Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak pertama kali dipertandingkan pada 1891, angkat besi jadi olahraga yang didominasi kaum pria. Butuh hampir 100 tahun agar wanita bisa ikut bersaing dalam olahraga tersebut.
Setelah melalui perjalanan panjang, angkat besi kategori wanita akhirnya melakoni debut di Olimpiade pada Olimpiade Sydney tahun 2000. Setelah momen Olimpiade Sydney itu angkat besi meluas ke banyak negara di dunia.
Meski demikian, di beberapa negara, kaum wanita masih kurang terwakili dalam dunia olahraga, terutama di kalangan komunitas Asia dan Muslim. Aturan berpakaian seorang atlet pun kemudian berdasarkan pakem-pakem yang sudah ada sebelumnya. Belum ada aturan khusus soal penggunaan hijab bagi atlet angkat besi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada masa-masa itulah Kulsoom Abdullah hadir. Kulsoom Abdullah merupakan atlet angkat besi wanita berdarah Pakistan Amerika Serikat. Kedua orang tuanya berasal dari Pakistan, namun dia lahir di Amerika Serikat.
Lewat keberaniannya, Kulsoom Abdullah bisa mengubah aturan di dunia angkat besi yang awalnya melarang penggunaan jilbab kini jadi diperbolehkan.
Dikutip dari Buzz, saat menggeluti angkat besi, di turnamen tingkat lokal Kulsoom tidak memiliki persoalan dengan pakaiannya yang mengenakan lengan panjang, celana panjang, dan kerudung.
Akan tetapi, ketika pencapaiannya meningkat hingga Kejuaraan Nasional di Amerika Serikat, pakaian yang dikenakannya itu mulai dianggap masalah.
Dalam laporan VOA, pada 2010 Kulsoom bisa tampil di Kejuaraan Nasional Angkat Besi Amerika Serikat. Namun dia memilih tidak tampil karena pakaian yang selama ini membuatnya tertutup dari ujung kepala hingga kaki tidak diizinkan panitia pelaksana.
"Di kejuaraan nasional semua orang memakai apa yang disebut singlet. Ini adalah setelan ketat dan harus dipotong di atas lutut dan siku," ujar Kulsoom dikutip dari Buzz.
"Singlet jelas tidak memiliki kerudung dan lengan yang [biasa] saya pakai. Mereka [Angkat Besi AS] mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ada orang yang meminta untuk diakomodasi untuk bisa tampil di tingkat nasional," ucap Kulsoom menambahkan.
Penyelenggara hanya memperkenankan peserta menggunakan baju singlet ketat dengan lengan pendek dan celana pendek yang membuat sebagian besar lengan dan kaki terbuka, sehingga juri bisa melihat apakah lengan dan lutut terkunci ketika melakukan angkatan.
 Kulsoom Abdullah tidak saja tampil di kejuaraan lokal maupunnasional, tetapi juga di level internasional. (Tangkapan layar facebook LiftingCovered) |
Hal itu menjadi syarat penilaian dalam kompetisi angkat besi. Salah satu tujuannya adalah, agar wasit bisa melihat peserta tidak menekuk siku, berdiri dengan tegak, dan juga memastikan tidak ada peralatan lain yang dipakai sehingga meningkatkan performa seorang lifter secara tidak adil.
Dari situasi tersebut, awal cerita Kulsoom Abdullah memperjuangkan hijab agar bisa digunakan di kejuaraan resmi angkat besi dimulai.
Wanita kelahiran Kansas City itu lalu meminta Federasi Angkat Besi Amerika Serikat mengubah aturan pakaian yang memungkinkannya penggunaan hijab di kejuaraan angkat besi.
Hanya saja angkat besi AS menolak permintaan tersebut, dan menyarankan Kulsoom membawa masalah ini ke Federasi Angkat Besi Internasional (IWF).
[Gambas:Video CNN]
Penolakan Federasi Angkat Besi AS membuat Kulsoom mendapatkan perhatian dari media nasional dan internasional.
Lewat media sosial, teman-teman Kulsoom bergerak mengampanyekan masalah kesetaraan itu. Berkat bantuan dari Dewan Hubungan Islam Amerika Serikat, Kulsoom menggelar konferensi pers.
Kampanye Kulsoom itu akhirnya membuat IWF meninjau permintaannya. Kepada IWF, Kulsoom berargumen, bahwa pakaian yang tertutup dari kepala hingga kaki tidak akan memengaruhi keputusan wasit dalam memberikan penilaian.
Meski demikian, dalam pandangan Kulsoom, kasusnya ramai bukan karena kemampuannya dalam angkat besi, melainkan cara berpakaiannya yang sebagai Muslim berhijab.
"Pada awalnya yang membuat saya mendapat sorotan adalah karena pakaian saya, bukan keahlian saya. Melihat seorang wanita bertutup kepala hingga ujung kaki berpartisipasi dalam olahraga seperti angkat besi dianggap agak tidak biasa oleh media," ucap Kulsoom kepada VOA.
Usaha Kulsoom membuahkan hasil. Federasi Angkat Besi AS dan IWF mengubah aturan mereka, sehingga memungkinkan Kulsoom dan atlet wanita lain berkompetisi dengan berhijab.
Pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2011 di Paris Prancis, Kulsoom yang mewakili Pakistan menjadi lifter wanita pertama di level internasional yang menggunakan hijab.
"Dalam kasus saya, dan bukan hanya untuk saya, kendalanya adalah bisa bersaing sambil mematuhi kode berpakaian agama saya, yang ada di sini di AS," ucap Kulsoom.
"Pakaian juga bisa menjadi kendala tambahan bagi wanita di negara mayoritas Muslim, seperti Arab Saudi, Qatar dan Oman [yang pertama kali mengirim atlet wanita ke Olimpiade 2012]," kata Kulsoom menambahkan.
Karier Kulsoom diangkat besi berlanjut pada 2012 dengan mengikuti Kejuaraan Angkat Besi Asia di Korea Selatan.
Kulsoom kemudian absen pada kejuaraan di internasional selama periode 2013, namun tetap aktif di kompetisi lokal.
Saat ini Kulsoom masih bekerja sebagai duta atlet di Shirzanan, kelompok advokasi olahraga dan wanita Muslim.
Kulsoom Abdullah Tak Berniat Jadi Atlet
(Tangkapan layar instagram @kbak76)
Sebagai seorang atlet, Kulsoom Abdullah terbilang sangat terlambat dalam menggeluti dunia angkat besi. Kulsoom mulai mendalami dunia angkat beban ini ketika dewasa, tepatnya di awal usia 20-an.
Hal tersebut terjadi lantaran semasa kecil Kulsoom kurang mendapat contoh dan minimnya fasilitas olahraga. Selain itu, orang tuanya juga berasal dari daerah yang sangat konservatif di Pakistan.
"Ketika masih kecil, saya tidak tahu apa itu angkat besi. [Saya] tidak memiliki panutan atau pikiran, saya bisa menjadi atlet, saya tidak pernah berambisi di olahraga," ucap Kulsoom dikutip dari Metro.
"Saya tertarik pada angkat besi di kemudian hari, ketika saya masih di sekolah Pascasarjana," tutur Kulsoom menambahkan.
Ketika itu, dia bertemu dengan teman kuliahnya yang berasal dari Jerman yang mengajaknya mengikuti kelas taekwondo. Instruktur di kelas taekwondo itu tidak mempersoalkan Kulsoom yang mengenakan jilbab.
Di taekwondo, Kulsoom bisa memiliki sabuk hitam. Dia menyukai olahraga yang berasal dari Korea Selatan itu karena bisa menghilangkan stres.
Setelah mahir di taekwondo, Kulsoom ingin mencari pengalaman baru di olahraga yang bisa lebih meningkatkan daya tahan dan kekuatannya.
Dalam pencariannya itu, Kulsoom kesulitan menemukan referensi serta rekan sesama wanita yang menggeluti latihan kekuatan. Akhirnya, Kulsoom belajar latihan kekuatan tersebut secara otodidak.
Kulsoom merasakan tantangan yang berbeda ketika menyeimbangkan olahraga dengan pendidikannya semasa mengejar gelar PhD atau doktor di Institut Teknologi Georgia. Usai menyelesaikan PhD itu Kulsoom menemukan angkat besi.
"Saya pikir, ini [angkat besi] akan jadi tantangan yang menarik, karena memiliki elemen waktu dan kecepatan yang berbeda," tutur Kulsoom.
"Saya menemukan pusat kebugaran CrossFit dan ada pelatih angkat besi Olimpiade yang mengajari saya. Lalu mereka terus berusaha meyakinkan saya berkompetisi di tingkat lokal. Akhirnya setelah dua tahun, saya setuju dan tampil di kompetisi pertama saya," ujar Kulsoom melanjutkan.
Di kalangan komunitas Muslim, angkat besi merupakan olahraga yang tidak lazim. Tetapi keluarganya mendukung kegiatannya itu dan mendorongnya mengikuti kejuaraan.
"[Di pusat kebugaran] saya biasa ditanya, apakah saya kepanasan karena pakai jilbab. Jawabannya iya, biasanya saat musim panas, dan tidak ada AC, tapi di musim dingin saya baik-baik saja," kata Kulsoom.
[Gambas:Instagram]
Bagi Kulsoom Abdullah, bisa membuat perubahan di dunia angkat besi merupakan hal yang tidak disengaja. Kulsoom hanya mengikuti arus. Pelarangan jilbab dalam angkat besi ketika itu dianggapnya sebagai masalah yang perlu diselesaikan.
"Rasanya saya tidak benar-benar melakukan sesuatu yang luar biasa, karena saya hanya mencoba dapat melakukan sesuatu yang saya minati, tentunya tidak mengkompromikan nilai-nilai dan keyakinan saya."
"Masih sulit untuk percaya bahwa saya telah melakukan sesuatu yang mempengaruhi banyak wanita lain di seluruh dunia," ucap Kulsoom.
Meski tidak lagi menjadi atlet angkat besi profesional, namun Kulsoom masih menekuni olahraga tersebut dan juga taekwondo dalam kesehariannya. Hal itu terlihat dari rutinnya unggahan Kulsoom melalui Instagram miliknya.
"Saat ini, bekerja di industri lebih fleksibel daripada di kampus, jadi saya menganggap angkat beban sebagai bagian dari rutinitas saya menjaga diri sendiri," Kulsoom menjelaskan.
Tidak banyak pencapaian yang diraih Kulsoom Abdullah di angkat besi. Akan tetapi, Kulsoom akan selalu dikenang sebagai pemenang sejati, terutama bagi lifter wanita Muslim, karena mengubah sejarah angkat besi selamanya.
Kemenangan Kulsoom dengan mengubah peraturan di IWF membuka peluang bagi atlet wanita Muslim lainnya yang ingin mencoba angkat besi.
"Islam sering disalahartikan di media, tapi apa yang hebat dalam kasus saya adalah, itu membantu saya membuat perubahan," tutur Kulsoom.
[Gambas:Video CNN]