Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers yang Dilupakan

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Senin, 22/08/2016 09:01 WIB
Mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2006 tak lantas membuat nama Tirto Adhi Soerjo mudah diingat meski kontribusinya melawan kolonial Belanda sangat besar. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
Vonis dibuang enam bulan terbilang “ringan” lantaran Tirto memiliki forum privilegiatum sebagai seseorang dengan latar belakang bangsawan. Latar belakang itulah yang membuat Tirto tidak perlu menjalani hukuman penjara atau yang lebih berat lagi.

Namun hukuman itu ternyata lebih dari sekadar dibuang. Jika selepas dari Telukbetung Tirto masih mendapat sambutan hangat, bahkan menuliskan kisahnya selama di pembuangan dalam sejumlah artikel di MP, lain halnya dengan Ambon.

Tahun 1912 bagi Tirto adalah masa ketika dia tidak dapat lolos dari timbunan kesulitan. Dikutip CNNIndonesia.com dari Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer, surat rahasia Bouwer kepada Idenburg di Batavia menyatakan, Tirto juga disandera sejumlah warga lantaran tak bisa membayar utang.


“Pada 22 Agustus 1912, Raden Mas Tirto redaktur kepala surat kabar Medan Prijaji yang penerbitannya dihentikan sejak 22 Agustus 1912 karena utang-utangnya, berada di Bogor dalam penyanderaan sipil,” tulis Bouwer dalam surat tertanggal 21 April 1913.

Penyanderaan itu mendapat ketetapan dari Pengadilan Bogor sekaligus mengabaikan forum privilegiatum yang dimiliki Tirto.


Jika menghitung periode 22 Agustus 1912-21 April 1913, berarti tak kurang delapan bulan siksaan batin itu Tirto alami. Tidak ada sahabat dan keluarga yang menebusnya. Tidak ada kejelasan berapa sebenarnya jumlah utang Tirto hingga harus disandera. Tuduhan-tuduhan penipuan terhadap dirinya pun tidak pernah disidangkan dalam perkara pidana.

Ajun Penasihat untuk Urusan Pribumi Dr DA Rinkes dalam surat kepada Idenburg tertanggal 24 Agustus 1912 menyatakan, Naamloze Vennotschap (NV) Medan Prijaji sudah lama berada dalam likuidasi. Kepemilikan Tirto atas Hotel Medan Prijaji yang terletak di Jalan Kramat Raya, Betawi, juga tidak jelas.

Tirto bahkan dituduh menggelapkan uang f750, tudingan yang tidak pernah diikuti dengan penuntutan. Hingga akhir hayatnya, segala tuduhan pidana yang pernah dialamatkan kepada Tirto, tidak pernah sampai ke muka pengadilan.

Tentang masa pembuangan Tirto di Ambon, hanya ada satu sumber tercetak yang menceritakan sedikit kisahnya yaitu S Hassannoesi—keponakan RM Hassannoesi yang rumahnya ditinggali Tirto. Dia menyebut Tirto sebagai sosok pemberani, terbuka hati, menyayangi anak-anak dan sesama manusia.

“Makannya sedikit sekali dan suka membaca buku-buku serta pendiam dan pendirian teguh,” tulis Hassannoesi.

Hassannoesi mengaku, dia mendengar Tirto berucap akan pergi ke Jepang jika masa pembuangannya sudah selesai dan mengajak Jepang meruntuhkan penjajahan di Hindia Belanda.

Selain itu, tidak ada jejak Tirto selama dalam penyanderaan, dibuang, hingga kembali ke Batavia. Bapak Pers Indonesia itu hanya disebut menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya di Hotel Medan Prijaji, properti yang disebut miliknya namun diambil alih pihak lain.


“Sampai dengan meninggalnya pada 7 Desember 1918 dalam usia sangat muda itu, masih tetap tidak ada keterangan ia menderita sakit apa, dan mengapa dalam keadaan sakit bisa begitu lama tinggal di hotel,” tulis Pram.

Menurut Pram, para Penasihat Urusan Pribumi Hindia Belanda nampaknya memang telah berhasil menampilkannya sebagai orang yang tidak keruan.

Cicit Tirto, Raden Mas Joko Prawoto Mulyadi atau biasa disapa Okky Tirto, mengaku tak pernah mendengar kabar buyutnya tersebut. Menurut Okky, tidak ada tradisi kelisanan di dalam keluarganya, keturunan Tirto, yang menceritakan secara lengkap dan terbuka tentang sosok perintis pers pribumi itu.

“Cuma ayah saya berpesan, jangan bicara tentang Tirto jika belum baca buku Pram, Sang Pemula, makanya kami keluarga sangat berterima kasih kepada Pram,” kata Okky saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (19/8). Ayah Okky adalah RM Dicky Permadi Priatman, putra dari RM Priatman—putra sulung Tirto.

Menyimpang dari Kasta Bangsawan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK