Jokowinomics, Ideologi yang Jadi Bulan-bulanan
Riant Nugroho | CNN Indonesia
Kamis, 13 Agu 2015 15:20 WIB
Jokowinomics adalah konsep ekonomi yang baik dan memadai, tetapi perlu tiga ceteris paribus. Pertama, perlu tim ekonomi yang sesuai. Perombakan kabinet dinilai sudah memecahkan sampai 70% masalah. Faktor yang mengganjal adalah faktur “U”; para Menko di bidang ekonomi sudah sepuh. Jokowinomics memerlukan tim yang bekerja '24 jam' sehari. Tantangannya, bagaimana membuat para senior tersebut 'mampu'. Tim senior ekonomi yang hebat akan mampu membangun kebijakan ekonomi yang efektif, bahkan termasuk menghadapi guncangan ekonomi global dan serangan spekulan kapital. Mereka tidak harus made in USA atau UK, dan lain-lain. Yang diperlukan bukan made-in-nya, tetapi pikiran hebatnya.
Kedua, tim ekonomi teknis perlu dibantu dengan tim yang multi-talent, untuk merespons tantangan kebijakan yang multifaset. Tidak bisa tantangan keuangan dihadapi dengan cara keuangan saja, namun memerlukan cara keuangan, cara perdagangan, cara industri, dan cara kebijakan. Demikian juga halnya dengan semua kementerian di sektor ekonomi lain. Karena, hari ini tidak ada lagi kebijakan standalone di sektor ekonomi tertentu; yang ada hanya economic compound policy. Dan ini mengagendakan tugas bagi Menko Perekonomian dan tugas dari setiap menteri sektor ekonomi. Bahkan kalau perlu, tugas membuat kebijakan ekonomi bukan lagi tugas menteri, tetap Menko.
Ketiga, Jokowinomics dan Nawa Cita-nya harus menjadi sebuah konsep yang adaptif, bahkan proaktif kepada perubahan yang menjelang tanpa harus kehilangan inti konsepsinya. Jika Jokowinomics dan Nawa Cita menjadi dogma, maka dengan segera Indonesia menjadi sitting duck yang ditembaki oleh sesama ekonomi dunia, baik itu negara, pelaku ekonomi, hingga spekulan. Di sini, menjadi perlu bagi Presiden untuk membangun sebuah “koloni kebijakan ekonomi” yang menjadi sebuah charger dan bahkan oase pada saat Jokowinomic menemui kebuntuan. Bukan sebuah “organisasi kepresidenan”, tetapi sebuah “ekosistem” di mana Presiden dengan Jokowinomics-nya dapat berenang dengan leluasa.
(ded/ded)
Kedua, tim ekonomi teknis perlu dibantu dengan tim yang multi-talent, untuk merespons tantangan kebijakan yang multifaset. Tidak bisa tantangan keuangan dihadapi dengan cara keuangan saja, namun memerlukan cara keuangan, cara perdagangan, cara industri, dan cara kebijakan. Demikian juga halnya dengan semua kementerian di sektor ekonomi lain. Karena, hari ini tidak ada lagi kebijakan standalone di sektor ekonomi tertentu; yang ada hanya economic compound policy. Dan ini mengagendakan tugas bagi Menko Perekonomian dan tugas dari setiap menteri sektor ekonomi. Bahkan kalau perlu, tugas membuat kebijakan ekonomi bukan lagi tugas menteri, tetap Menko.
Ketiga, Jokowinomics dan Nawa Cita-nya harus menjadi sebuah konsep yang adaptif, bahkan proaktif kepada perubahan yang menjelang tanpa harus kehilangan inti konsepsinya. Jika Jokowinomics dan Nawa Cita menjadi dogma, maka dengan segera Indonesia menjadi sitting duck yang ditembaki oleh sesama ekonomi dunia, baik itu negara, pelaku ekonomi, hingga spekulan. Di sini, menjadi perlu bagi Presiden untuk membangun sebuah “koloni kebijakan ekonomi” yang menjadi sebuah charger dan bahkan oase pada saat Jokowinomic menemui kebuntuan. Bukan sebuah “organisasi kepresidenan”, tetapi sebuah “ekosistem” di mana Presiden dengan Jokowinomics-nya dapat berenang dengan leluasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT