Jakarta, CNN Indonesia -- Nasiruddin yang menjadi pelaku pengaturan skor SEA Games 2015 pernah melakukan praktek serupa di Indonesia, demikian dinyatakan seorang sumber yang dekat dengan salah seorang pelaku pengaturan skor di Indonesia.
"Ya, Nasiruddin satu jaringan [dengan seorang pelaku pengaturan skor di tanah air]," kata sumber kepada CNN Indonesia, "Profesinya sama, yaitu sebagai
runner."
"Pal yang tertangkap bersama Nasiruddin adalah bandarnya."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip
Reuters, Nasiruddin, seorang wasit asal Indonesia, berkonspirasi dengan dua orang lainnya untuk memberi pengurus tim Timor Leste, Orlando Marques Henriques Mendes, uang sejumlah S$15 ribu untuk memastikan Timor Leste mengalah pada laga melawan Malaysia pada 30 Mei lalu. Laga tersebut berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Malaysia namun kedua tim sama-sama tidak lolos dari fase grup.
Selain Nasiruddin, seorang warga negara Singapura Rajendran "Pal" Kurusamy dan seorang warga negara Timor Leste Moises Natalino De Jesus juga ditangkap polisi pada 31 Mei lalu. Pada Selasa (21/7), Singapura memberikan Nasiruddin hukuman 30 bulan penjara.
Sumber CNN juga mengatakan, Nasiruddin dan seorang pelaku pengaturan skor di Indonesia yang dekat dengannya pernah sama-sama mengatur satu pertandingan.
Ia kemudian menyatakan bahwa dihukumnya Nasiruddin oleh Singapura bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan terobosan dalam pemberantasan pengaturan skor.
"Pemerintah bisa lebih proaktif lagi. Kan bisa menghubungi pihak Singapura untuk bertanya lebih lanjut soal
match fixing ini."
Indikasi bahwa Nasiruddin pernah melakukan pengaturan skor juga diberikan oleh Direktur Hukum sekaligus Kuasa Hukum PSSI, Aristo Pangaribuan.
Menurut Aristo, Nasiruddin adalah seorang wasit yang pernah dihukum larangan beraktivitas apapun di sepak bola Indonesia selama 10 tahun karena dinilai tidak adil dalam memimpin pertandingan.
"Namun tidak sampai ke tahap penyelidikan tindak pidana pengaturan skor karena tidak ada delik aduan. Memang, ada indikasi ke arah pengaturan skor, tapi tidak cukup bukti untuk dilaporkan ke polisi," kata Aristo.
(vws)