TESTIMONI

Tri Kusharjanto: Sukses 'Anak Tiri' Ganda Campuran

Tri Kusharjanto, CNN Indonesia | Rabu, 14/10/2020 19:07 WIB
Tri Kusharjanto menjadi salah satu legenda badminton Indonesia yang melewati perjalanan berliku dan perlakuan tak mengenakkan. Tri Kusharjanto dikenal sebagai atlet spesialis ganda campuran. (AFP/TORSTEN BLACKWOOD)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama saya boleh dibilang cukup lekat dengan badminton ganda campuran Indonesia karena karier saya banyak dihabiskan di sektor itu, meski sebenarnya awal saya bergabung, bermain di nomor tunggal putra.

Orang mengenal saya dengan berbagai variasi nama. Ada yang menulis Trikus Harjanto, Tri Kusheryanto, atau Trikus Haryanto, tetapi yang benar nama lahir saya adalah Tri Kusharjanto.

Tidak ada masalah dengan nama-nama tersebut, toh berbagai versi nama tadi tetap merujuk pada saya.


Dikenal sebagai atlet badminton adalah doa orang tua yang terwujud. Sejak kecil orang tua saya, khususnya almarhum bapak, mendorong saya menjadi atlet olahraga ini.

Bapak bukan atlet, tetapi beliau sekadar suka badminton dan punya feeling yang bagus terhadap saya. Sebenarnya kalau urusan main badminton, kakak saya lebih bagus. Tetapi bapak merasa saya, sebagai anak bontot, punya potensi dan semangat yang lebih.

Perkenalan dengan raket dan kok sudah dimulai sejak saya kira-kira lima tahun. Saya pun suka dan menekuni dengan senang hati. Setiap hari saya latihan bersama bapak dan akhirnya beliau memasukkan saya di klub Sinar Mataram Yogyakarta.

Di level anak-anak saya menang-menang terus, sehingga bapak berpikir saya harus keluar Yogyakarta untuk mengembangkan bakat dan potensi.

"Kamu ini harus ke luar Yogya, kalau di sini terus enggak bakal maju dan berkembang", kata bapak waktu itu.

Harapan bapak pun terjawab karena kebetulan klub Sinar Mataram Yogyakarta memiliki kerjasama untuk menyalurkan bakat dengan klub di Jember.

Selepas SD saya pun pindah ke Jember untuk sekolah dan berlatih badminton di sana. Sampai di Jember, saya seperti anak-anak lain, berlatih dan punya mimpi bisa masuk pelatnas PBSI.

Indonesia's Tri Kusharyanto raises his arms in victory after he and partner Minarti Timur defeated Great Britain's Simon Archer and Joanne Goode 2-15, 17-15, 15-11 in the semifinal of the mixed doubles badminton at the Sydney Olympic Park 20 September 2000. The Indonesians will meet China's Zhang Jun and Gao Ling in the final. AFP PHOTO/Robyn BECK (Photo by ROBYN BECK / AFP)Tri Kusharjanto mengawali kisah di badminton sebagai atlet tunggal putra. (Photo by ROBYN BECK / AFP)

Tetapi buat anak daerah dan hanya main di klub kecil seperti saya, pelatnas itu adalah target yang terlalu muluk. Beda cerita dengan anak-anak di sekitar Jakarta atau mereka yang bermain di klub punya nama besar seperti Djarum, Jaya Raya, Pelita.

Usaha saya menemukan jalan ke pelatnas baru terbuka ketika saya 18 tahun, saat mengikuti kejuaraan Sirkuit Nasional di Surabaya.

Saya yang waktu itu masih main di nomor tunggal bisa menjadi juara setelah mengalahkan pemain-pemain pelatnas pratama dari babak delapan besar, semifinal, dan final. Waktu itu saya satu-satunya anak daerah yang bisa juara.

Keberhasilan saya waktu itu membuat almarhum MF Siregar, mantan Sekjen PBSI, bicara di media, "Itu [Tri] harus diambil [ke pelatnas]."

Sementara mas Icuk (Sugiarto) juga bilang, "Kalau enggak diambil kita punya bibit kapan lagi yang potensial seperti ini?"

Akhirnya saya masuk pelatnas pada 1993, tidak lama setelah pelatnas PBSI di Cipayung diresmikan. Masuk pelatnas dan berada di gedung baru ternyata menghadirkan tantangan baru bagi saya. Di pelatnas kalau mau sukses dan jadi juara memang banyak lika-liku dan kerikilnya, sebagai salah satu contoh ya latihan yang berat.

