“Tanpa ada subsidi yang dibayarkan oleh pihak Uber kepada manajemen taksi Express, pihak yang diuntungkan adalah Uber, sedangkan Express belum bisa menikmati hasil,” jelas Gary.
Belum lagi sejumlah masalah internal yang masih menggerogoti operator taksi kedua terbesar di Indonesia ini. Akibat persaingan tarif taksi sejak kehadiran taksi online, perusahaan berkode saham Express Transindo ini menurunkan besaran setoran harian yang harus dibayarkan supir menjadi Rp150 ribu dari yang sebelumnya Rp240 ribu karena sepinya penumpang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan berbagai permasalahan yang masih ada, pihak manajemen akan mengambil empat langkah pada tahun ini yakni memutuskan untuk menutup beberapa pool taksi yang kinerjanya tidak bagus, mengurangi jumlah karyawan, menjual aset-aset perusahaan yang layak untuk dijual serta akan melakukan restrukturisasi pinjaman.
“Melihat proyeksi kinerja Express yang belum menemukan titik cerah, Bahana merekomendasikan “Reduce” saham Express Transindo dengan target harga Rp135, dari rata-rata harga saham saat ini sebesar Rp156,” jelas Gary. (gir/gen)