Tri Kusharjanto: Sukses 'Anak Tiri' Ganda Campuran
Tri Kusharjanto | CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2020 19:07 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tri Kusharjanto dikenal sebagai atlet spesialis ganda campuran. (AFP/TORSTEN BLACKWOOD)
Jakarta, CNN Indonesia --
Nama saya boleh dibilang cukup lekat dengan badminton ganda campuran Indonesia karena karier saya banyak dihabiskan di sektor itu, meski sebenarnya awal saya bergabung, bermain di nomor tunggal putra.
Orang mengenal saya dengan berbagai variasi nama. Ada yang menulis Trikus Harjanto, Tri Kusheryanto, atau Trikus Haryanto, tetapi yang benar nama lahir saya adalah Tri Kusharjanto.
Tidak ada masalah dengan nama-nama tersebut, toh berbagai versi nama tadi tetap merujuk pada saya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikenal sebagai atlet badminton adalah doa orang tua yang terwujud. Sejak kecil orang tua saya, khususnya almarhum bapak, mendorong saya menjadi atlet olahraga ini.
Bapak bukan atlet, tetapi beliau sekadar suka badminton dan punya feeling yang bagus terhadap saya. Sebenarnya kalau urusan main badminton, kakak saya lebih bagus. Tetapi bapak merasa saya, sebagai anak bontot, punya potensi dan semangat yang lebih.
Perkenalan dengan raket dan kok sudah dimulai sejak saya kira-kira lima tahun. Saya pun suka dan menekuni dengan senang hati. Setiap hari saya latihan bersama bapak dan akhirnya beliau memasukkan saya di klub Sinar Mataram Yogyakarta.
Di level anak-anak saya menang-menang terus, sehingga bapak berpikir saya harus keluar Yogyakarta untuk mengembangkan bakat dan potensi.
"Kamu ini harus ke luar Yogya, kalau di sini terus enggak bakal maju dan berkembang", kata bapak waktu itu.
Harapan bapak pun terjawab karena kebetulan klub Sinar Mataram Yogyakarta memiliki kerjasama untuk menyalurkan bakat dengan klub di Jember.
Selepas SD saya pun pindah ke Jember untuk sekolah dan berlatih badminton di sana. Sampai di Jember, saya seperti anak-anak lain, berlatih dan punya mimpi bisa masuk pelatnas PBSI.
Tri Kusharjanto mengawali kisah di badminton sebagai atlet tunggal putra. (Photo by ROBYN BECK / AFP)
Tetapi buat anak daerah dan hanya main di klub kecil seperti saya, pelatnas itu adalah target yang terlalu muluk. Beda cerita dengan anak-anak di sekitar Jakarta atau mereka yang bermain di klub punya nama besar seperti Djarum, Jaya Raya, Pelita.
Usaha saya menemukan jalan ke pelatnas baru terbuka ketika saya 18 tahun, saat mengikuti kejuaraan Sirkuit Nasional di Surabaya.
Saya yang waktu itu masih main di nomor tunggal bisa menjadi juara setelah mengalahkan pemain-pemain pelatnas pratama dari babak delapan besar, semifinal, dan final. Waktu itu saya satu-satunya anak daerah yang bisa juara.
Keberhasilan saya waktu itu membuat almarhum MF Siregar, mantan Sekjen PBSI, bicara di media, "Itu [Tri] harus diambil [ke pelatnas]."
Sementara mas Icuk (Sugiarto) juga bilang, "Kalau enggak diambil kita punya bibit kapan lagi yang potensial seperti ini?"
Akhirnya saya masuk pelatnas pada 1993, tidak lama setelah pelatnas PBSI di Cipayung diresmikan. Masuk pelatnas dan berada di gedung baru ternyata menghadirkan tantangan baru bagi saya. Di pelatnas kalau mau sukses dan jadi juara memang banyak lika-liku dan kerikilnya, sebagai salah satu contoh ya latihan yang berat.
Sempat saya sakit tipes gara-gara latihan berat dan telat makan. Jadi saya waktu itu setelah latihan berat tidak segera makan. Masalahnya saya sungkan masuk ke tempat makan yang waktu itu masih ada pemain-pemain senior yang belum selesai makan. Sebetulnya ya enggak apa-apa masuk dan makan, tetapi pemain-pemain junior seperti saya merasa enggan.
Mantan pemain tunggal putra Indonesia, Icuk Sugiarto, memantau bakat Tri Kusharjanto sebelum masuk pelatnas PBSI. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat P.H.)
Saya sakit dan pulang ke Yogyakarta. Setelah satu bulan di kampung halaman, saya mendapat panggilan kembali ke pelatnas. Balik lagi ke pelatnas, saya memberanikan diri untuk menyatakan keinginan pindah dari sektor tunggal putra ke ganda campuran. Saya merasa ada kendala fisik, sementara main di nomor tunggal butuh kekuatan ekstra.
Pelatih saya ketika itu mas Triaji memberi waktu untuk saya memikirkan keseriusan pindah ke ganda campuran. Setelah satu bulan menimbang-nimbang, tekad saya bulat main di ganda campuran. Pelatih pun setuju, saya akhirnya pindah ke nomor ganda campuran.
Main ganda campuran bukan sesuatu yang baru bagi saya. Waktu masih di Jember saya sudah biasa di beberapa nomor yaitu main tunggal dan ganda campuran. Lagi pula saya merasa main tunggal putra dan ganda campuran itu mirip, sama-sama harus cover area yang sama luasnya.
Awal 1994 saya mulai berlatih di sektor ganda campuran. Di sektor ganda campuran ternyata ada hal lain yang tidak saya temukan seperti di tunggal putra. Di tempat yang baru ini saya merasa jadi anak tiri karena tidak mendapat tempat dan seolah-olah disingkirkan. Saya merasa ada perlakuan yang beda.
Saya ceritakan hal itu kepada kakak dan bapak. Mereka bilang kalau saya bisa melewati segala rintangan itu saya bisa menjadi nomor satu. Dari situ saya merasa terpancing.
Hal lain lagi yang membuat saya termotivasi ingin membuktikan diri adalah keberadaan atlet-atlet yang tiba-tiba latihan di pelatnas tanpa prestasi. Saya pikir kok orang itu bisa masuk ke pelatnas tanpa pernah jadi juara.
Saya pun menambah porsi latihan, dari yang tadinya tiga jam saya tambah sendiri jadi enam jam. Hasilnya saya dikirim ke kejuaraan-kejuaraan. Biarpun saya di kirim ke kejuaraan, saya tetap merasa ada yang mengganjal karena pasangan saya selalu diganti-ganti.
Sempat terbersit pikiran jelek di benak saya, mungkin ini adalah cara agar saya tidak bisa maju. Tetapi saya sadar dan segera membuang anggapan tersebut, yang penting main bagus saja.
Akhirnya pada Oktober 1994 saya dipasangkan dengan Minarti Timur. Saya jadi pasangan Minarti karena mas Joko Mardianto cedera. Mas Joko adalah partner asli Minarti. Awalnya pelatih sempat mau memasangkan Minarti dengan anak emasnya, namun Minarti menolak dan memilih saya.
Permintaan Minarti disetujui dan kami kemudian menjadi juara di Thailand dan Hong Kong, serta semifinalis di China. Itu awal karier saya melesat dan membuat nama saya begitu lengket dengan ganda campuran.
Kalau dibilang orang pertama yang menjadi spesialis ganda campuran sebenarnya sebelum saya ada beberapa pemain lain, tetapi kebetulan saya bisa langsung dapat prestasi dan konsisten.
Sampai sekarang saya bersyukur ganda campuran ini masih bisa mempertahankan tradisi lewat Nova Widianto dan Tontowi Ahmad.
Sekarang perkembangan ganda campuran bagus dan sudah dianggap setara, kalau zaman saya dulu jauh sekali perbedaannya dengan nomor-nomor lain.
Bisa dibilang ganda campuran itu adalah anak tiri. Beda dengan nomor tunggal atau ganda lainnya. Kontrak pemain ganda campuran waktu itu juga beda sendiri. Di samping itu, untuk urusan prestasi masih dipandang sebelah mata.
Kalau dalam sebuah kejuaraan, kemudian yang juara hanya ganda campuran maka itu dianggap gagal. Berbeda jika yang menjadi juara hanya dari nomor tunggal, itu malah dinilai sukses.
Makanya waktu itu pusing juga, saya juara kok masih dianggapnya gagal, hahaha.
Kalau untuk prestasi jelas Olimpiade 2000 adalah capaian terbaik saya. Harusnya saya dapat emas waktu itu.
Dalam setahun itu kan kita harus mengumpulkan poin untuk Olimpiade. Saya dari 1999-2000 itu tak tergoyahkan, peringkat saya di puncak. Tapi memang kalau di Olimpiade itu ada saja halangan, siapa pun pernah mengalami angkernya Olimpiade.
Yang biasa juara, bisa enggak jadi juara. Begitupun sebaliknya. Yang biasanya enggak juara, malah bisa jadi juara. Olimpiade diadakan setiap empat tahun sekali dan pasti ada yang seperti itu.
Saya waktu itu berpikir optimistis saja. Tetapi ketika masuk semifinal saya sudah merasa ada yang aneh karena nyaris kalah dari pasangan Inggris Simon Archer/Joane Goode. Set pertama kalah 2-15, set kedua hampir kalah, tapi akhirnya menang 17-15, dan menang 15-11 di set ketiga.
Menang di semifinal membuat banyak orang menjagokan saya dan Minarti yang merupakan unggulan pertama. Lawan dari China, Zhang Jun/Gao Ling, itu kita bertemu kira-kira enam kali dalam satu tahun dan mereka tidak pernah bisa dapat lebih dari empat atau lima poin dalam setiap pertandingan.
Di Olimpiade 2000 ada tiga wakil Indonesia di final. Ganda campuran, ganda putra (Tony Gunawan/Chandra Wijaya), dan tunggal putra (Hendrawan). Dari tiga peluang itu, ganda campuran sudah dibilang orang-orang pasti dapat emas.
Set pertama menang 15-1. Set kedua sudah unggul 13-8 atau 13-9. Ternyata kami kekunci di angka 13 dan kalah 13-15.
Itu saya enggak habis pikir. Mungkin saya waktu itu terlalu nafsu, terlalu buru-buru, ingin cepat-cepat karena situasi pada waktu itu. Sementara lawan justru semakin yakin dan selalu bisa dapat poin. Itu lah kendala orang-orang di Olimpiade, semakin disoraki semakin nafsu. Padahal kita seharusnya mesti sabar.
Tri Kusharjanto (kiri) bersama Haryanto Arbi di kejuaraan dunia veteran. (Dok. Pribadi)
Pas rubber set game ketiga, pelatih saya kak Richard Mainaky ngomong, "Udah tahan aja, gimana caranya elo tahan aja."
Saya tahan terus dan hasilnya kalah, skor set ketiga 11-15.
Selesai pertandingan sebenarnya saya masih memiliki harapan meraih emas meskipun kalah, yaitu lewat tes doping. Saya berharap lawan enggak lolos tes doping, hahaha.
Biar bagaimana pun itu adalah harapan. Tetapi, setelah tes doping berlangsung doa saya tidak dikabulkan dan rezeki saya memang perak olimpiade.
Berat hati saya merelakan lawan mendapat emas. Tetapi memang lawan layak. Dari hari pertama mereka bermain bagus, waktu itu mereka juga mengalahkan Kim Dong Moon/Ra Kyung Min yang merupakan salah satu pasangan kuat di babak perempat final.
Saya harus ikhlas, tetapi kekalahan Olimpiade benar-benar memukul saya. Rasa penyesalan itu tetap ada bertahan di dalam diri sampai seminggu, bahkan sampai pulang ke Indonesia pun masih teringat terus. Makanya dulu itu saya malas nonton rekaman video pertandingan itu karena bikin sakit hati, hahaha.
Catatan lain di karier saya yang cukup mengesankan juga adalah di Piala Thomas 2002. Indonesia waktu itu kekurangan pemain. Kalau tidak salah waktu itu PBSI yang dipimpin pak Chairul Tanjung mau memanggil Tony Gunawan dari Amerika Serikat, namun gagal.
Kemudian saya dipanggil memperkuat tim Thomas. Saya tahun itu memang main rangkap. Selain masih main di ganda campuran bersama Emma Ermawati, juga main di ganda putra dengan mas Bambang Suprianto.
Dipanggil ke tim Thomas, saya punya prinsip. Saya di ganda campuran, sehingga kalau mau panggil saya harus bersama pasangan saya mas Bambang Suprianto. Karena saya dan mas Bambang kan bareng di ganda putra dan pada 2001 saya juga pernah juara Asia sama mas Bambang mengalahkan Tony/Candra Wijaya.
Pada saat itu pak Chairul memanggil saya dan menjelaskan bahwa tim membutuhkan saya. Saya pun mengaku siap dan tidak keberatan, tetapi dengan satu syarat asalkan pasangan saya ikut. Ternyata syarat tersebut direstui.
Untuk bermain saya tidak masalah dengan siapa pun. Siap dipasangkan dengan siapa saja. Buktinya di Thomas Cup 2002 saya dipercaya main terus dengan Halim Haryanto.
Di final, lawan Malaysia, saya juga main bareng Halim. Waktu itu posisinya di final Marleve Mainaky yang main tunggal pertama kalah, Candra Wijaya/Sigit Budiarto menang, dan Taufik kalah. Padahal Candra/Sigit dan Taufik waktu itu jadi andalan meraih poin bersama dengan Hendrawan yang main di partai kelima.
Ketika Taufik kalah, tim Malaysia unggul 2-1 dan sudah peluk-pelukan. Merasa sudah pasti menang dan pada partai keempat saya dan Halim tidak diperhitungkan melawan Choong Tan Fook/Lee Wan Wah. Saya cuma ngomong sama Halim agar tidak usah berpikir banyak yang penting main sebaik mungkin. Saya beranggapan yang penting kita berusaha dulu.
Kalau kata orang-orang, saya mainnya kayak setan pas di final. Jadi waktu itu memang saya merasa terus menerus mengejar kok, kemanapun kok diarahkan. Akhirnya kami menang dan terakhir Hendrawan menang.
Itulah catatan yang menyenangkan, saya sebagai satu-satunya pemain ganda campuran yang bisa menang Piala Thomas. Ya Alhamdulillah berarti saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepada saya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Nama saya boleh dibilang cukup lekat dengan badminton ganda campuran Indonesia karena karier saya banyak dihabiskan di sektor itu, meski sebenarnya awal saya bergabung, bermain di nomor tunggal putra.
Orang mengenal saya dengan berbagai variasi nama. Ada yang menulis Trikus Harjanto, Tri Kusheryanto, atau Trikus Haryanto, tetapi yang benar nama lahir saya adalah Tri Kusharjanto.
Tidak ada masalah dengan nama-nama tersebut, toh berbagai versi nama tadi tetap merujuk pada saya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikenal sebagai atlet badminton adalah doa orang tua yang terwujud. Sejak kecil orang tua saya, khususnya almarhum bapak, mendorong saya menjadi atlet olahraga ini.
Bapak bukan atlet, tetapi beliau sekadar suka badminton dan punya feeling yang bagus terhadap saya. Sebenarnya kalau urusan main badminton, kakak saya lebih bagus. Tetapi bapak merasa saya, sebagai anak bontot, punya potensi dan semangat yang lebih.
Perkenalan dengan raket dan kok sudah dimulai sejak saya kira-kira lima tahun. Saya pun suka dan menekuni dengan senang hati. Setiap hari saya latihan bersama bapak dan akhirnya beliau memasukkan saya di klub Sinar Mataram Yogyakarta.
Di level anak-anak saya menang-menang terus, sehingga bapak berpikir saya harus keluar Yogyakarta untuk mengembangkan bakat dan potensi.
"Kamu ini harus ke luar Yogya, kalau di sini terus enggak bakal maju dan berkembang", kata bapak waktu itu.
Harapan bapak pun terjawab karena kebetulan klub Sinar Mataram Yogyakarta memiliki kerjasama untuk menyalurkan bakat dengan klub di Jember.
Selepas SD saya pun pindah ke Jember untuk sekolah dan berlatih badminton di sana. Sampai di Jember, saya seperti anak-anak lain, berlatih dan punya mimpi bisa masuk pelatnas PBSI.
