Zahra Lari, Wujud Keindahan Hijab di Seluncur Indah
CNN Indonesia
Jumat, 07 Mei 2021 15:53 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Zahra Lari jadi pembuka jalan hijab digunakan di kompetisi resmi seluncur indah. (AFP/ANDREA SOLERO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Film 'Ice Princess' yang merupakan produksi Disney pada 2005 memperkenalkan Zahra Lari dengan ice skating (seluncur es) atau dalam bahasa olahraga disebut figure skating (seluncur indah).
Lewat film berdurasi 98 menit itu Zahra langsung jatuh cinta dengan seluncur indah. Dia pun meminta ayahnya, Fadhel mengizinkannya bermain seluncur es untuk bersenang-senang.
"Saya menonton 'The Ice Princess' lebih dari 100 kali, saya menyukai itu. Saya bilang pada diri sendiri, itulah yang saya inginkan," ujar Zahra dikutip dari Al Arabiya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keinginan Zahra itu sempat membuat keluarganya bingung. Dia lahir dan besar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, negara yang gersang dan panas. Tetapi Zahra justru menyukai olahraga yang identik dengan salju serta musim dingin tersebut.
Beruntung pada momen 2007 atau saat Zahra berusia 12, di Abu Dhabi terdapat satu-satunya gelanggang es, yaitu di Zayed Sports City. Mulai sejak itu Zahra menekuni seluncur indah, tentunya tetap dengan mengenakan hijab.
Zahra Lari seperti memiliki bakat alami di seluncur indah. Hanya dalam tiga tahun berlatih, Zahra bisa menguasai teknik triple jump layaknya peseluncur profesional. Teknik yang umumnya bisa dimiliki setelah 10 tahun berlatih.
Dengan kemampuannya itu Zahra membuktikan tidak ada kata terlambat. Ketika anak-anak lain mulai mengenai seluncur es di usia tiga atau empat tahun, Zahra justru telat 10 tahun. Tetapi lewat tekad yang kuat, Zahra memberikan pengalaman baru.
Akan tetapi, setelah makin mahir di seluncur indah, tantangan yang dihadapi Zahra justru lebih besar. Di kompetisi internasional, Zahra tidak saja harus melawan bakat-bakat para pesaingnya, tetapi juga peraturan yang menilai hijab membahayakan atlet seluncur indah.
Zahra Lari mendapat pengurangan poin dari juri karena jilbab dan kostum yang dikenakannya. (AFP PHOTO / Andrea Solero)
Peristiwa tersebut terjadi ketika tampil di European Cup 2012 di Canazei, Italia. Di ajang itu, Zahra tidak saja menjadi atlet Timur Tengah pertama yang tampil di kompetisi internasional, tetapi juga yang mengenakan hijab.
Zahra sadar, sebagai Muslim yang taat, dia tidak perlu keluar dari koridor agama demi segala mimpinya di seluncur indah.
"Saya berseluncur dengan hijab. Kostum saya sesuai dengan tradisi Islam," kata Zahra.
Hanya saja, di luar rekor-rekor positifnya itu, Zahra juga mendapatkan pengurangan poin karena kostum dan hijab yang dikenakannya. Dalam turnamen seluncur indah, pengurangan poin biasanya diberikan ketika rok yang dikenakan terlalu pendek atau terdapat aksesori yang jatuh.
"Saya tidak kesal atau marah. Saya hanya tahu, saya harus melakukan sesuatu agar tidak terjadi lagi pada saya atau siapa pun yang ingin tetap tertutup," ucap Zahra dikutip dari Middle East Monitor.
"Untuk mewujudkan itu, kami harus bertemu dengan pejabat yang ingin melihat saya berseluncur dengan hijab untuk memastikan itu tidak berbahaya," kata Zahra menambahkan.
Usai insiden di Canazei, Zahra melakukan banding ke International Skating Union (ISU). Zahra mengampanyekan agar ISU mengubah aturan soal penggunaan hijab di ajang resmi tersebut.
"Kepala Pengembangan ISU pada saat itu meminta bertemu dengan saya saat saya di Hungaria. Dia ingin melihat penggunaan jilbab, dan memahami betapa amannya di atas es," tutur Zahra.
Upaya Zahra membuahkan hasil. Menurut laporan CNN, saat Kejuaraan Nebelhorn Trophy di Jerman pada September 2017, panitia menginstruksikan untuk tidak menganggap jilbab melanggar Aturan 501 dari Aturan Teknis ISU tentang pakaian.
"Tanpa hijab, saya tidak akan menjadi Zahra Lari. Jilbab adalah bagian dari diri saya. Pertama kali saya berkompetisi dengan mengenakan hijab, saya tidak terlalu memikirkannya. Itu membuat saya berbeda. Saya masih muda dan fokus pada kompetisi," ucap Zahra.
Setelah hijab tidak lagi menjadi isu panas di olahraga seluncur indah, Zahra bersyukur banyak hal berubah dalam dunia olahraga soal penggunaan kerudung bagi atlet wanita Muslim.
Saat ini Zahra tidak saja bermimpi berprestasi di Olimpiade Musim Dingin, tetapi juga melihat banyak wanita dari Timur Tengah berpartisipasi di ajang olahraga tertinggi.
"Saya hanya mencoba menunjukkan kepada dunia, saya tertutup, tetapi saya [masih] bisa melakukan apa yang saya sukai dan melakukannya di tingkat internasional," kata Zahra.
"Jadi, itulah pesan utama yang ingin saya sampaikan kepada para perempuan, jangan biarkan apa pun menghentikan Anda melakukan yang Anda sukai, terutama karena Anda tertutup," ujar Zahra melanjutkan.
Sebelum mencapai kesuksesan saat ini, keinginan Zahra Lari menekuni seluncur indah sempat ditentang pihak keluarga.
Ayahnya, Fadhel adalah orang pertama yang melarang Zahra terjun di seluncur es karena dianggap bertentangan dengan tradisi dan budaya di Uni Emirat Arab. Menurut Zahra, seorang wanita berkompetisi di olahraga bukan sesuatu yang umum.
Di negara Muslim yang konservatif seperti Uni Emirat Arab, wanita diharapkan mengenakan pakaian tertutup, umumnya berjubah lebar dan berkerudung di depan umum.
Sementara, Zahra melakoni rutinitas di seluncur indah dengan pakaian ketat di hadapan para pria. Hal itu bukan tugas mudah bagi wanita kelahiran Abu Dhabi tersebut dan keluarganya.
Pada awal-awal keterlibatannya di seluncur es, Zahra memutuskan tidak terlalu serius dan absen dalam sejumlah pertandingan. Hal itu dilakukan agar tidak menganggu pikiran ayahnya.
"Sebagai sebuah keluarga, kami pergi ke pertandingan hanya untuk menghibur teman-teman saya yang bertanding," ujar Zahra dikutip dari CNN.
Menurut laporan Kcrush, Fadhel memiliki alasan kuat melarang Zahra mendalami seluncur indah. Dijelaskan Zahra, ayahnya tidak ingin putrinya mendapat omongan miring dari masyarakat.
Kekhawatiran ayahnya terbukti, Zahra mendapatkan beberapa cemoohan lewat komentar di YouTube. Warganet tersebut menyatakan Zahra melakukan sesuatu yang haram dan dosa.
Zahra Lari selalu bangun sangat pagi untuk bisa berlatih seluncur indah. (AFP PHOTO / Andrea Solero)
Hanya saja, hati Fadhel akhirnya luluh ketika mengantar Zahra memberikan dukungan kepada teman-temannya yang berkompetisi.
"Dia [ayah] bisa melihat, meskipun saya menyemangati teman-teman yang bertanding, saya sedih, dan itu menghancurkan hatinya," ucap Zahra.
Sejak itu, Fadhel mengizinkan Zahra berlatih penuh dan berkompetisi di seluncur indah, sekaligus menjadi suporter setia wanita kelahiran Abu Dhabi tersebut.
"Ayah seperti bilang, 'Kamu tahu apa? Lupakan apa yang dikatakan orang-orang di tempat kerja. Lupakan tentang siapa pun yang bicara'. Dia juga bilang, 'Saya tahu itu adalah sesuatu yang kamu cintai. Kami tidak salah. Lalu kenapa tidak? Pergilah dan bekerja keras," kata Zahra menirukan ucapan Fadhel.
Zahra menuturkan, di tempat kerja ayahnya di bidang telekomunikasi, banyak orang mempertanyakan keputusannya mengizinkan Zahra tampil di seluncur indah.
"Tapi, dia mengabaikannya. Ayah seperti tidak peduli dengan yang mereka katakan. 'Saya ayahmu. Saya menginginkan yang terbaik lebih dari siapa pun. Dan jika saya tahu ini adalah sesuatu yang salah, saya tidak akan membiarkan kamu melakukannya'," Zahra menjelaskan.
Sementara itu ibunya, Roquiya Cochran, selain menjadi manajer, juga seperti sandaran dan orang yang selalu memberikan dukungan penuh kepada Zahra.
Bahkan, saat ini keluarga Zahra memiliki klub seluncur, Emirates Skating Klub yang didirikan oleh ayahnya, sedangkan ibunya Roquiya sebagai CEO klub tersebut.
Dukungan penuh keluarga dibayar Zahra dengan kerja keras. Selama enam hari dalam seminggu Zahra selalu bangun pada pukul 4:30 untuk berlatih.
Pada sesi pagi, Zahra berlatih hingga pukul 7:30, dilanjutkan dengan kuliah di Universitas Abu Dhabi jurusan kesehatan dan keamanan lingkungan.
"Pukul 16:00 saya kembali latihan sekitar satu setengah jam. [Kebiasaan] itu tidak sulit, saya menyukai itu, dan saya ingin sukses," kata Zahra dikutip dari Al Arabiya.
Zahra adalah perwujudan cinta sebenarnya terhadap seluncur indah. Meski masih memiliki karier yang panjang, namun Zahra sudah memantapkan diri menjadi pelatih seluncur di masa depan dibandingkan bekerja di kantoran.
"Saya katakan kepada wanita UEA untuk mengikuti impian mereka dan mencoba menemukan hal yang benar-benar mereka sukai dan memberikannya 100 persen," tutur Zahra kepada National.
Jakarta, CNN Indonesia --
Film 'Ice Princess' yang merupakan produksi Disney pada 2005 memperkenalkan Zahra Lari dengan ice skating (seluncur es) atau dalam bahasa olahraga disebut figure skating (seluncur indah).
Lewat film berdurasi 98 menit itu Zahra langsung jatuh cinta dengan seluncur indah. Dia pun meminta ayahnya, Fadhel mengizinkannya bermain seluncur es untuk bersenang-senang.
"Saya menonton 'The Ice Princess' lebih dari 100 kali, saya menyukai itu. Saya bilang pada diri sendiri, itulah yang saya inginkan," ujar Zahra dikutip dari Al Arabiya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keinginan Zahra itu sempat membuat keluarganya bingung. Dia lahir dan besar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, negara yang gersang dan panas. Tetapi Zahra justru menyukai olahraga yang identik dengan salju serta musim dingin tersebut.
Beruntung pada momen 2007 atau saat Zahra berusia 12, di Abu Dhabi terdapat satu-satunya gelanggang es, yaitu di Zayed Sports City. Mulai sejak itu Zahra menekuni seluncur indah, tentunya tetap dengan mengenakan hijab.
Zahra Lari seperti memiliki bakat alami di seluncur indah. Hanya dalam tiga tahun berlatih, Zahra bisa menguasai teknik triple jump layaknya peseluncur profesional. Teknik yang umumnya bisa dimiliki setelah 10 tahun berlatih.
Dengan kemampuannya itu Zahra membuktikan tidak ada kata terlambat. Ketika anak-anak lain mulai mengenai seluncur es di usia tiga atau empat tahun, Zahra justru telat 10 tahun. Tetapi lewat tekad yang kuat, Zahra memberikan pengalaman baru.
Akan tetapi, setelah makin mahir di seluncur indah, tantangan yang dihadapi Zahra justru lebih besar. Di kompetisi internasional, Zahra tidak saja harus melawan bakat-bakat para pesaingnya, tetapi juga peraturan yang menilai hijab membahayakan atlet seluncur indah.
Zahra Lari mendapat pengurangan poin dari juri karena jilbab dan kostum yang dikenakannya. (AFP PHOTO / Andrea Solero)
Peristiwa tersebut terjadi ketika tampil di European Cup 2012 di Canazei, Italia. Di ajang itu, Zahra tidak saja menjadi atlet Timur Tengah pertama yang tampil di kompetisi internasional, tetapi juga yang mengenakan hijab.
Zahra sadar, sebagai Muslim yang taat, dia tidak perlu keluar dari koridor agama demi segala mimpinya di seluncur indah.
"Saya berseluncur dengan hijab. Kostum saya sesuai dengan tradisi Islam," kata Zahra.
Hanya saja, di luar rekor-rekor positifnya itu, Zahra juga mendapatkan pengurangan poin karena kostum dan hijab yang dikenakannya. Dalam turnamen seluncur indah, pengurangan poin biasanya diberikan ketika rok yang dikenakan terlalu pendek atau terdapat aksesori yang jatuh.
"Saya tidak kesal atau marah. Saya hanya tahu, saya harus melakukan sesuatu agar tidak terjadi lagi pada saya atau siapa pun yang ingin tetap tertutup," ucap Zahra dikutip dari Middle East Monitor.
"Untuk mewujudkan itu, kami harus bertemu dengan pejabat yang ingin melihat saya berseluncur dengan hijab untuk memastikan itu tidak berbahaya," kata Zahra menambahkan.
Usai insiden di Canazei, Zahra melakukan banding ke International Skating Union (ISU). Zahra mengampanyekan agar ISU mengubah aturan soal penggunaan hijab di ajang resmi tersebut.
"Kepala Pengembangan ISU pada saat itu meminta bertemu dengan saya saat saya di Hungaria. Dia ingin melihat penggunaan jilbab, dan memahami betapa amannya di atas es," tutur Zahra.
Upaya Zahra membuahkan hasil. Menurut laporan CNN, saat Kejuaraan Nebelhorn Trophy di Jerman pada September 2017, panitia menginstruksikan untuk tidak menganggap jilbab melanggar Aturan 501 dari Aturan Teknis ISU tentang pakaian.
"Tanpa hijab, saya tidak akan menjadi Zahra Lari. Jilbab adalah bagian dari diri saya. Pertama kali saya berkompetisi dengan mengenakan hijab, saya tidak terlalu memikirkannya. Itu membuat saya berbeda. Saya masih muda dan fokus pada kompetisi," ucap Zahra.
Setelah hijab tidak lagi menjadi isu panas di olahraga seluncur indah, Zahra bersyukur banyak hal berubah dalam dunia olahraga soal penggunaan kerudung bagi atlet wanita Muslim.
Saat ini Zahra tidak saja bermimpi berprestasi di Olimpiade Musim Dingin, tetapi juga melihat banyak wanita dari Timur Tengah berpartisipasi di ajang olahraga tertinggi.
"Saya hanya mencoba menunjukkan kepada dunia, saya tertutup, tetapi saya [masih] bisa melakukan apa yang saya sukai dan melakukannya di tingkat internasional," kata Zahra.
"Jadi, itulah pesan utama yang ingin saya sampaikan kepada para perempuan, jangan biarkan apa pun menghentikan Anda melakukan yang Anda sukai, terutama karena Anda tertutup," ujar Zahra melanjutkan.
Zahra Mendobrak Budaya Konservatif di UEA
Zahra Lari mendapat dukungan penuh keluar dalam menekuni seluncur indah. (AFP/CHRISTOF STACHE)
Sebelum mencapai kesuksesan saat ini, keinginan Zahra Lari menekuni seluncur indah sempat ditentang pihak keluarga.
Ayahnya, Fadhel adalah orang pertama yang melarang Zahra terjun di seluncur es karena dianggap bertentangan dengan tradisi dan budaya di Uni Emirat Arab. Menurut Zahra, seorang wanita berkompetisi di olahraga bukan sesuatu yang umum.
Di negara Muslim yang konservatif seperti Uni Emirat Arab, wanita diharapkan mengenakan pakaian tertutup, umumnya berjubah lebar dan berkerudung di depan umum.
Sementara, Zahra melakoni rutinitas di seluncur indah dengan pakaian ketat di hadapan para pria. Hal itu bukan tugas mudah bagi wanita kelahiran Abu Dhabi tersebut dan keluarganya.
Pada awal-awal keterlibatannya di seluncur es, Zahra memutuskan tidak terlalu serius dan absen dalam sejumlah pertandingan. Hal itu dilakukan agar tidak menganggu pikiran ayahnya.
"Sebagai sebuah keluarga, kami pergi ke pertandingan hanya untuk menghibur teman-teman saya yang bertanding," ujar Zahra dikutip dari CNN.
Menurut laporan Kcrush, Fadhel memiliki alasan kuat melarang Zahra mendalami seluncur indah. Dijelaskan Zahra, ayahnya tidak ingin putrinya mendapat omongan miring dari masyarakat.
Kekhawatiran ayahnya terbukti, Zahra mendapatkan beberapa cemoohan lewat komentar di YouTube. Warganet tersebut menyatakan Zahra melakukan sesuatu yang haram dan dosa.
Zahra Lari selalu bangun sangat pagi untuk bisa berlatih seluncur indah. (AFP PHOTO / Andrea Solero)
Hanya saja, hati Fadhel akhirnya luluh ketika mengantar Zahra memberikan dukungan kepada teman-temannya yang berkompetisi.
"Dia [ayah] bisa melihat, meskipun saya menyemangati teman-teman yang bertanding, saya sedih, dan itu menghancurkan hatinya," ucap Zahra.
Sejak itu, Fadhel mengizinkan Zahra berlatih penuh dan berkompetisi di seluncur indah, sekaligus menjadi suporter setia wanita kelahiran Abu Dhabi tersebut.
"Ayah seperti bilang, 'Kamu tahu apa? Lupakan apa yang dikatakan orang-orang di tempat kerja. Lupakan tentang siapa pun yang bicara'. Dia juga bilang, 'Saya tahu itu adalah sesuatu yang kamu cintai. Kami tidak salah. Lalu kenapa tidak? Pergilah dan bekerja keras," kata Zahra menirukan ucapan Fadhel.
Zahra menuturkan, di tempat kerja ayahnya di bidang telekomunikasi, banyak orang mempertanyakan keputusannya mengizinkan Zahra tampil di seluncur indah.
"Tapi, dia mengabaikannya. Ayah seperti tidak peduli dengan yang mereka katakan. 'Saya ayahmu. Saya menginginkan yang terbaik lebih dari siapa pun. Dan jika saya tahu ini adalah sesuatu yang salah, saya tidak akan membiarkan kamu melakukannya'," Zahra menjelaskan.
Sementara itu ibunya, Roquiya Cochran, selain menjadi manajer, juga seperti sandaran dan orang yang selalu memberikan dukungan penuh kepada Zahra.
Bahkan, saat ini keluarga Zahra memiliki klub seluncur, Emirates Skating Klub yang didirikan oleh ayahnya, sedangkan ibunya Roquiya sebagai CEO klub tersebut.
Dukungan penuh keluarga dibayar Zahra dengan kerja keras. Selama enam hari dalam seminggu Zahra selalu bangun pada pukul 4:30 untuk berlatih.
Pada sesi pagi, Zahra berlatih hingga pukul 7:30, dilanjutkan dengan kuliah di Universitas Abu Dhabi jurusan kesehatan dan keamanan lingkungan.
"Pukul 16:00 saya kembali latihan sekitar satu setengah jam. [Kebiasaan] itu tidak sulit, saya menyukai itu, dan saya ingin sukses," kata Zahra dikutip dari Al Arabiya.
Zahra adalah perwujudan cinta sebenarnya terhadap seluncur indah. Meski masih memiliki karier yang panjang, namun Zahra sudah memantapkan diri menjadi pelatih seluncur di masa depan dibandingkan bekerja di kantoran.
"Saya katakan kepada wanita UEA untuk mengikuti impian mereka dan mencoba menemukan hal yang benar-benar mereka sukai dan memberikannya 100 persen," tutur Zahra kepada National.