Meet the Geek

Garuda Sugardo, Mimpi Mustahil Agar Tukang Sayur Pakai Ponsel

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Senin, 17/12/2018 14:06 WIB
Garuda Sugardo mengembangkan sistem seluler GSM pertama di Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Ervina Anggraini)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak bergabung bersama PT Telkom Indonesia (d/h Perumtel) pada tahun 1977, Garuda Sugardo memendam mimpi kelak layanan telekomunikasi bisa dinikmati tukang sayur dan sopir ojek. Selepas lulus dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Garuda secara perlahan mulai membangun mimpinya itu menjadi nyata.

Saat ditempatkan di Laboratorium Telegraf, Puslitbang Perumtel, ia ditempatkan di 'unit gersang' dengan berhasil mengeskalasi sistem telegrafi menjadi komunikasi data. Berkat jasanya, ia kemudian diangkat menjadi Kepala Labkomdata dan mengabdi selama 12 tahun. Ia juga berhasil mengembangkan sistem Packet Satellite Data Network (Packsatnet) dan Sistem Komunikasi Data Paket (SKDP).

Garuda menuturkan ada kisah tersendiri yang membuatnya lebih memilih unit sistem telegrafi ketimbang unit kerja favorit seperti transmisi satelit, microwave, sentral telepon atau jaringan kabel.


"Kerjaan begini membosankan dan saya tidak suka rutinitas, saya lebih suka sesuatau yang menantang makanya saya lebih memilih sistem telegrafi," ujarnya saat diwawancara CNNIndonesia.com.

Ketertarikan Garuda di ranah jaringan sudah terlihat dari hobinya 'ngoprek' peralatan elektronik dan main pemancar radio amatir sejak duduk di SMAN 8 Jakarta. Saat itu ia bekerja paruh waktu sebagai tukang bantu di sebuah bengkel mobil bekas di Kampung Melayu, Jakarta Selatan.

Di tahun 1989, Garuda menantang direktur utama Telkom Cacuk Sudarijanto untuk ditugaskan di Papua-- daerah yang kebanyakan dihindari oleh rekan seprofesi. Menjabat sebagai Wakil Kepala Wilayah Telekomunikasi, setahun kemudian ia diangkat menjadi Kepala Wilayah dan memberikan sentuhan teknologi di daerah yang kerap dianggap terbelakang itu.

Garuda Sugardo, Mimpi Mustahil Agar Tukang Sayur Pakai PonselBase transciever station (BTS) salah satu penunjang layanan telekomunikasi seluler. (Foto: CNN Indonesia/ Susetyo Dwi Prihadi)
Pada 1991, ia kembali ditugaskan di Kantor Pusat Telkom di Bandung sebagai Kepala Proyek Sistem Telekomunikasi Kendaraan Bergerak (STKB) selama empat tahun. Lagi-lagi ia merasa tidak berada di zona nyaman dengan jabatannya itu. Ia kemudian menyodorkan proposal studi bandung sistem seluler digital Global System for Mobile Communications (GSM) ke Eropa, Amerika, dan Hong Kong.

"Saat itu saya tidak menikmati jabatan tersebut karena bersifat rutinitas operasional yang tanpa greget dan tantangan," ucapnya.

Sekembalinya dari studi banding, pria kelahiran 4 Desember 1949 ini memimpin pilot project GSM Telkom di Batam dan Bintan. Saat itu banyak orang Singapura bisa membawa telepon dari negaranya dan menelepon dari Batam ke Singapura dengan tarif pulsa lokal.

Setelah bekerja 18 jam sehari selama 7 minggu, ia dan timnya sukses mengudarakan sinyal GSM pada 31 Desember 1993. Realisasi ini sehari lebih awal dari target agar GSM Telkom mengudara pada 1 Januari 1994.

Di hari itu, sistem seluler GSM pertama di Indonesia telah dilahirkan. Meski tak mengantongi surat kuasa dari Dirut Telkom, ia nekat mendaftarkan proyek percontohan ini ke Asosiasi GSM dengan nama layanan GSM Telkomse. Kemudian pada 26 Mei 1995 berubah menjadi PT Telkomsel.

"Dulu misinya mau menghadang dan menghalau sinyal seluler dari Singapura yang seenaknya menerobos masuk ke Batam dan Bintan. Saking herannya, bule-bule Siemens Jerman dan Ericsson sambil berujar mengatakan kami seperti menggali lubang untuk kuburan sendiri," kenangnya. (evn)
1 dari 2