Tri Kusharjanto mengawali kisah di badminton sebagai atlet tunggal putra. (Photo by ROBYN BECK / AFP)
Tetapi buat anak daerah dan hanya main di klub kecil seperti saya, pelatnas itu adalah target yang terlalu muluk. Beda cerita dengan anak-anak di sekitar Jakarta atau mereka yang bermain di klub punya nama besar seperti Djarum, Jaya Raya, Pelita.
Usaha saya menemukan jalan ke pelatnas baru terbuka ketika saya 18 tahun, saat mengikuti kejuaraan Sirkuit Nasional di Surabaya.
Saya yang waktu itu masih main di nomor tunggal bisa menjadi juara setelah mengalahkan pemain-pemain pelatnas pratama dari babak delapan besar, semifinal, dan final. Waktu itu saya satu-satunya anak daerah yang bisa juara.
Keberhasilan saya waktu itu membuat almarhum MF Siregar, mantan Sekjen PBSI, bicara di media, "Itu [Tri] harus diambil [ke pelatnas]."
Sementara mas Icuk (Sugiarto) juga bilang, "Kalau enggak diambil kita punya bibit kapan lagi yang potensial seperti ini?"
Akhirnya saya masuk pelatnas pada 1993, tidak lama setelah pelatnas PBSI di Cipayung diresmikan. Masuk pelatnas dan berada di gedung baru ternyata menghadirkan tantangan baru bagi saya. Di pelatnas kalau mau sukses dan jadi juara memang banyak lika-liku dan kerikilnya, sebagai salah satu contoh ya latihan yang berat.
Sempat saya sakit tipes gara-gara latihan berat dan telat makan. Jadi saya waktu itu setelah latihan berat tidak segera makan. Masalahnya saya sungkan masuk ke tempat makan yang waktu itu masih ada pemain-pemain senior yang belum selesai makan. Sebetulnya ya enggak apa-apa masuk dan makan, tetapi pemain-pemain junior seperti saya merasa enggan.
Mantan pemain tunggal putra Indonesia, Icuk Sugiarto, memantau bakat Tri Kusharjanto sebelum masuk pelatnas PBSI. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat P.H.)
Saya sakit dan pulang ke Yogyakarta. Setelah satu bulan di kampung halaman, saya mendapat panggilan kembali ke pelatnas. Balik lagi ke pelatnas, saya memberanikan diri untuk menyatakan keinginan pindah dari sektor tunggal putra ke ganda campuran. Saya merasa ada kendala fisik, sementara main di nomor tunggal butuh kekuatan ekstra.
Pelatih saya ketika itu mas Triaji memberi waktu untuk saya memikirkan keseriusan pindah ke ganda campuran. Setelah satu bulan menimbang-nimbang, tekad saya bulat main di ganda campuran. Pelatih pun setuju, saya akhirnya pindah ke nomor ganda campuran.
Main ganda campuran bukan sesuatu yang baru bagi saya. Waktu masih di Jember saya sudah biasa di beberapa nomor yaitu main tunggal dan ganda campuran. Lagi pula saya merasa main tunggal putra dan ganda campuran itu mirip, sama-sama harus cover area yang sama luasnya.
Awal 1994 saya mulai berlatih di sektor ganda campuran. Di sektor ganda campuran ternyata ada hal lain yang tidak saya temukan seperti di tunggal putra. Di tempat yang baru ini saya merasa jadi anak tiri karena tidak mendapat tempat dan seolah-olah disingkirkan. Saya merasa ada perlakuan yang beda.
Saya ceritakan hal itu kepada kakak dan bapak. Mereka bilang kalau saya bisa melewati segala rintangan itu saya bisa menjadi nomor satu. Dari situ saya merasa terpancing.
Hal lain lagi yang membuat saya termotivasi ingin membuktikan diri adalah keberadaan atlet-atlet yang tiba-tiba latihan di pelatnas tanpa prestasi. Saya pikir kok orang itu bisa masuk ke pelatnas tanpa pernah jadi juara.
Saya pun menambah porsi latihan, dari yang tadinya tiga jam saya tambah sendiri jadi enam jam. Hasilnya saya dikirim ke kejuaraan-kejuaraan. Biarpun saya di kirim ke kejuaraan, saya tetap merasa ada yang mengganjal karena pasangan saya selalu diganti-ganti.