Sempat saya sakit tipes gara-gara latihan berat dan telat makan. Jadi saya waktu itu setelah latihan berat tidak segera makan. Masalahnya saya sungkan masuk ke tempat makan yang waktu itu masih ada pemain-pemain senior yang belum selesai makan. Sebetulnya ya enggak apa-apa masuk dan makan, tetapi pemain-pemain junior seperti saya merasa enggan.

Icuk Sugiarto (batik biru) mengadakan jumpa pers di salah satu restoran di Sudirman, Jakarta (18/3) (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat P.H.)Mantan pemain tunggal putra Indonesia, Icuk Sugiarto, memantau bakat Tri Kusharjanto sebelum masuk pelatnas PBSI. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat P.H.)

Saya sakit dan pulang ke Yogyakarta. Setelah satu bulan di kampung halaman, saya mendapat panggilan kembali ke pelatnas. Balik lagi ke pelatnas, saya memberanikan diri untuk menyatakan keinginan pindah dari sektor tunggal putra ke ganda campuran. Saya merasa ada kendala fisik, sementara main di nomor tunggal butuh kekuatan ekstra.

Pelatih saya ketika itu mas Triaji memberi waktu untuk saya memikirkan keseriusan pindah ke ganda campuran. Setelah satu bulan menimbang-nimbang, tekad saya bulat main di ganda campuran. Pelatih pun setuju, saya akhirnya pindah ke nomor ganda campuran.

Main ganda campuran bukan sesuatu yang baru bagi saya. Waktu masih di Jember saya sudah biasa di beberapa nomor yaitu main tunggal dan ganda campuran. Lagi pula saya merasa main tunggal putra dan ganda campuran itu mirip, sama-sama harus cover area yang sama luasnya.

Awal 1994 saya mulai berlatih di sektor ganda campuran. Di sektor ganda campuran ternyata ada hal lain yang tidak saya temukan seperti di tunggal putra. Di tempat yang baru ini saya merasa jadi anak tiri karena tidak mendapat tempat dan seolah-olah disingkirkan. Saya merasa ada perlakuan yang beda.

Saya ceritakan hal itu kepada kakak dan bapak. Mereka bilang kalau saya bisa melewati segala rintangan itu saya bisa menjadi nomor satu. Dari situ saya merasa terpancing.

GIF Banner Promo Testimoni

Hal lain lagi yang membuat saya termotivasi ingin membuktikan diri adalah keberadaan atlet-atlet yang tiba-tiba latihan di pelatnas tanpa prestasi. Saya pikir kok orang itu bisa masuk ke pelatnas tanpa pernah jadi juara.

Saya pun menambah porsi latihan, dari yang tadinya tiga jam saya tambah sendiri jadi enam jam. Hasilnya saya dikirim ke kejuaraan-kejuaraan. Biarpun saya di kirim ke kejuaraan, saya tetap merasa ada yang mengganjal karena pasangan saya selalu diganti-ganti.

Sempat terbersit pikiran jelek di benak saya, mungkin ini adalah cara agar saya tidak bisa maju. Tetapi saya sadar dan segera membuang anggapan tersebut, yang penting main bagus saja.

Akhirnya pada Oktober 1994 saya dipasangkan dengan Minarti Timur. Saya jadi pasangan Minarti karena mas Joko Mardianto cedera. Mas Joko adalah partner asli Minarti. Awalnya pelatih sempat mau memasangkan Minarti dengan anak emasnya, namun Minarti menolak dan memilih saya.

Permintaan Minarti disetujui dan kami kemudian menjadi juara di Thailand dan Hong Kong, serta semifinalis di China. Itu awal karier saya melesat dan membuat nama saya begitu lengket dengan ganda campuran.

Kalau dibilang orang pertama yang menjadi spesialis ganda campuran sebenarnya sebelum saya ada beberapa pemain lain, tetapi kebetulan saya bisa langsung dapat prestasi dan konsisten.

Sampai sekarang saya bersyukur ganda campuran ini masih bisa mempertahankan tradisi lewat Nova Widianto dan Tontowi Ahmad.

Sekarang perkembangan ganda campuran bagus dan sudah dianggap setara, kalau zaman saya dulu jauh sekali perbedaannya dengan nomor-nomor lain.

Bisa dibilang ganda campuran itu adalah anak tiri. Beda dengan nomor tunggal atau ganda lainnya. Kontrak pemain ganda campuran waktu itu juga beda sendiri. Di samping itu, untuk urusan prestasi masih dipandang sebelah mata.

Kalau dalam sebuah kejuaraan, kemudian yang juara hanya ganda campuran maka itu dianggap gagal. Berbeda jika yang menjadi juara hanya dari nomor tunggal, itu malah dinilai sukses.

Makanya waktu itu pusing juga, saya juara kok masih dianggapnya gagal, hahaha.

Emas Olimpiade yang Melayang dan Juara Piala Thomas

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2