Kaleidoskop 2018

Tragedi 'Singa Udara' Lion Air di Laut Karawang

CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 13:41 WIB
Personel TNI AL berjaga di dekat puing-puing pesawat Lion Air JT 610. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober 2018. Pesawat nahas tersebut hilang kontak setelah 13 menit lepas landas dari bandara internasional Soekarno-Hatta pada pukul 06.20 WIB.

Pesawat itu mengangkut 189 orang. Rinciannya 178 penumpang dewasa, satu anak-anak, dan dua bayi. Sedangkan, untuk awak pesawat berjumlah delapan orang. Diantara ratusan penumpang itu, terdapat warga negara asing dari Italia dan India.

Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi memastikan pesawat Boeing 737 MAX 8 yang digunakan Lion Air itu jatuh tak lama setelah Air Traffic Controller melaporkan pesawat hilang kontak pada pukul 06.33 WIB. Kepastian jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 diumumkan oleh Basarnas di kantor Basarnas, Senin (29/10).


Usai Basarnas mengumumkan jatuhnya pesawat satu per satu keluarga korban mendatangi Posko pencarian korban Lion Air JT 601 di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang dan Bandara Soekarno-Hatta.

Operasi pencarian korban besar-besaran dimulai sejak Senin (29/10) siang. Tim gabungan Basarnas, TNI AL, dan relawan penyelam mulai melakukan pencarian. Posko pencarian korban dipusatkan di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara. Setiap potongan tubuh korban dan serpihan pesawat yang ditemukan dari perairan Tanjung Pakis dibawa ke Posko JICT. Potongan tubuh kemudian dibawa ke RS Polri untuk diidentifikasi.


Penyelam Batalyon Intai Amfibi TNI AL berhasil menemukan Flight Data Recorder (FDR) pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP, pada pencarian tanggal 1 November 2018. FDR memuat rekaman data penerbangan pesawat.

Proses pencarian korban Lion Air memakan korban dari relawan. Seorang relawan bernama Syachrul Anto (48) meninggal dunia usai menyelam pada pencarian hari ketiga pencarian. Anto meninggal diduga karena mengalami dekompresi. Kondisi ini muncul ketika tubuh merasakan perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat, sehingga nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ.

Insiden jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP mendapat perhatian khusus Presiden Joko Widodo. Dia sempat datang ke Posko JICT untuk meninjau langsung proses pencarian korban.

Insiden 'Singa Udara' 29 Oktober

Basarnas akhirnya memutuskan untuk menghentikan operasi pencarian pada 10 November 2018. Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi mengatakan operasi dihentikan karena jumlah temuan potongan korban dan serpihan pesawat semakin sedikit. Hingga pencarian berakhir , Voice Cockpit Recorder (VCR) yang berisi rekaman percakapan pilot dengan petugas ATC tak ditemukan.

Sejak operasi pencarian dimulai 29 Oktober hingga 10 November 2018 tim menemukan 196 kantong jenazah yang berisi sekitar 666 potongan tubuh korban. Semua potongan bagian tubuh korban itu telah diserahkan ke RS Polri untuk diidentifikasi.

Sebanyak 189 penumpang dan awak pesawat Lion Air dipastikan meninggal. Tim Disaster victim Identification (DVI) Mabes Polri telah mengidentifikasi 125 penumpang. Sebanyak 64 korban tak teridentifikasi hingga proses identifikasi dihentikan Minggu, 23 November 2018. Korban yang teridentifikasi terdiri dari 89 laki-laki dan 36 perempuan.

(dni/ugo)
1 dari 2