuf Kalla: Komunisme Paham Gagal, Tak Bakal Tumbuh Jusuf Kalla menganggap kemunculan kembali isu komunisme sebagai ajang cari perhatian belaka. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemunculan kembali isu komunisme terkait penemuan atribut palu-arit di sana-sini oleh aparat penegak hukum dianggap Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai ajang cari perhatian belaka.

“Komunisme ini sebuah paham dan itu terbukti gagal. Hampir di semua negara, paham itu tak ada lagi. Saya tak percaya akan ada paham komunisme yang bisa tumbuh di kondisi sekarang,” kata Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden RI, Jumat (13/5).

Di Indonesia pun, ujar JK, komunisme tak ada lagi. Ia mengatakan tak khawatir dengan isu kebangkitan komunisme.


JK berkata, negara-negara yang dulu menganut komunisme seperti Rusia, China, dan Kuba kini tak sepenuhnya komunis. Satu-satunya negara yang masih bertahan dengan komunismenya, ujar JK, ialah Korea Utara pimpinan Kim Jong Un.
Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi I Bidang Pertahanan DPR Hanafi Rais meminta pemerintah tak berlebihan menyikapi isu penyebaran komunisme.

“Boleh waspada tapi jangan paranoid. Saya kira reaksi pemerintah proporsional saja. Tidak boleh cuek tapi juga jangan overacting," kata Hanafi.

Sebelumnya, aparat kepolisian menangkap dua penjual kaus bergambar palu-arit di pusat perbelanjaan Blok M. Palu-arit dianggap sebagai lambang yang identik dengan Partai Komunis Indonesia. Akhirnya kedua pedagang itu dibebaskan karena tak terbukti melakukan pidana.

Polisi juga menyita tujuh buku yang diduga berisi ajaran komunisme dari toko swalayan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sementara di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Komandan Disrtik Militer 0862 Pamekasan mewaspadai kemungkinan penyebaran kaus berlambang palu arit kepada siswa di sekolah-sekolah di daerah itu.

Tak perlu pendekatan militer

Hanafi mengatakan, pemerintah perlu menyadari komunisme muncul karena masalah ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang justru disebabkan oleh negara sendiri. Oleh sebab itu ia meminta realisasi program nawacita pemerintah Jokowi berjalan baik.

“Jadi tidak perlu menggunakan pendekatan militer. Pemerintah harus memastikan nawacita membawa kesejahteraan rakyat dan kebahagiaan untuk warganya yang paling tertindas sekalipun. Dengan demikian komunisme otomatis tak laku lagi," ucap politikus Partai Amanat Nasional itu.

[Gambas:Video CNN]

Senada, anggota DPR dari Fraksi PDIP Masinton Pasaribu mengatakan pelarangan buku dan atribut bukan hal tepat untuk melawan komunisme, sebab pikiran harus dilawan dengan pikiran.

"Yang dilarang pada zaman Orde Baru itu pemberangusan terhadap ide dan pikiran. Buku dilarang, gagasan dibungkam, protes dipenjara. Itu yang disebut represif Orde Baru 32 tahun," kata Masinton.

Dia khawatir sikap berlebihan dari pemerintah dan aparat penegak hukum justru memancing rasa penasaran dan menimbulkan perlawanan seperti yang terjadi pada tahun 1998.

"Razia buku, baju, membubarkan diskusi, itu bukan hal yang bisa memenjarakan pikiran. Itu enggak penting," ucap Masinton.

Apalagi, menurut dia, saat ini sudah tidak ada lagi yang tertarik dengan komunisme.

“Negara kita memiliki paham Pancasila. Jadi enggak perlu khawatir dengan buku-buku dan baju-baju yang dianggap kiri. PKI sudah enggak ada," ucap Masinton.
(agk)