Sempat terbersit pikiran jelek di benak saya, mungkin ini adalah cara agar saya tidak bisa maju. Tetapi saya sadar dan segera membuang anggapan tersebut, yang penting main bagus saja.
Akhirnya pada Oktober 1994 saya dipasangkan dengan Minarti Timur. Saya jadi pasangan Minarti karena mas Joko Mardianto cedera. Mas Joko adalah partner asli Minarti. Awalnya pelatih sempat mau memasangkan Minarti dengan anak emasnya, namun Minarti menolak dan memilih saya.
Permintaan Minarti disetujui dan kami kemudian menjadi juara di Thailand dan Hong Kong, serta semifinalis di China. Itu awal karier saya melesat dan membuat nama saya begitu lengket dengan ganda campuran.
Kalau dibilang orang pertama yang menjadi spesialis ganda campuran sebenarnya sebelum saya ada beberapa pemain lain, tetapi kebetulan saya bisa langsung dapat prestasi dan konsisten.
Sampai sekarang saya bersyukur ganda campuran ini masih bisa mempertahankan tradisi lewat Nova Widianto dan Tontowi Ahmad.
Sekarang perkembangan ganda campuran bagus dan sudah dianggap setara, kalau zaman saya dulu jauh sekali perbedaannya dengan nomor-nomor lain.
Bisa dibilang ganda campuran itu adalah anak tiri. Beda dengan nomor tunggal atau ganda lainnya. Kontrak pemain ganda campuran waktu itu juga beda sendiri. Di samping itu, untuk urusan prestasi masih dipandang sebelah mata.
Kalau dalam sebuah kejuaraan, kemudian yang juara hanya ganda campuran maka itu dianggap gagal. Berbeda jika yang menjadi juara hanya dari nomor tunggal, itu malah dinilai sukses.
Makanya waktu itu pusing juga, saya juara kok masih dianggapnya gagal, hahaha.
Emas Olimpiade yang Melayang dan Juara Piala Thomas
Tri Kusharjanto mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan badminton dunia, (AFP/TORSTEN BLACKWOOD)
Kalau untuk prestasi jelas Olimpiade 2000 adalah capaian terbaik saya. Harusnya saya dapat emas waktu itu.
Dalam setahun itu kan kita harus mengumpulkan poin untuk Olimpiade. Saya dari 1999-2000 itu tak tergoyahkan, peringkat saya di puncak. Tapi memang kalau di Olimpiade itu ada saja halangan, siapa pun pernah mengalami angkernya Olimpiade.
Yang biasa juara, bisa enggak jadi juara. Begitupun sebaliknya. Yang biasanya enggak juara, malah bisa jadi juara. Olimpiade diadakan setiap empat tahun sekali dan pasti ada yang seperti itu.
Saya waktu itu berpikir optimistis saja. Tetapi ketika masuk semifinal saya sudah merasa ada yang aneh karena nyaris kalah dari pasangan Inggris Simon Archer/Joane Goode. Set pertama kalah 2-15, set kedua hampir kalah, tapi akhirnya menang 17-15, dan menang 15-11 di set ketiga.
Menang di semifinal membuat banyak orang menjagokan saya dan Minarti yang merupakan unggulan pertama. Lawan dari China, Zhang Jun/Gao Ling, itu kita bertemu kira-kira enam kali dalam satu tahun dan mereka tidak pernah bisa dapat lebih dari empat atau lima poin dalam setiap pertandingan.
Di Olimpiade 2000 ada tiga wakil Indonesia di final. Ganda campuran, ganda putra (Tony Gunawan/Chandra Wijaya), dan tunggal putra (Hendrawan). Dari tiga peluang itu, ganda campuran sudah dibilang orang-orang pasti dapat emas.
Set pertama menang 15-1. Set kedua sudah unggul 13-8 atau 13-9. Ternyata kami kekunci di angka 13 dan kalah 13-15.
Itu saya enggak habis pikir. Mungkin saya waktu itu terlalu nafsu, terlalu buru-buru, ingin cepat-cepat karena situasi pada waktu itu. Sementara lawan justru semakin yakin dan selalu bisa dapat poin. Itu lah kendala orang-orang di Olimpiade, semakin disoraki semakin nafsu. Padahal kita seharusnya mesti sabar.
Tri Kusharjanto (kiri) bersama Haryanto Arbi di kejuaraan dunia veteran. (Dok. Pribadi)
Pas rubber set game ketiga, pelatih saya kak Richard Mainaky ngomong, "Udah tahan aja, gimana caranya elo tahan aja."
Saya tahan terus dan hasilnya kalah, skor set ketiga 11-15.
Selesai pertandingan sebenarnya saya masih memiliki harapan meraih emas meskipun kalah, yaitu lewat tes doping. Saya berharap lawan enggak lolos tes doping, hahaha.
Biar bagaimana pun itu adalah harapan. Tetapi, setelah tes doping berlangsung doa saya tidak dikabulkan dan rezeki saya memang perak olimpiade.
Berat hati saya merelakan lawan mendapat emas. Tetapi memang lawan layak. Dari hari pertama mereka bermain bagus, waktu itu mereka juga mengalahkan Kim Dong Moon/Ra Kyung Min yang merupakan salah satu pasangan kuat di babak perempat final.
Saya harus ikhlas, tetapi kekalahan Olimpiade benar-benar memukul saya. Rasa penyesalan itu tetap ada bertahan di dalam diri sampai seminggu, bahkan sampai pulang ke Indonesia pun masih teringat terus. Makanya dulu itu saya malas nonton rekaman video pertandingan itu karena bikin sakit hati, hahaha.
Catatan lain di karier saya yang cukup mengesankan juga adalah di Piala Thomas 2002. Indonesia waktu itu kekurangan pemain. Kalau tidak salah waktu itu PBSI yang dipimpin pak Chairul Tanjung mau memanggil Tony Gunawan dari Amerika Serikat, namun gagal.
Kemudian saya dipanggil memperkuat tim Thomas. Saya tahun itu memang main rangkap. Selain masih main di ganda campuran bersama Emma Ermawati, juga main di ganda putra dengan mas Bambang Suprianto.
Dipanggil ke tim Thomas, saya punya prinsip. Saya di ganda campuran, sehingga kalau mau panggil saya harus bersama pasangan saya mas Bambang Suprianto. Karena saya dan mas Bambang kan bareng di ganda putra dan pada 2001 saya juga pernah juara Asia sama mas Bambang mengalahkan Tony/Candra Wijaya.
Pada saat itu pak Chairul memanggil saya dan menjelaskan bahwa tim membutuhkan saya. Saya pun mengaku siap dan tidak keberatan, tetapi dengan satu syarat asalkan pasangan saya ikut. Ternyata syarat tersebut direstui.
Untuk bermain saya tidak masalah dengan siapa pun. Siap dipasangkan dengan siapa saja. Buktinya di Thomas Cup 2002 saya dipercaya main terus dengan Halim Haryanto.
Di final, lawan Malaysia, saya juga main bareng Halim. Waktu itu posisinya di final Marleve Mainaky yang main tunggal pertama kalah, Candra Wijaya/Sigit Budiarto menang, dan Taufik kalah. Padahal Candra/Sigit dan Taufik waktu itu jadi andalan meraih poin bersama dengan Hendrawan yang main di partai kelima.
Ketika Taufik kalah, tim Malaysia unggul 2-1 dan sudah peluk-pelukan. Merasa sudah pasti menang dan pada partai keempat saya dan Halim tidak diperhitungkan melawan Choong Tan Fook/Lee Wan Wah. Saya cuma ngomong sama Halim agar tidak usah berpikir banyak yang penting main sebaik mungkin. Saya beranggapan yang penting kita berusaha dulu.
Kalau kata orang-orang, saya mainnya kayak setan pas di final. Jadi waktu itu memang saya merasa terus menerus mengejar kok, kemanapun kok diarahkan. Akhirnya kami menang dan terakhir Hendrawan menang.
Itulah catatan yang menyenangkan, saya sebagai satu-satunya pemain ganda campuran yang bisa menang Piala Thomas. Ya Alhamdulillah berarti saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepada saya.