ANALISIS

Menakar Target Muluk Pertumbuhan Ekonomi 2018

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 18/10/2017 12:15 WIB
Target pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 5,4 persen terbilang optimistis, mengingat realisasi sepanjang tahun 2017 cenderung stagnan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah kembali menunjukkan optimisme ekonomi untuk tahun depan. Pertumbuhan ekonomi dipatok sebesar 5,4 persen dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2018 mendatang.

Angka itu cukup optimistis, mengingat realisasi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2017 cenderung stagnan dan terpaut tipis dibanding target APBNP 2017.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2017 tercatat di angka 5,01 persen. Kondisi serupa juga terjadi di kuartal berikutnya.


Padahal, pemerintah sudah mematok target pertumbuhan ekonomi di dalam APBNP sebesar 5,2 persen.


Apalagi, di tahun depan, postur anggaran tahun depan terbilang tidak ekspansif seperti tahun ini. Hal tersebut, bisa dilihat dari defisit anggaran yang dirancang 2,19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit ini tentu lebih kecil dibanding defisit anggaran tahun ini yang disusun 2,92 persen. Besaran belanja pemerintah pastinya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, mengingat pengeluaran pemerintah merupakan satu dari komponen PDB apabila ditelisik dari pendekatan pengeluaran (expenditure approach).

Meski begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tetap optimistis pertumbuhan ekonomi bisa melejit ke angka 5,4 persen tanpa perlu menyusun anggaran yang ekspansif.

Sebab, alih-alih ekspansi fiskal, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan target pertumbuhan tahun depan perlu disokong dari investasi.


Ia melanjutkan, peran Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) seharusnya bisa bertumbuh 6,3 persen di dalam PDB tahun depan. Selain itu, porsi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) seharusnya bisa tumbuh dari posisi 14,5 persen di tahun ini ke angka 17 hingga 19 persen. Dengan demikian, angka pertumbuhan 5,4 persen bisa diraih dalam genggaman.

"Kunci utama tetap investasi. Semua negara yang ekonominya bisa tumbuh di atas 5 persen adalah investasi. Kalau dilihat, China dan India yang tumbuh di atas 6 hingga 7 persen growth-nya investasinya di atas double digit," kata Sri Mulyani.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi tak hanya bergantung dari PMTB dan ekspansi anggaran. Konsumsi rumah tangga dan ekspor netto harus diperhitungkan. Apalagi, sesuai data BPS semester kemarin, sebanyak 75,65 persen dari PDB berasal dari dua variabel tersebut.

HALAMAN :
1 2 3