Nadiem, yang hadir dalam acara Dialog Komunitas Kreatif dengan Presiden Republik Indonesia, berpandangan bahwa lima sampai sepuluh tahun ke depan, profesi yang akan banyak dibutuhkan adalah pemrogram peranti lunak.
Aplikasi yang dibangun oleh anak Indonesia dinilai Nadiem tidak hanya untuk mencari laba, melainkan juga memberikan dampak sosial yang sangat tinggi. Untuk mendukung itu, ucap dia, harus ada pembuatan dan perbaikan dari sisi regulasi pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Menkominfo Nilai Perlu Siapkan Aturan untuk Gojek dan Uber
Oleh sebab itu, pemerintah dan investor diharapkan mampu memajukan atau memberi pendanaan terhadap perusahaan berbasis digital.
Mendengar masukan Nadiem itu, Presiden Jokowi langsung menyela diskusi, "Gojek masih kejar-kejaran sama ojek ya?"
Meski demikian, Jokowi berpandangan bahwa masih banyak sekali desa dan kecamatan yang pedagangnya, nelayannya, dan petaninya, tidak bisa dikoneksikan dengan aplikasi pendukung. Padahal, menurut dia, banyak petani dan nelayan yang sudah memiliki ponsel canggih.
"Hampir semuanya pegang handphone, sampai mungkin aplikasi untuk mengetahui cuaca atau tempat ikan di mana. Petani juga bisa diinfokan setiap hari yang hubungan dengan penanaman dan yang berkaitan dengan harga, misalnya. Semua bisa tahu dalam detik yang sama," kata dia.
Ia berharap, aplikasi-aplikaai seperti itulah yang nantinya bisa membantu rakyat kecil agar bisa meningkatkan pendapatannya. "Tahun 1980-an kita tahu harga cabai dari radio, saya kira seperti ini bisa diubah dengan aplikasi, agar semua yang bisa berhubungan dengan ekonomi kecil bisa diangkat lewat kreativitas yang ada," ujar Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini pun menyampaikan, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyiapkan sebuah roadmap tentang bagaimana pengembangan e-commerce di masa depan.
"Saya sudah janji pada Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) untuk anggaran akan kami berikan dukungan penuh agar bisa betul-betul memberikan manfaat buat kita semua," kata dia. (adt)