Selayang Pandang Gerakan Anti-Vaksin di Dunia

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 27/11/2020 19:51 WIB
Kelompok anti-vaksin percaya bahwa vaksin justru akan menimbulkan ancaman penyakit baru. Bagaimana gerakan anti-vaksin ini dimulai? Ilustrasi. Alih-alih percaya bahwa vaksin dapat meningkatkan kekebalan tubuh, kelompok anti-vaksin justru percaya bahwa vaksin hanya akan menimbulkan penyakit lain. (AP/Ng Han Guan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dunia sedang menanti vaksin Covid-19. Di tengah penantian dan harapan miliaran penduduk Bumi itu, ada sekelompok kecil orang yang memandang vaksin ibarat ancaman dan justru menentangnya. Mereka dikenal sebagai kelompok anti-vaksin atau disebut juga anti-vaxxer.

Sejak pandemi Covid-19 menjejakkan kakinya di Bumi, vaksin disebut-sebut sebagai alat paling ampuh untuk melindungi seseorang dari penularan virus. Pada dasarnya, vaksin merupakan zat yang sengaja dibuat untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu. Pemberian vaksin membuat tubuh terlindungi dari ancaman penyakit.

Namun, sayangnya beberapa orang justru tak mempercayainya. Alih-alih percaya keampuhan vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mereka justru percaya bahwa vaksin jadi ancaman baru untuk tubuh dengan berbagai penyakit anyar yang ditimbulkan.


Rapper asal Inggris, M.I.A, sekali waktu pernah melontarkan pandangannya soal vaksin, dalam rangka penanganan Covid-19. Mengutip Vulture, meski mengklaim dirinya bukan seorang anti-vaksin, tapi dia tak setuju akan penggunaan vaksin untuk meredam pandemi.

"Jika saya harus memilih vaksin atau chip, saya akan memilih kematian," tulisnya dalam sebuah cuitan di akun Twitter-nya. Dia melanjutkan, "Anda baik-baik saja. Semua vaksin yang sudah Anda miliki sudah cukup untuk melindungi Anda."

Apa yang dilontarkan M.I.A menjadi bukti adanya ketidakpercayaan masyarakat akan urgensi pengadaan vaksin untuk mengatasi pandemi yang sudah berlangsung hampir satu tahun ini.

Tapi, tak cuma vaksin Covid-19, kelompok anti-vaxxer menantang segala vaksin yang ada. Di tengah pandemi ini, mereka kian gencar menyuarakan pendapatnya soal vaksin. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan percaya bahwa akan ada sebuah chip yang disisipkan dalam vaksin, yang dapat membuat penerimanya jatuh sakit.

Tak cuma itu, mengutip AFP, mereka juga menyebut bahwa zat seperti fenoksoetanol dan kalium klorida yang dipercaya ditemukan dalam vaksin merupakan racun berbahaya untuk tubuh. Mereka juga menuding bahwa pandemi Covid-19 hanya-lah situasi yang sengaja dirancang oleh pemerintah.

Retorika anti-vaksin bukan-lah hal baru. Sejak berabad-abad lalu, kelompok anti-vaksin telah eksis meramaikan perdebatan soal vaksin itu sendiri. Ramainya anti-vaksin membuat tingkat kepercayaan masyarakat akan vaksin menjadi rendah.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Welcome Trust, organisasi nirlaba asal Inggris yang bergerak di bidang kesehatan, pada 2019 lalu, menemukan tingkat ketidakpercayaan terhadap vaksin yang cukup tinggi di beberapa wilayah. Mereka melakukan observasi terhadap 140 ribu orang di lebih dari 140 negara.

Ketidakpercayaan terhadap vaksin ditemukan tumbuh subur di belahan Bumi bagian barat, seperti di beberapa wilayah Eropa dan Amerika Utara. Kebalikan dari itu, ketidakpercayaan terhadap vaksin justru ditemukan rendah atau bahkan tak terlihat di wilayah Asia dan Afrika.

Lantas, sejak kapan kelompok anti-vaksin ini mulai meneriakkan penentangannya? Apa yang membuat mereka tak percaya akan vaksin?

Awal Mula Munculnya Kelompok Anti-Vaksin

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK